Rabu, 01 Januari 2020

Menata Kembali Kometmen Berbahasa Indonesia

Judul Buku : Kreatif Berbahasa Indonesia
Penulis : Trisna Andarwulan, dkk
Penerbit : Rosda Karya
Cetakan : 1. 2019
Tebal : 162 Halaman
ISBN : 978-602-446-366-3
Peresensi         : Ahmad Wiyono

Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan yang mampu menyamakan persepsi seluruh bangsa Indonesia, dalam konteks kehidupan berbangsa yang majemuk dengan ratusan bahasa daerah yang dimiliki oleh Indonesia, maka Bahasa Indonesialah yang bisa menjadi pemersatu sehingga rakyat Indonesia dari ujung timur hingga ujung barat bisa lebur dalam satu ikatan bahasa yaitu bahasa Indonesia.

Berkometmen untuk terus menggunakan bahasa Indonesia  dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan salah satu wujud kecintaan kita sebagai warga Negara sekaligus cerminan nasionalisme bangsa Indonesia. Karena jika bukan rakyat Indonesia yang menjaga dan memelihara kelestarian bahasa, lalu siapa lagi?. Dengan demikian, sudah sewajarnya bangsa Indonesia bangga dengan bahasa Indonesia.

Sayangnya, modernisasi yang melanda hampir seluruh sendi kehidupan masyarakat ternyata juga berimbas pada perubahan negatif bangsa kita, salah satunya dalam menjaga kometmen berbahasa Indonesia, tak sedikit warga Negara kita sudah mulai alergi dengan bahasa persatuan, mereka menganggap lebih keren ketika menggunakan bahasa-bahasa impor, problem ini jika dibiarkan akan berdampak pada pudarnya semangat nasionalisme sebagai warga Negara. Maka, bahasa Indonesia harus terus dijaga dan dilestarikan.

Buku berjudul Kreatif Berbahasa Indonesia ini berusaha memberikan penyadaran kepada pembaca terkait dengan pentingnya menggunakan bahasa persatuan dalam kehidupan berbangsa, melalui uraian mendalam, para penulis buku terbitan Rosda karya ini juga menyuguhkan polarisasi penggunaan bahasa persatuan dalam kehiduoan sehari-hari, agar penggunaan bahasa Indonesia tidak membosankan bahkan cenderung menyenangkan.

Melihat pentingnya bahasa bagi suatu bangsa, masyarakat Indonesia seharusnya bersikap positif terhadap bahasa Indonesia. Sikap positif tersebut harus direpresentasikan dalam bentuk sikap setia berbahasa dan bangga berbahasa. Setia berbahasa yaitu sikap teguh dalam memelihara dan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa kebangsaan. Kalau perlu, pengguna bahasa harus mencegah dan mengurangi pengaruh asing. Bangga berbahasa merupakan sikap besar hati dalam menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa asing. (hal. 8-9).

Kesetiaan dan kebanggaan terhadap bahasa nasional seperti yang diulas oleh penulis di atas merupakan kunci utama dalam proses melestarikan bahasa Indonesia itu sendiri. Oleh karena itu, sudah seharusnya bagsa Indonesia menjaga dan merawat bahasa persatuan dengan merawat sikap setia serta rasa bangga akan bahasa kita. Setelah menguasai dua prinsip tersebut, selanjutnya kita dituntut untuk bisa memahami apa posisi atau kedudukan bahasa dalam kehidupan berbangsa hal itu untuk memperkuat komitmen kita dalam menjaga keutuhan bahasa.

Sebagai bangsa yang cinta akan bahasanya, sudah sepatutnya kita memahami akan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia. Dilihat dari kedudukannya, bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara. Seperti tercantum pada ikrar ketiga sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi “kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”, ini berarti bahwa bahasa Indonesia  berkedudukan sebagai bahasa nasional, kedudukannya berada di atas bahasa-bahasa daerah. (hal. 11).

Selain mengulas urgensi penggunaan bahasa Indonesia dalam kehiduan berbangsa, buku ini juga membahas beberapa teknik pembelajaran bahasa Indonesia khususnya di dunia kampus, teknik tersebut meliputi cara mengetahui ragam ilmiah dalam bahasa Indonesia, cara menghindari kesalahan dalam penggunaan bahasa indoonesia ragam ilmiah, termasuk juga yang sangat teknis adalah tata cara mengutip, menulis dafatar pustaka dan sejumlah cara teknis lainnya yang berkaitan dengan proses penggunaan bahas Indonesia yang baik dan benar. Sajian dalam buku ini dibuat sangat sederhana, tujuannya untuk mempermudah pemahaman pembaca, namun demikian hadirnya buku ini bisa menjadi spirit untuk menata kembali kometmen berbahasa kebangsaan kita. Selamat membaca. 

Tulisan ini dimuat di harian Jawa Pos Radar Madura, edisi 27 desember 2019.

Strategi Penguatan Ekonomi Berbasis Syariah

Judul Buku : Fikih Muamalah
Penulis : Hariman Surya Siregar
Penerbit : Rosda Karya
Cetakan : 1. 2019
Tebal : 352 Halaman
ISBN : 978-602-446-350-2
Peresensi         : Ahmad Wiyono

Gerakan ekonomi syariah yang terus digencarkan di Indonesia tentu bukan tanpa dasar, hal itu semata-mata untuk mengembalikan roh perekonomian agar berbasis kerakyatan. Fakta bahwa ekonomi liberal dan capital sangat tidak menguntungkan kepada masyaraat sudah tak bia dibantah, maka penguatan ekonomi syariah menjadi solusi bagi terwujudnya sistem perekonomian yang berazas dari masyarakat  oleh masyarakat dan untuk masyarakat.

Salah satu fondasi penguatan ekonomi syariah adalah Fikih Mualamalh yang secara detil mengatur segala bentuk aktivitas perekonomian masyarakat agar berdasar pada konsep syariah. Fikih Muamalah tersebut menjadi kurikulum perekonmian syariah karena seluruh rangkian transaksi yang bernafaskan ekonomi diatur sedimikian rupa agar tidak ada yang dirugikan. 

Buku ini secara gamlang mengurai penerapan fikih muamalah dalam kontks perekonomian umat, penulis menjabarkan Begaima semua transaksi harus dikembalikan pada konsep syariah, baik yang konvensional, modern atau kekinian. Konsepsi dasar itu adalah mengembalikan semua proses transaki pada hukum syariat atau hukum Allah sehingga dari proses itu menghasilkan dampak yang sehat terhadap semua pihak. Karena jelas tidak ada yang dirugikan dalam aktivitas transaksi tersebut.

Fikih Muamalah yaitu hukum-hukum yang berkaitan dengan tata cara berhubugan antar sesama manusia, baik hubugan tersebut bersifat kebendaan maupun dalam bentuk perjanjian perikatan. Fikih muamalah adalah salah satu pembagian lapangan pembahasan fikih selain yang berkaitan dengan ibadah, artinya lapangan pembahasan hukum fikih muamalah adalah hubungan interpersonal antar sesama manusia. (hal. 6).

Salah satu point dalam penerapan fikih muamalah adalah praktik akad, baik dalam jual beli, pinjam meminjam, atau dalam transaksi lainnya. Akad ini menjadi fondasi aktivitas transaksi manusia dengan manusiaa lainnya sehingga dalam perjalanannya tak ada yang dirugikan. Dalam fikih muamalah akad dilakukan diawal transaksi dan menjadi pedoman pelaksanaan isi dari transaki itu sendiri, termasuk dalam hal batas akhir pengembalian jika itu bersifat pinjaman atau hutang. Dengan demikian, akad bisa menyelematlan kedua belah pihak karena sama-sama tak ada yang dirugikan.

Akad pada dasarnya dititikberatkan pada kesepakatan kedua belah pihak yang ditandai dengan ijab Kabul, ijab Kabul adalah suatu perbuatan atau pernyataan untuk menunjukkan suatu keridhaan dalam berakad yang dilakukan oleh dua orang atau lebih sehingga terhindar atau keluar dari suatu ikatan yang tidak berdasarkan syara’. Oleh karena itu dalam islam tidak semua bentuk kesepakatan atau perjanjian dapat dikategorikan sebagai akad, terutama kesepakatan yang tidak didasarkan pada keridhaan dan syariat islam. (hal. 20-21).

Tentu asih banyak lagi yang menjadi aspek bahasan dalam Buku terbitan Rosda karya ini, semua berkaitan erat dengan penerapan hukum islam dalam kegiatan transaksi ekonomi. menariknya, buku ini disusun berdasarkan sumber beberapa buku fikih klasik termasuk kontemporer sehingga pembahasannya jelas tidak akan melenceng dari standard hukum islam sebagaimana yang sudah diajarkan oleh para ulama dan ilmuwan islam terdahulu. Buku ini layak menjadi referensi terutama bagi para mahasiswa keagamaan termasuk bagi mereka yang concern dalam kajian fikih muamalah. Selamat membaca.


Tulisan ini dimuat di Majalah Fokus edisi Desember 2019



Rabu, 11 Desember 2019

Membangun Berbasis Swadaya: Ikhtiar Mengembalikan Semangat Gotong Royong dan Kemandrian Warga

Ruas Jalan Beltok yang diperbaiki berbasis swadaya 
Membangun Berbasis Swadaya: Ikhtiar Mengembalikan Semangat Gotong  Royong dan Kemandrian Warga

Oleh: Ahmad Wiyono*

Menjaga dan merawat lingkungan sekitar sejatinya adalah tanggung jawab bersama, setiap individu berkewajiban merawat lingkungannya masing-masing, hanya saja kadang kita dihadapkan para problem apatisme yang berlebihan sehingga kebersihan dan pelestarian lingkungan cenderung diabaikan. 

Kalau ditelisik lebih dalam akar problem lahirnya apatisme adalah pudarnya kesadaran personal yang itupun kadang diakibatkan oleh dorongan eksternal, sehingga mindset yang terbangun di masyarakat adalah bahwa pesoalan perawatan lingkungan adalah kegiatan “project” yang menurut pandangan mereka di luar tanggung jawab individu. Persoalan ini kian menggurita saat pemerintah menggelontorkan sejumlah program pembangunan fisik yang menjangkau hingga ke pelosok desa. Maka disinilah awal runtuhnya semngat gotong royong dan kemandirian warga.

Problem soulving dari realitas tersebut adalah dengan mengembalikan cara pandang masyarakat, dari yang berifkir pragmatis (berbasis project) ke arah sebalikya, yaitu mengarahkan pola pikir masyarakat tentang pentingnya kebersamaan dan gotong royong. Kalau kita mau flashback lebih jauh ke masa lalu, banyak sekali cerita kakek nenek kita yang menggambarkan tentang semangat kebersamaan yang guyub, mereka membangun jembatan, jalan poros, selokan, dan lain sebagainya, semuanya berbasis swadaya, nyais tak ada bantuan dari Negara. Lalu bagaimana jika keguyuban masa lalu itu kita kembalikan di masa kini, apakah mungkin?

Jawabannya sangat mungkin, karena yang menentukan bukanlah ruang dan waktu, melainkan kesadaran dan kemauan dari manusianya. Maka bisa kita pastikan bahwa manusia modern juga bisa mewarisi semangat gotong royong manusia masa lalu, meskipun tantangnnya jauh lebih berat karena kita dihadapkan pada modernitas yang sesekali mengancam konsistensi. Namun demikian semua itu bisa dimulai dengan mengetuk kesadaran personal bahwa manusia sebagai mahluk sosial wajib bertanggung jawab menjaga lingkungan mereka masing-masing, jika kesadaran sudah muncul maka semangat bekerja sama akan lahir dengan sendirinya, pelan tapi pasti.

Upaya inilah yang saat ini mulai diikhtiarkan oleh sekelompok Masyarakat di Dusun Beltok Desa Larangan Badung Palengaan Pamekasan Madura, mereka membangun kometmen untuk bersama – sama menjaga lingkungan berbasis swadaya melalui Kelompok Masyarakat Peduli Lingkungan (KMPP). Organisasi ini dibentuk berdasarkan kesadaran dan keinginan bersama sekelompok orang yang kemudian terus dikampanyekan kepada warga lainnya. Tujuannya adalah untuk mengembalikan semangat gotong royong warga berbasis kemandirian.

Suasana rapat KMPP Dusun Beltok
Menata dari Bawah
KMPP sudah resmi dibentuk di Dusun Betok Desa Larangan Badung, saat ini oragnaisai tersebut dikomandani oleh Moh, Holili seorang pemuda yang sangat concern dalam kegiatan pemberdayaan dan advokasi sosial. Semangat itu terus ditelorkan kepada pengurs lainnya untuk bersama-sama mengajak warga agar senantiasa peduli terhadap lingkungan sekitar. Rumusan dasar yang dibangun dalam organisai itu adalah membangun dari bawah, sebuah upaya memaksimalkan peran warga untuk senantiasa menjaga dan memperbaiki seluruh fasilitas umum yan ada di sekitar rumahnya masing-masing, sepeprti saluran air, jalan raya, kabel listrik, dan lain sebagainya.

Sejumlah program sudah mulai dirumuskan oleh KMPP, seperti perbaikan jalan, normalisasi saluran, optimalisasi jembatan, penghijauan, dan beberapa agenda lainnya. Agenda kerja itu dihasilkan dari musyawarah warga yang kelak akan dikerjakan pula oleh warga, dengan segala konsekuensi yang sudah dipertimbangkan bersama, seperti konsekuensi finansial, waktu dan tenaga. Mereka sudah menyatakan siap untuk bersama-sama “bantingan” dalam setiap kegiatan kemasyarakatan tersebut.

Salah satu bukti kongkriet yang sudah dilakukan oleh warga melalui komando KMPP adalah perbaikan jembatan dan jalan di gang menuju Pondok Pesantren Langgar Annyar yang diasuh oleh KH. Abd. Ghafur. Kondisi kerusakan jalan tersebut memang relatif parah, jika dilintasi oleh mobil jenis sedan sudah pasti “natap”, kondisi itu sudah bertahun-tahun tak ada penanganan, belum lagi kondisi jembatannya yang mulai longsor sehingga bisa mnegancam keselamatan. Maka, warga pun akhirnya mengambil inisitaif untuk memperbaikinya, dengan bahan dan alat seadanya mereka bercibaku meperbaiki jalan dan jembatan sehingga saat ini jalan dan jembatan itu sudah kembali normal.

Tidak selesai sampai disitu, warga pun berinisiatif untuk mempercantik jalan itu dengan mengecat “plengsengan” yang ada di sebelah kanan kiri jalan. Seperti yang bisa kita lihat ada photo, ada keunikan dan suasana yang berbeda saat kita melihat jalan pelosok kampung yang bernuansa kota, cat warna biru dan putih menghiasi sepanjang jalan tersebut. Inilah bukti awal keguyuban warga dalam ikut menjaga kebersihan lingkungan, mereka bekerja atas nama kebersamaan.



Semangat Kemandirian
Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi salah satu desa di Malang yang hari ini sudah menjadi desa wisata, konon desa itu sudah memiliki PAD hingga 4 Miliyar pertahun, tentu jauh lebih besar dari anggaran rata-rata Dana Desa (DD) per desa per tahun. Pesan yang bisa saya tangkap adalah kemandirian, bahwa mereka meberanikan diri membuat desain desa wisata dengan segala resiko besar yang mengancam. Namu keberanian itu berbuah manis, saat ini desa itu sudah menjadi desa percontohan di Indonesia, desa mandiri yang juga menjadikan masyarakatnya mandiri. Bahkan informasinya mulai tahun depan desa tersebut sudah tak mau lagi menerima Dana Desa dari pemerintah.

Cerita di atas penting dijadikan insprasi untuk desa – desa lain di Indonesia, termsuk di Larangan Badung, meski tidak semudah membalikkan telapak tangan, setidaknya ada beberapa sisi yang perlu kita tangkap untuk menginspiring lahirnya gagasan inovatif dalam mebangun kenandirian desa dn warga. Seperti apa yang dilakukan oleh warga dusun Beltok rupanya menjadi bagian kecil dari upaya-upaya membentuk kemandiran warga, setidaknya dalam skop kecil yaitu menjaga lingkungan sekitar. Jika warga sudah berkometmen untuk terus menjaga lingkungan secara mandiri, maka bukan tak mugkin kelak mereka bisa membangun sesuatu yang lebih besar secara mandiri pula.

Setidaknya semangat gotong royong ini sudah menjadi proses lahirnya kemandirian warga, apa yang dilakukan oleh KMPP bersama warga semata-mata untuk menggali kembali akar nasionalisme warga sebagai mahluk sosial, sehingba ke depan banyak yang bisa dilakukan secara bersama-sama. Lalau dari mana sumber pendanaannya? Pertanyaan ini tentu sangat menggelitik, karena pekerjaan fisik harus berjalan lurus dengan keuatan finansial. Sejauh ini sumber pendanaan KMPP masih berbasis swadana masyarakat, sumbangan antar warga, termasuk juga donasi dari beberpa tokoh sekitar.

Strategi pengumpulan dana yag dilakukan oleh pengurus KMPP adalah dengan menggalang sumbangan sukarela kepada seluruh warga, kegiatan ini dilaksanakan setiap malam jum’at dengan menggunakan kotak sodaqoh yang digerakkan pada kegiatan kolom malam Jum’at, termasuk juga untuk kolom Muslimat setiap malam Senin, sehinga warga bisa memberikan infaq seikhlas mereka,  tanpa beban sedikitpun. Strategi lain adalah dengan menggandeng sejumlah tokoh masyarakat dan donator yang sifatnya tidak mengikat, mereka biasanya memberikan bantuan material saat ada pekerjaan yang harus dilakukan. 

Menuju Beltok Berseri
Tak bisa dipungkiri bahwa sukses itu harus bermula dari mimpi, maka segala seuatu harus kita buatkan mimpi, mimpi bersama yang kelak akan diwujudkan dan dinikmati bersama. Menjadikan Dusun Beltok Berseri (Bersih, Sehat dan Asri) adalah mimpi kita saat ini, dan kita akan berusaha untuk mewujudkannya. Keasadaran dan kemauan warga melalui kerja gotong royong adalah kunci untuk mewujudkan semua mimpi itu.

KMPP akan hadir untuk selalu mengajak warga bersma-sama membangun mimpi dan menerjemahkannya melalui kerja-kerja kongkriet, kegiatan santai berupa kerja bakti membersihkan lingkungan akan dikerjakan secaara rutin setiap hari Jumat, sementara kegiatan insidentil seperti perbaikan fasiliats yang rusak menjadi agenda tersendiri yang akan dilakukan sesuai jafwal yang sudah ditentukan nleh engurus. Kita patut berharap besar dan berdoa semoga kelak Dusun Beltok akan semakin maju dengan semangat gotong royong yang menggebu. Sukses untuk kita semua. (*)


Penulis adalah Penggerak Literasi Madura, warga Dusun Beltok Larangan Badung Palengaan Pamekasan.

Selasa, 01 Oktober 2019

Memperkuat Solidaritas Ekonomi Kerakyatan

Judul Buku : The Ma’ruf Amin Way
Penulis : Sahala Panggabean, Anwar Abbas, dkk
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 1. 2019
Tebal : 312 Halaman
ISBN : 978-602-06-2355-9
Peresensi         : Ahmad Wiyono

Sistem ekonomi kapitalistik diyakini kurang memihak terhadap masyarakat khususnya kelas menengah ke bawah, bahkan meredupkan gerakan ekonomi keumatan,  karena dalam sistem ini muncul persaingan hebat untuk mengejar keuntungan, sehingga siapa yang kuat maka dia akan jadi pemenang, sebaliknya yang lemah akan semakin terpuruk dan tak mampu mengambil bagian.

Sebagai upaya ntuk menengahi gerakan ekonomi kapital tersebut, KH. Ma’ruf Amin menuangkan gagasan luar biasa terkait pentingnya ekonomi berbasis kerakyatan, gagasan itu berhasil direkam oleh Sahala Panggabean dan Anwar Abbas dalam buku The Ma’ruf Amin Way ini. Di dalamnya diulas secara mendalam konsep ekonomi kerakyatan sebagai arah baru ekonmi yang memihak pada kepentingan umat.

Secara prinsip, ekonomi keumatan merupakan konsep ekonomi yang berlandaskan spirit kerakyatan. Menurut Mubyarto, arti dari ekonomi kerakyatan adalah kegiatan ekonomi yang berlandaskan pada keberpihakan pada rakyat sebagaimana diatur dalam UUD 1945 bahwa segala usaha dikelola bersama dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dengan kata lain, prinsip ekonomi keumatan sejalan dengan ekonomi kerakyatan, yakni berpihak pada umat. (Hal. 171)

Basis gerakan ekonomi kerakyatan ini adalah pengembangan ekonomi dari bawah, melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses pemberdayaan sesuai dengan keahlian yang dimiliki mereka. Ini yang juga menjadi kunci kesuksesan China membangun ekonominya sejak era Mao Zedong hingga saat ini. Pengembangan ekonomi dari bawah itu adalah membangun secktor ekonomi rakyat, pertanian, dan usaha mikro lainnya.

Inilah spirit ekonomi keuamatan bahwa pembangunan bermulai dari bawah (bottom-up economics development). Berbeda dengan ekonomi kapitalistik yang mengejar keuntungan dengan cara bersaing, ekonomi kerakyatan berprinsip pada kerja sama dan makmmur bersama. Apabila pengusaha besar mencapai efisiensi  dengan cara mematikan pesaing, di ekonomi kerakyatan efisiensi dicapai dengan kerja sama yang kompak. (Hal. 169).

Setidaknya ada empat landasan penguatan ekonomi kerakyatan atau keumatan yang diulas dalam buku terbitan Gramedia Pustaka Ini, yaitu ekonomi kerakyatan dilandasai oleh spirit kemitraan setara dan menguntungkan,  selanjutnya,  ekononomi kerakyatan dilandasai oleh sila ke-3 yakni “persatuan Indonesia. Kemudian sila ke-4 “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmad kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan” menjadi landasan ketiga. Sedangkan landasan keempat adalah prinsip pembangunan dengan pendekatan dari bawah. Empat prinsip inilah yang menjadi fondasi utama penguatan dan implementasi ekonomi berbasis kerakyatan.

Sementara itu, tujuan mulia dari penyelengaraan ekonomi kerakyatan atau keumatan ini adalah untuk meningkatkan pemberdayaan umat dibidang ekkonomi agar nantinya bisa melahirkan kemandirian ekonomi, kemandirian ekonomi inilah yang kelak menjadi indikator keberhasilan pelaksanaan ekonomi kerakyatan, di mana umat menjadi subyek pepengembangan ekonomi sehingga mereka bisa maju bersama danm akmur bersama.

Dalam kemandirian ekonomi, pemberdayaan adalah uoaya mengangkat martabat ekonomi rakyat untuk mampu bersaing di pasar. Secara sederhana, kami selalu mengatakan pentingnya “membesarkan yang kecil dan tidak mengecilkan yang besar”. Membesarkan yang kecil adalah pemberdayaan. Tidak mengecilkan yang besar ialah sikap memperbolehkan usaha besar untuk berkembang baik dengan pengawasan Negara supaya tidak mematikan yang kecil. (Hal. 210).

Sebagai pusat gerakan ekonomi keumatan ini, KH. Ma’ruf Amin mencoba memulai hal tersebuut dari kelompok ekonomi Pondok Pesantren, hasilnya ternyata cukup membanggakan, pesantren rupanya mampu menjadi pusat pergerakan ekonomi umat yang dalam perjalanannya juga meluas hingga ke masyarakat umum. Penataan ekonomi umat dari pesantren inilah yang konon menjadi potret keberhasilan konsep ekonomi keumatan ala KH. Ma’ruf Amin, terbukti sudah lahir pasar pasar semi modern yang berbasis keumatan.

Apakah mungkin Ponpes dapat menjadi pusat unggulan ekonomi umat? Kami yakin bahwa hal ini dapat diterapkan dan mendorong Ponpes untuk menjadi pusat unggulan ekonomi umat. Setidaknya, kami mengidentifikasi ada empat modal yang yang telah dimiliki Ponpes yakni kuatnya internalisasi nilai-nilai keislaman  (Islamic volues), kapabilitas manusia terdidik (human capital), modal sosial (social capita), dan keuangan (financial capital). Selamat membaca.   

Tulisan ini pernah dimuat di harian Solo Pos, 15 September 2019



Latihan Fisik Ciptakan Mental Juara

Judul Buku : Pelatihan Kondisi Fisik
Penulis : Dikdik Zafar Sidik, dkk
Penerbit : Rosda Karya
Cetakan : 1. 2019
Tebal : 240 Halaman
ISBN : 978-602-446-343-4
Peresensi         : Ahmad Wiyono

Bagi para atlet, berlatih fisik secara rutin merupakan sebuah keharusan, agar stamina tubuh terjaga dengan baik sehingga saat melakukan pertandingan bisa mengimbangi lawan-lawannya, bahkan bisa memenangkan pertandingan tersebut.

Selain untuk menjaga kesehatan, latihan fisik juga penting untuk membangun mental juara, karena dengan kebugaran tubuh yang selalu terjaga, para atlet memiliki kepercayaan diri yang tinggi baik sebelum, saat dan sesudah bertanding. Seperti yang diulas dlam buku berjudul Pelatihan Kondisi Fisik ini.

Setiap manusia yang ingin mendapatkan derajat sehat dinamis yang tinggi harus melakukan latihan kondisi fisik. Apabila setelah mendapatkan derajat sehat dinamis yang diharapkan, maka meningkatkan derajat sehat menjadi sebuah prestasi sesuai dengan kemauan, kemampuan, dan kesempatan yang didapatkan. (hlm. 21).

Seridaknya Terdapat dua bagian bentuk latihan fisik yang diurai dalam buku terbitan Rosda Karya ini, yaitu latihan fisik umum, serta latihan fisik khusus. Keduanya meimiliki cirri dan cara yang berbeda. Latihan fisik umum merupakan latihan dasar yang biasa dilakukan banyak orang. Oleh banyak kalangan latihan fisik umum ini disebut latihan biasa, yang hampir semua orang bisa melakukannya dan bisa berlaku untuk semua cabang olahraga.

Latihan fisik khusus dilakukan atas dasar latihan umum yang luas pada kekhususan cabang olahraga (yang menentukan prestasi), misalnya latihan daya tahan aerab dan daya tahan anaerab untuk atlet pada cabang olahraga beladiri (karate, takwondo, pencak silat, gulat, tinju, judo, wushu, tarung derajat, anggar, kempo, dan cabor tarung lainnya). Cabang olahraga permainan (seperti sepak bola, futsal, basket, badminton, tenis, tenis meja, voli, hoki, bola tangan, dan lainnya). (hlm. 77-78).

Sementara itu, guna mendapatkan hasil yang maksimal dari kegiatan latihan fisik, maka latihan harus diatur dan dischedhule dengan baik, ini berkaitan dengan jenjang dan periodesasi latihan yang sistematis. Dengan demikian, latihan fisik yang terjadwal dengan baik akan berdmapk positif terhadap kesehatan fisik para atlet.

Dalam pereodesasi latihan, pelatih dapat melakukan perencanaan latihan jangka panjang yang secara sistematik dan manipulative, mengntrol serta mengubah ubah volume, intensitas, frekuensi, durasi latihan, dan kompetisi. Dengan demikian, dalam pereodesasi adalah penjabaran materi dan sasaran latihan dengan cara memvariasikan intensitas, volume, recovery, internal, durasi, dan frekuensi dalam waktu tertentu yang disesuaikan dengan tahapannya. (hlm. 182).

Buku ini sangat penting dibaca terutama oleh para atlet dalam rangka menambah pengetahuan seputar cara dan langkah latihan fisik yang tepat sehingga menghasilkan energi yang positif tyang berdampak pada kesehatan fisik itu sendiri. Apalgi buku ini dilengkapi dengan grafis tata cara latihan yang benar yang tentu sangat membantu dalam memberi pemahaman cara latihan yang efektif untuk meraih kesehatan fisik yang maksimal. Selamat membaca. (*)


Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos Radar Madura edisi 28 September 2019

Minggu, 08 September 2019

Mengenal Lebih Dekat Pesona Arsitektur Nusantara


Judul Buku : Arsitektur Nusantara
Penulis : Nuryanto
Penerbit : Rosda Karya
Cetakan : 1. 2019
Tebal : 472 Halaman
ISBN : 978-602-446-334-2
Peresensi         : Ahmad Wiyono

Indonesia dikenal sebagai Negara yang kaya akan kebudayaan dan tradisi lokalnya, jutaan khazanah kebudayaan nusantara tersebut ternyata menjadi kekuatan tersendiri yang mampu merekatkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk dengan spirit Bersatu dalam keberagaman.

Salah satu kekayaan nusntara yang menjadi karakter kekayaan bangsa ini adalah arsitektur, di mana hampir semua daerah memiliki kekhasan lokal yang menjadi ikon dari daerah itu sendiri, kekayaan arsitektur ini bahkan sudah dikenal hingga dunia global betapa bangsa Indonesia mempunyai keragaman arsitektur yang menonjol sesuai dengan daerah masing-masing.

Buku berjudul arsitektur Nusantara ini berhasil merangkum pesona arsitektur nusantara yang merupakan kekayaan lokal dari berbagai daerah di Indonesia. Buku ini juga menggambarakan falsafah luhur, norma dan nilai yang disimbolkan dalam bentuk arsitektur tradisional dari berbagai daetah tersebut. Dengan demikian semakin jelaslah betapa bangsa Indonesia sangatlah kaya raya.

Dibagian awal pembahasan buku terbitan Rosda Karya ini, penulis mencoba mengurai terlebih dahulu serentetan definisi arsitektur yang disadur dari berbagai pendapat tokoh baik dalam maupun luar negeri, hal itu penulis  maksudkan untuk menyamakan persepsi terkait pengertian dari arsitektur itu sendiri mengingat banyak seklai definisi yang bisa diasdur secara bebas. 

Arsitektur berkaitan dengan perancangan, yakni suatu konstruksi yang sengaja dibuat untuk mengubah lingkungan fisik melalui suatu cara atau sistem penataan tertentu. Arsitektur berkaitan dengan budaya, memiliki sistem lambang, makna, serta skema kognitif. (hlm. 6).

Arsitektur merupakan bagian dari kebudayaan, maka arsitektur tentu tidak bisa lepas dari kebudayaan itu sendiri. Penulis sengaja membuat bab khusus terkait relevansi arsitektur dengan kebudayaan hal tersebut untuk mepertegas relevansi dari keduanya. Ini yang dimaksud diawal bahwa pesona kebudayaan nusantara salah satu produknya adalah arsitektur yang memjadi karakter dari kekayaan tradisional bangsa Indonesia.

Arsitektur dan kebudayaan memiliki hubungan yang sangat erat, karena keduanya saling beririsan. Arsitektur adalah produk kebudayaan, sedangkan kebudayaan membutuhkan wadah berupa ruang (space) dan tempat (place) untuk memfasilitasinya. Ruang dan tempat berkaitan dengan dengan sistem nilai dan tindakan manusia sebagai penghuninya. (hlm. 75).

Setidaknya terdapat enam contoh arsitektur daerah yang diurai dalam buku setebal 472 halaman ini, alasan penulis mengapa hanya enam tentu sangat teknis, yaitu berkaitan dengan keterbatasan halaman buku ini, tentu sangat tidak memungkinkan jika semua harus dicover, pasti membutuhkan ribuan halaman. Tapi paling tidak, menurut penulis enam daerah ini sudah merepresentasikan Indonesia, yaitu Sunda, Jawa, Bali, Toraja, Batak dan Papua. 

Masing-masing daerah tersebut memiliki kekhasan yang kental, menggambarkan norma dan falsafah kehidupan dari daerah itu sendiri. Tak hanya itu, pesona arsitektur dari masing-masing daerah juga menyampaikan pesan terkait dengan banyak hal yang menjadi adat istiadat dari daerah tersebut, seperti di Bali misalnya, sejumlah produk arsitektur menggambarkan suasana Bali sebagai pulau Dewata.

Perkembangan arsitektur bangunan tradisional di Bali tidak terlepas dari peran beberapa tokoh sejarah pada masa Bali Aga dan zaman Majapahit. Tokoh Arsitek lokal Kebo lwa Kuturan yang hidup pada abad ke-11, atau zaman pemerintah Raja Anak Wungsu di Bali banyak mewarnai landasan pembangunan arsitektur tradisional Bali (hlm. 305-308). 

Sebagai buku yang dirancang berbasis riset akademik, buku ini sangat layak untuk dijadikan refernsi utama para akademisi yang konsen dalam bidang arsitektur, kendati demikian buku bergengsi ini juga pantas untuk menjadi bacaan semua orang untuk memperdalam pengetahuan seputar kekayaan budaya Nusantara memlui pesona arsitektur yang menjadi karakter kebudayaan lokal di bumi Indonesia ini. Selamat membaca. (*)


Tulisan ini dimuat di harin Bhirawa, edisi Jum'at, 6 September 2019

Selasa, 23 Juli 2019

Nasionalisme dan Spirit Memanusiakan Manusia

Judul Buku : Cinta Negeri Ala Gus Mus
Penulis : M. Zidni Nafi’
Penerbit : Imania
Cetakan : 1. 2019
Tebal : 245 Halaman
ISBN : 978-602-7926-46-2
Peresensi         : Ahmad Wiyono

Problem terbesar yang dihadapi bangsa kita dewasa ini sebenarnya adakah persoalan moral, sejumlah tindakan tak etis yang dilakukan oleh banyak orang hampir merupakaan bias dari krsisi moral yang melanda. Tindakan kriminal yang dilakukan oleh sejulah anakmuda, hingga perbuatan korupsi yang dilakukan oleh elit, semua itu meruapakn sebab akibat dari rendahnya moralitas mereka sebagai anak bangsa.

Cinta Negeri ala Gus Mus ini merupakan catatan – catatan KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang berhail diabadikan oleh M. Zidni Nafi’ menjadi buku bergengsi ini, di dalamnya mengurai sejumlah fakta dan fenomena sosial yang menjadi problematika bangsa akhir-akhir ini. Muara dari semua itu adalah lemahnya moralias, sehingga mereka yang berbuat kurang baik adalah kelompok atau perorangn yang tak ammpu memaknai nilai-nilai kemanusia secarau tuh. Imbasnya adalah mereka tak bisa memanusiakan manusia.

Situasi kebangsaan saat ini benar-benar krisis. Korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan bukan saja melanda kalangan eksekutif dan legislatif, tetapi juga yudikatif. Penyelewengan penegak hukum  merupakan pertanda masyarakat sedang menyongsong masa kehancuran. Berbagai kasus yang mencuat saat ini juga mengindikasikan adanya upaya menghabisi orang-orang baik di negeri ini. (hlm. 114).

Ungkapan ini tentu bukan ungkapan biasa yang tak berdasar, karena fakta dan kondisi di lapangan memang sudah demikian adanya, banyak orang yang tak lagi peduli dengan masa depan bangsa dan negaranya, mereka hanya memikirkan kepentingan pribadi dan kelompoknya, akibatnya nyaris tak ada rasa solidaritas untuk sesamanya, segala cara dilakukan demi bisa mencapai hasrat kekuasaan. Itulah sebbanya Gus Mus mengilustrasikan bahwa di negeri ini sudah ada upaya untuk menghabisi orang-orang baik. Jika itu terjadi, maka tunggulah kehancurannya.

Buku ini hadir untuk “menelanjangi” kondisi bangsa yang kian carut marut, yang hal itu diakibatkan oleh ulah sekelompok orang yang nyaris tak memimliki semangat nasionalisme. Membaca buku ini kita akan dibuat terenyuh karena sudah sangat sedemikian parahnya kondisi kebangsaan kita saat ini. Namun demikian, buku terbitan Imania ini juga tak lupa menyuguhkan optimisme dari seorang Gus Mus, bahwa separah apa pun carut marutnya bangsa saat ini, masih ada secercah harapan untuk memperbaikinya.

Kita ingin mendorong agar warga negeri ini sadar kembali sebagai orang Indonesia. Kalau sadar sebagai orang Indonesia, mereka akaan merawat dan memberi kontribusi. Kalau tidak merasa sebagai orang Indonesia, maka dibiarkan saja masalah-masalah bangsa ini. (hlm. 109).

Gus Mus menekankan pentingnya semangat kebangsaan dari para warga negeri ini, mereka diharapkan sadar bahwa bumi yang dipijak adalah bumi Indonesia yang merupakan milik bersama dan harus dijaga bersama, dengan begitu maka akan lahir jiwa nasionalisme yang kokoh dan sama-sama menghindari tindakan yang kurang baik yang bisa mengancam keutuhan dan kebersamaan sebagai anak bangsa.

Selain mengetuk kesadaran berbangsa dan berbegara, Gus Mus juga mengutaraikan statemen seputar kunci sukses manusia dalam menjalani hidup, hal itu sebagai energi agar manusia bisa mamahami dirinya dan lingkungannya. Tentu tujunnya tak ada lain kecuali untuk membangun ghiroh kebersamaan di level individu sehingga puncaknya tak ada sifat dan sikap saling sikut dan saling sikat. Inilah yang nantinya bisa menjadi modal untuk memperkuat jiwa kebersamaan antar bangsa sehingga tak ada niat untuk melakukan sesuatu yang negatif.

Ada dua kunci sukses bagi manusia untuk mencapai kenikmatan dunia dan akhirat. Yang pertama, adalah istikamah, jangan berlebihan dalam melakukan sesuatu. Lakukan semua aktivitas secara wajar. Termasuk shalat tidak boleh berlebihan. Allah swt. tidak menyukai segala seuatu yang berlebihan. Yang kedua, sebagai umat beragama harus saling meguatkan, apa pun keyakinan dan agama mereka. (hlm. 146). Inilah kunci untuk membangun semangat nasionalisme dan memanusiakan manusia, Selamat membaca. (*)


Tulisan ini dimuat di harian pagi Jawa Pos Radar Madura, edisi Minggu 14 Juli 2019

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons