Jumat, 15 Maret 2019

Ajaran Toleransi Beragama Dalam Islam

Judul Buku : Pendidikan Agama Islam
Penulis : Enang Hidayat
Penerbit : Rosda Karya
Cetakan : 1. 2019
Tebal : 210 Halaman
ISBN : 978-602-446-305-2
Peresensi : Ahmad Wiyono

Secara universal, Agama Islam sejatinya dapat mengantarkan umat manusia menuju kehidupan yang bahagia, baik di dunia lebih-lebih di akhirat. Hal itu bisa dicapai apabila pemeluknya mampu menerjemahkan dan mengaplikasikan fondasi ajaran islam dengan benar dalam kedupan mereka.

Fondasi ajaran islam tersebut antara lain adalah akidah, syariah dan akhlak. Tiga hal ini akan menjadi penentu kualitas keagamaan sesorang sehingga kelak bisa menjadi jaminan diraihnya kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat. Kaum beragama tentu perlu mendalami dan merinci ketiga fondasi keislaman tersebut agar bisa meraih kehidupan yang luar biasa.

Buku berjudul Pendidikan Agama islam ini mencoba mengurai integrasi nilai-nilai aqidah, syarah dan akhlak yang sudah seyogyanya menjadi landasan Beragama umat manusia, tujuannya adalah agar umat islam mampu memahami subtsansi dirinya sebagai hamba yang berkewajiban untuk menjalankan risalah ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari.

Ajaran lain yang diurai dalam buku ini dan jelas-jelas merupakan amanah bagi kaum beragama adalah pentingnya menjaga toleransi antar umat beragama, dalam konteks ini kualitas keimanan sesorang sangat ditentukan dengan seberapa besar dia mampu menghargai keimanan dan keyakinan orang lain. Karena semakin besar keimanan seseorang, justreu dia semakin sadar akan keragaman dan mampu menghargainya.

Sebagaimana kita pahami bersama bahwa islam sudah jelas jelas diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam, ini meunjukkan bahwa islam sejatinya harus selalu hadir dengan wajah damai terhadap semua umat, termasuk kepada masyarakat non muslim. Kesejatian islam itu bisa kita temukan saat kaum Beragama sudah mampu menerjemahjan makna toleransi sebagai perwujudan dari spirit islam sebagai rahmat nagi alam.

Oleh karena itu, ajaran islam yang bersifat demikian menebarkan kasih sayang bagi pemeluk lain selain non islam. Makanya, dalam islam tidak dikehendaki adanya kekerasan dalam menyampaikan dakwah apalagi sampai menyinggung perasaan pemeluk non muslim. Ajarannya yang ramah tamah, bukan penuh kemarahan. Ajaran yang penuh dengan kedamaian, bukan menebar permusuhan. Tidak boleh ada paksaan dalam beragama. (Hal. 112).

Inilah substabsi islam sebagai agama rahmat, ajaran ini sudah tertuang dalam kitab suci Al-Qur’an, maka sudah seharusnya para pemeluk agama islam mmapu menerjemahkan spirit ini dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam melakukan interaksi bersama pemeluk agama lain agar kerukunan, kedamain dan ketentraman senantiasa terjaga dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Orang islam tidak diperbolehkan mengolok-olok  apa yang disembah orang non Islam, karena khawatir mereka juga akan mengolok-olok apa yang disembah oleh orang islam, yaitu Allah. Begitupun sebaliknya dengan orang non islam. Prinsip ini dikenal dalam kajian ilmu Ushul Fiqih dengan konsep saddud dariah; menutup jalan agar tidak terjadi yang tidak diinginkan. (Hal. 118).

Buku ini hadir untuk memberikan penegasan seputar pentingnya menjaga tolerasni antar umat beragama, dengan menjaga prinsip keragaman sebagai sesuatu yang sunnatullah, maka menjadi kaum beragama yang sejati adalah ketika mereka mampu menjalankan spirit agama itu sendiri yaitu merawat perdamaian dengan semua orang termasuk dengan mereka yag berbeda agama. Selamat membaca. (*)


Tulisan ini dimuat di harian Jawa Pos Radar Madura, edisi Kamis 14 Maret 2019


Revitalisasi Peran Kepala Sekolah di Era Milenial

Judul Buku : kepala Sekolah Sebagai Manajer
Penulis : Herdarman dan Rohanim
Penerbit    : Rosda Karya
Cetakan        : 2018
Tebal : 149 Halaman
ISBN : 978-602-446-266-6
Peresensi        : Ahmad Wiyono

Salah satu faktor penting yang memengaruhi keberhasilan pembelajaran di sekolah adalah keberadaan kepala sekolah, posisinya menjadi penentu pergerakan sistem pemlejaran,  dengan demikian tugas dan fungsi kepala sekolah tentu tidak semudah yang kita bayangkan, karena ditangannya lah keberhasilan pendidikan ditaruhkan.

Di zaman modern seperti saat ini, tugas kepala sekolah tentu semakin kompleks, mengingat dinamika pendidikan dan pembelajaran juga tak jarang harus menyeseuaikan dengan perkembangan zaman, maka tentu harus ada revitalisasi peran dan fungsi kepala sekoah yang tujuannya adalah untuk memperkuat perannya dalam mengatur pergerakan pembelajaran di sekolah.

Salah satunya kepala sekolah harus mampu mejadi manajer dalam lingkungan sekolah, seperti yang diulas dalam buku berjudul Kepala sekolah sebagai Manajer ini. Posisi manajer bagi kepala sekolah merupakan kebijakan progresif dalam rangka memberikan kewenangan kepada kepala sekolah sebagai penentu sekaligus penanggung jawab terhadap kinerja proses pembelajaran.

Buku ini mengurai setidaknya lima kompetensi dasar yang harus dimiliki kepala sekolah dalam menerjemahkan perannya sebagai manajer, antara lain pertama: kompeten dalam menyusun perencanaan pengembangan sekolah secara sistemik, kedua: kompeten dalam mengoordinasikan semua komponen sistem, ketiga: kompeten dalam mengarahkan seluruh personel, keempat: kompeten dalam pembinaan kemampuan profesional guru, dan kelima: kompeten dalam melakukan monitoring dan evauasi. (Hal. 50).

Seluruh kompetensi dasar tersebut nantinya akan menjadi cirri khas kepala sekolah zaman now yang memiliki peran penting sebagaai manajer, dengan demikian peran manajer kepala sekolah harus diwujdukan dalam kepemilikan karakter yang kuat serta keunggulan literasi yang nantinya dipadukan sebagai insrumen untuk mewujudkan kualitas pendidikan yang tidak hanya merespon tantangan dan dinamika lokal, tapi juga yang berskala global atau internasional.

Inovasi kerja Kepala Sekolah yang diwujudkan dalam revitalisasi perannya sebagai manajer tentu akan mampu membangun suasana dan kultur sekolah yang nyaman, pembagian peran yang sistematis, serta pola hubungan kerja yang sistemik. Dengan demikian, kepala Sekolah akan mampu menata seluruh SDM yang ada sehingga berimplikasi pada terciptanya suasana pembelajaran yang bermutu untuk selaanjutnya lahir output pendidikan yag baik dan berkualitas.

Kepala sekolah merupakan sumber daya manusia yang seharusnya berperan sebagai manajer. Sebagai manajer maka kepala sekolah memiliki tugas dan fungsi mengoordinasikan dan menyerasikan sumber daya manusia jenis pelaksana melalui sejumlah imput manajemen. Dengan tugas dan fungsi tersebut, proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik untuk dapat menghasilkan output yang diharapkan. (Hal. 49).

Peran kepala sekolah sebagai manajer menuntut agar kepala sekolah bisa menciptakan iklim akademik yang produktif, di mana para pelaku pendidikan baik guru maupun siswa didesain bisa melahirkaan ide-ide kreatif sepanjang masa, sehingga proses pembelajaran tidak hanya terpaku pada tuntutan teks yang ada pada buku pelajaran, melainkan ada inovasi yang muncul dari para pengajar termasuk siswa, dan itu bisa didapat jika iklim akademik produktif itu sudah dibangun oleh kepala sekolah.

Sebagai manajer maka kepala sekolah perlu memelihara suatu lingkaran pertumbuhan dan kreativitas yaitu dengan memicu tumbuhnya budaya  yang penuh kreativitas, membuka peluang pengembangan karier, dan membuka perkembangan profesional yang berkelanjutan, khusunsya bgai setiap unsur yang ada dalam internal sekolah. (Hal. 127-128).

Buku ini bisa dijadikan rujukan utama para kepala sekolah untuk menginovasi perannya sebagai mamajer, setidaknya harus dipahami bahwa peran manajer seorang kepala sekolah bisa membantu proses keberhasilan pembelajaran di sekolah yang dipimpin. Harus diakui bahwa kepala sekolah menjadi ujung tombak keberhasilan pendidikan, maka inovasi peran menjadi sebuah keharusan. Selamaat membaca.

Tulisan ini dimuat di Harian Malang Post, 27 Januari 2019

Rabu, 16 Januari 2019

Peran Linguistik Arab Terhadap Pengembangan Studi Islam

Judul Buku : Pengantar Linguistik Arab
Pemulis    : Ade Nandang
Penerbit    : Rosda Karya
Cetakan         : 1. 2018
Tebal : 136 Halaman
ISBN : 978-602-446-246-8
Peresensi : Ahmad Wiyono

Islamic studies atau studi (pemikiran dan pendidikan) islam sudah dipastikan tidak akan lepas dari peran bahasa arab, karena di dalamnya selalu menggunakan kosa kata arab sebagai salah satu sumber kekayaan bahasa, apalagi studi islam dalam berbagai kajiaannya akan mengggunakan sumber-sumber referensi yang berbahasa arab seperti al-Qur’an, hadist serta qaul para ulama terkemuka.

Untuk itu perlu adanya pemahaman yang komperhensif terhadap bahasa arab dalam setiap pelaksanaan studi islam, baik oleh kalangan dosen termasuk para mahasiswa agar tidak terjadi pemahaman yang parsial dalam setiap penyelengagraan kajian keislaman. Salah satu unsur penting yang wajib dikuasai adalah linguistik sebagai pedoman dasar penggunaan bahasa arab yang baik benar.

Buku berjudul Pengantar Linguistik Arab ini mencoba menghadirkan metode penguasaan linguistik bagi para dosen dan mahasiswa, tujuannya tentu dalam rangka memberikan konsep dasar tentang tata cara menggunakan bahasa arab yang benar sesuai dengan kaidah dan rumus yang baku. Secara umum linguistik biasanya diajarkan dalam pembelajaran bahasa dan sastra, namun demikian kajian studi islam juga tidak akan lepas dari peranan linguistik tersebut.

Linguistik sebagai salah satu bidang ilmu tentunya akan memberi manfaat bagi siapa saja yang mempelajarinya dengan baik. Pada umumnya, -dikalangan mahasiswa-, yang mempelajari linguistik adalah mahasiswa jurusan bahasa dan sastra. Kedua jurusan ini dalam mempelajari linguistik mempunyai orientasi yang berbeda. (12). Seiring perjalanan waktu, sejumlah disiplin ilmu yang di dalamnya ada pmbelajaran bahasa juga menggunakan linguistik sebagai salah satu bidang pembelajaran.

Guna memberikan informasi yang lengkap terkait linguistik, buku ini mengurai sejumlah cabang linguistik sebagai gambaran awal tentang macam-macam linguistik itu sendiri, mulai dari linguistik descriptive, linguistik historis, linguistik comparative, linguistik contrastive, linguistik teoritis, dan linguistik terapan.

Linguistik terapan adalah ilmu yang berusaha menerapkan hasil penelitian di bidang linguistik untuk keperluan praktis. Linguistik terapan juga dimanfaatkan untuk memecahkan masalah-masalah praktis yang banyak sangkut pautnya dengan bahasa. Jadi linguistik dipakai sebagai alat untuk kepentingan lain. Misalnya, dalam pengajaran bahasa, linguistik dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan bahasa agar perolehan anak lebih meningkat. (Hal. 23-24).

Peran linguistik arab dalam kegiatan studi islam tentu juga sangat vital karena studi islam akan selalu bertemu dengan kosa kata arab yang sesekali memerlukan pendekatan linguistik sebagai dasar penggunaan bahasa yang baik dan benar. Hadirnya buku terbitan Rosda Karya ini setidaknya bisa menjadi referensi utama bagi kelompok akademisi dalam memgembangkan studi keislaman yang notabeni akan selalu beremu dengan kosa kata arab. Selamat membaca. (*)


Tulisan ini dimuat di Harian Radar Mojokerto, 16 Desember 2018

Selasa, 11 Desember 2018

Mewaspadai Lahirnya Budaya Konsumtif


Judul Buku : Prosa Dari Praha
Penulis : Nana Supriatna
Penerbit     : Rosda Karya
Cetakan         : 1. 2018
Tebal : 382 Halaman
ISBN : 978-979-692-222-2
Peresensi         : Ahmad wiyono

Globalisasi betul-betul membawa ekses luar biasa terhadap eksistensi kehidupan manusia, terutama dalam membentuk minsed yang berimplikasi pada perilaku nyata manusia global tersebut. Salah satunya adalah budaya konsumtif yang sudah mulai sulit dihindari. Diakui atau tidak ini adalah bagian tak terpisahkan dari dampak globalisasi.

Prosa Dari Praha ini memotret dinamika kehidupan manusia saat arus globalisasi mulai menjamah sendi kehidupan mereka, buku ini menghadirkan fakta unik yan imajinatif seputar perbadingan kehidupan masa lalu, dan masa kini.  Semuanya diulas bernada prosa yang memvisualisasikan perjalanan manusia dalam melintasi sejarah kehidupan.

Lintasan sejarah yang digambarkan pemulis dalam buku terbitan Rosda Karya ini bermuara pada satu persoalan krusial tentang kehidupan manusia, yaitu lahirnya masyarakat konsumen dalam impitan kapitalisme global, inilah fakta sejarah masa kini di mana manusia tak bisa lepas dari cengkaraman kapitalisme sementara di satu sisi budaya konsumtif mereka kian meraja lela.

Ironisnya, jebakan kapitalisme global yang berdampak pada budaya konsumtif tersebut tak hanya menjarah masyarakat kota, namun juga merambah hingga pelosok desa, penulis menggambarkan suasana desa yang nyaris tak lagi menujukkan susasa yang ‘ndesa’ seperti yang dirasakan puluhan tahun sebelumya, semua sudah berubah menjadi kampung global yang bernafas mesin. Disaat yang bersamaan masyarakat tak lagi menunjukkan pola konsumsi yang ramah terhadap lingkungan desa itu sendiri.

Warga desaku sudah menjadi bagian dari warga global yang sama dengan warga dunia lainnya. Sama halnya dengan warga kotaku, seringkali mereka tidak sadar bahwa mereka sedang berada di bawah kuasa kekuatan yang tidak Nampak di sana. Siaran senitron di jam tayang selepas senja begitu menggoda mereka. Di acara tayangan menarik itu beragam iklan muncul megenai barang-barang konsumsi. (Hal. 141).

Dampak lain dari globalisasi yang cukup menggurita di negeri ini adalah maraknya eksploitasi terjahadp kaum perempuan, beragam cara dilakukan demi memenuhi hasrat kapital dalam menceramuk sistem kearifan lokal bangsa, kita bisa lihat bagaimana “sosok” perempuan harus mengalamai dekomodifikasi menjadi objek dengan menampilkan hamper seluruh tubuh di hadapan publik demi seuah kepentingan bisnis. Dalam waktu yang bersamaan tak jarang para “korban” merasa nyaman dengan posisi tersebut karena alas an kebutuhan materiil. Padahal, alasan kebutuhan itu tak semata kebutuhan dasar, melainkan imbas dari budaya konsumtif yang mulai menggurita d dalam kehidupan mereka. 

Penampilan dan kecantikan telah menjadi pusat identitas banyak perempuan. Gagasan perfect body sangat erat kaitannya dengan cita-cita sosioekonomi melalui budaya konsumen. Apa yang dialami banyak wanita diseluruh dunia dalam berimajinasi mengenai perfect body lebih dari apapun, adalah ketidakpuasan atas tubuh mereka yang terinternalisasi dalam jiwa mereka. Mereka mengevaluasi diri mereka sendiri melalui orang lain, karena, kata Sartre, “orang lain adalah nerakamu”. (Hal. 181-182).

Budaya konsumtif masyarakat modern memaksa mereka untuk melakukan berbagai macam cara agar keinginannya tercapai, meski lasannya hanya persoalan ternd dan gengsi. Tak jarang mereka harus melupakan keperluan dasar dalam kehidupan ini demi memenuhi kebutuhan gaya hidup yang dibungkus dalam budaya konsumtif itu. Yang paling menegrikan, demi memenuhi syahwat gengsi dan ternd tersebut, mereka harus mengeluarkan banyak uang untuk berbelanja di tempat yang jauh, dengan nilai yang cukup mahal. Budaya ini sudah biasa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Semakin mahal, semakin langka dan semakin jauh barang didapat mak semakin terangkat status sosial yang mendapatkan dan memilikinya. (Hal. 222). Tidak jarang barang yang kiita beli karena pengaruh orang lain. Apa yang orang lain konsumsi, kita pun ingin mengkonsumsinya. Apa yang orang lain beli, kita pun ingin membelinya. (Hal. 224). Inilah ironi budaya konsumtif manusia modern, berbelanja bukan karena kebutuhan melainkan keran gengsi yang berlebihan.

Inilah ancaman nyata yang mulai melanda masyarakat kita saat ini, teknologi betul-betul “menghasut” pola pikir masyarakat untuk menjadi kaum konsumtif. Maka, buku ini mengajarkan kita semua untuk lebih waspada terhadap segala bentuk produk teknologi informasi yang bisa membawa kita sebagai masyarakat konsumen, pastikan bahwa apa yang kita lihat aman untuk eksistensi kehidupan kita sendiri. Selamatkan diri kita dari budaya konsumtif. Selamat membaca.


Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos Radar Mojokerto, edisi 25 November 2018.

Senin, 26 November 2018

Silabi dan Konsepsi Kesehatan Modern


Judul Buku : Komunikasi Kesehatan
Penulis : Deddy Mulyana, dkk
Penerbit    : Rosda Karya
Cetakan    : 1. 2018
Tebal : 268 Halaman
ISBN : 978-602-446-202-4
Peresensi         : Ahmad Wiyono

Komunikasi kesehatan adalah salah satu konsep penganganan profesional medis yang harus dilakukan guna memetakan kondisi kesehatan pasien dalam suatu tindakan tertentu. Ini menjadi jalan pertama penanganan pihak medis dalam rangka menyelesaikan masalah pasien dibidang kesehatan.
Secara teoritis komonukasi kesehatan tidak hanya berbicara tentang masalah sakit tetapi bagaimana pula cara pencegahannya serta upaya promotif kesehatan itu sendiri. Makanya, komunikasi kesehatan mernajdi urgen sebagai salah satu metode konvergensi keilmuan di bidang kesehatan khususnya di abad modern saat ini.

Buku ini mengurai makna komunikasi kesehatan khususnya dalam penanganan medis, tak bisa dipungkiri bahwa ada bayak bahasa yang sulit ditebak dari seseorang yang sedang sakit, maka harus lahir komunikasi kesehatan yang efektif yang bisa menerjemahkan apa saja maksud dan keinginan seorang pasien yang sedang ditangani, dan ini memerlukan keahlian khusus dari seorang tenaga medis.

Seragkaian metode komunikasi kesehatan itu bisa kita dapati dalam buku terbitan Rosda karya ini, yang kemudian disebut sebagai konsep dunia kesehenatan modern, mengapa? Karena keahlian mendiagnosa penyakit pasien saja tidak cukup tanpa diimbangi dengan kemampuan membangun komunikasi kesehatan tu sendiri.

Salah satu aspek komunikasi kesehatan non verbal yang penting adalah sentuhan. Riset dalam komunikasi kesehatan menunjukkan bahwa kebutuhan pasien  akan sentuhan tidak dipenuhi oleh profesional medis (Kreps dan Thornton, 1992:33). Padahal, Pijatan dan sentuhan oleh dokter dan perawat telah menghasilkan energi positif pada pasien yang dirawat di rumah sakit. (Hal. 21).

Komunikasi kesehatan mencakup bagaimana peran teknik dan teknologi komunikasi  secara positif untuk memengaruhi individu, organisasi, komunitas dan penduduk yang tujuannya mempromosikan kondisi yang kondusif atau yang memungkinkan tumbuhnya kesehatan manusia dan lingkungan sekitarnya. (Hal. 33).

Model komunikasi yang baik antara tenaga kesehatan dengan pasien diharapkan akan berdampak terhadap lahirnya interaksi yang baik pula, ini perlu dilakukan agar proses umpan balik antara dokter dan pasien bisa berjalan dengan baik. Dengan lahirnya umpan balik tersebut, dokter dengan mudah mendeteksi setiapkeluhan yang dirasakan pasien dan yang terpenting upaya penanganannya jauh lebih muda disbandingkan dengan pasien yang tertutup.disinilah pentingnya komunikasi dan interaksi.

Interaksi antara dokter dan pasien dapat dilihat dalam bentuk struktur, yaitu dengan memperhatikan apa saja yang biasanya terjadi, apa yang harus terjadi dan apa saja tujuan yang terdapat pada situasi tersebut. Dengan membayangkan sikap umum yang biasa terjadi dalam interaksi  antara dokter dan pasien  maka akan didapat suatu model atau gambaran mengenai segala sesuatu yang terjadi dan dapat dimengerti mengenai apa yang keliru dan penyebabnya. Dengan cara yang sama dapat pula dianalisis pekerjaan dokter, yang dalam pendekatan structural ini dinamakan teori peranan (role theory). Dari segi sosiologi, setiap individu memainkan peranan dalam semua situasi social. (Hal. 28).

Sebagai buku pelopor pemikiran dan kajian dibidang komunikasi kesehatan, buku ini layak untuk menjadi rujukan utama para tenaga medis, khususnya yang sedang melakukan proses pendidikan dibidang kesehatan, agar nantinya bisa menguasai substansi konunikasi kesehatan saat berhadapan dengan pasien, sehingga seluruh kebutuhan fisik dan piskologis pasien bisa terpenuhi. Selamat membaca. 



Tulisan ini dimuat di Harian Umum Padang ekspres, edisi Ahad, 18 November 2018 



Selasa, 17 Oktober 2017

Agar APBD Memihak Pada Rakyat

Judul : Optimalisasi Fungsi Penganggaran DPRD
Penulis : Dadang Swanda
Penerbit : Rosda Karya
Cetakan : 2017
Tebal : 226 Halaman
ISBN : 978-979-692-718-0
Peresensi: Ahmad Wiyono*
Sedikitnya ada tiga tugas pokok dan fungsi utama yaing dimiliki oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) termasuk di daerah. Masing-masing adalah tugas Budgeting, Controling dan legislasi. Ketiga tugas tersebut wajib dijalankan oleh seluruh anggota legislatif sebagai proses penyelenggaraan pemerintahan, mulai dari pusat hingga daerah.

Dalam konteks kedaerhaan, DPRD memliki tanggungjawab muthlak untuk mewakili aspirasi rakyat melalui lembaga tersebut. Sehingga, seluruh rancangan kegiatan pemerintah bisa dipastikan memihak pada kepentingan masyarakat. Ini bisa terwujud jika dalam proses penganggaran, realisasi hingga pengawasannya, DPRD betul-betul membawa aspirasi masyarakat.

Buku berjudul Optimalisasi Fungsi Penganggaran DPRD ini mengulas tentang peran sebtral DPRD dalam proses penyusunan, pembahasan hingga pada pengawasan anggaran di daerah, yang tujuannya adalah untuk menghasilkan produk Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang betul-betul sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.

Perjuangan awal DPRD dalam memastikan pengaggaran yang populis untuk rakyat adaah dimulai dari pembahasan di Badan Anggaran (banggar) DPRD, dalam proses ini seluruh anggota banggar memiliki peran penting dalam mengarahkan kondisi anggaran sesuai aspirasi masyarakat. Untuk itu, konsistensi Banggar dalam menerjemahkan aspirasi masyarakat bisa dilihat dari struktur anggaran yang dihasilkan oleh Banggar itu sendiri.

Panitia anggaran (Badan Anggaran) DPRD adalah suatu tim khusus yang bertugas untuk memberikan saran dan masukan kepada kepala daerah tentang penetapan, perubahan dan perhitungan APBD yang diajukan oleh pemerintah daerah sebelum dirapatkan dalam rapat paripurna. (Hal. 61).

Penetapan anggaran merupakan tahapan yang dimulai ketika pemerintah daerah menyerahkan usulan anggaran kepada pihak DPRD selanjutnya DPRD akan melakukan pembahasan untuk beberapa waktu. Selama masa pembahasan akan terjadi diskusi antara pihak panitia (badan) Anggaran DPRD dengan TAPD  dimana pada kesempatan ini pihak DPRD berkesempatan untuk menanyakan dasar-dasar kebijakan pemerintah daerah dalam membahas usulan anggaran tersebut. (Hal. 63).

Berpijak pada pernyataan di atas, sudah dapat dupastikan bahwa peran DPRD dalam melahirkan APBD yang merakyat sangat sentral, proses yang dimulai sejak pembahasan di Banggar hingga pada penetepan di rapat paripurna tentu ditentukan oleh kometmen dan konsistensi para wakil rakyat, jika mereka konsisten dalam memenuhi aspirasi masyarakat, maka bisa dipastikan anggaran yang disahkan juga akan berpihak pada kepentingan masyarakat umum.

Buku ini disajikan untuk mempertegas fungsi utama DPRD sebagai lembaga represntasi masyarakat, dalam konteks penganggaran, para anggota DPRD harus betul-betul memahami kondisi emperik dari segenap keungan daerah berikut kebutuhan rakyat yang harus dicover dalam APBD tersebut. Buku setebal 226 halaman ini tentu tidak hanya bemanfaat untuk menambah pengetahuan seputar fungsi penganggaran  anggota DPRD, lebih dari pada itu, kita bisa memahami bahwa fakta keberpihakan APBD terhadap rakyat sangat ditentukan oleh kometmen dari para wakil rakyat tersebut. Maka, mari kita kawal kometmen mereka sebagai wakil dari masyarakat. Selamat membaca.


Tulisan ini dimuat di harian Padang ekspres, 1 Oktober 2017

Mempertegas Peran Pengawasan Wakil Rakyat


Judul : Peran Pengawasan DPRD
Penulis  : Dadang Suwanda
Penerbit : Rosda Karya
Cetakan : 1. 2017
Tebal : 240 Halaman
ISBN : 978-979-692-744-9
Peresensi   : : Ahmad Wiyono*
DEWAN Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) merupakan lembaga representasi rakyat di tingkat daerah, lembaga ini juga menjadi unsur penyelenggara pemerintahan. DPRD memiliki sejumlah peran dan fungsi pokok, diantaranya adalah peran legislasi, kontrol dan penganggaran.

Sebagai lembaga perwakilan rakyat, DPRD tentu bertanggungjwab untuk memposisikan diri sebagai wakil dari masyarakat. Untuk itu, legislator  dituntut bisa mewakili segala aspirasi rakyat yang diwakili. Hal itu bisa diwujudkan dalam format perjuangan penganggaran yang betul-betul memihak pada kepentingan rakyat.

Buku ini mencoba mengurai sejulah fungsi dokok DPRD sebgai representasi masyarakat, fokus bahasan pada buku terbitan Rosda karya ini adalah pada spek pengawasan DPRD terhadap perjalana pemerintahan. Sehingga, secara garis besar penulis membagi fungsi pengawasan DPRD pada dua aspek, yaitu pengawasan kinerja dan pengawasan keuangan.

Dibidang pengawasan kinerja, DPRD mempunyai kewenangan untuk megawasi seluruh program kegiatan pemerintah yang bermuara pada laporan kinera pertanggung jawaban. Sementara dalam konteks pengawasan keuangan, DPRD memiliki hak untuk mengkaji proses penganggaran, pengesahan hingga pada realisasi keuangan itu sendiri. Proses ini nantinya akan berujung pada kegiatan laporan keuangan pemerintah daerah.

Mengawal dan menilai keberhasilan kinerja pemerintah daerah juga termasuk dalam ruang lingkup tanggungjwab DPRD, lembaga ini memiliki peran penting dalam menata dan mengoreksi sejauh mana keberhasilan pemerintah daerah dalam menjalankan amanah yang terutang dalam visi misinya. Untuk itu, pemerintah daerah tentu harus intensif melakukan komunikasi dengan para legisltor di gedung wakil rakyat. Demikian pula, DPRD harus objektif dalam memberikan penilaian sehingga keberhasilan pemerintahan tidak hanya sekedar simbolik.

Kesulitan yang dihadapi DPRD  dalam menilai keberhasilan dan atau kegagalan kepala daerah dalam pemcapaian visi dan misi adalah bahwa seringkali visi dirumuskan dalam bentuk kalimat yang sangat abstrak, tanpa disertai indikator pencapaian visi yang jelas dan terukur. Demikian pula berkenaan dengan misi yang akan dijalankan, untuk mencapai misi  sering tidak disertai dengan indikator pencapaian misi yang jelas dan terukur. (Hal. 73).

Dalam konteks inilah, anggota DPRD perlu memiliki kepekaan dan sikap kritis yang tinggi, sehingga capaian keberhasilan proram pemerintah daerah betul-betul sesuai dengan amanah visi dan misi yang telah ditawarkan. Fungsi kontrol dan pengawsan kinerja menjadi kata kunci dalam merekam denyut nadi kegiatan pemerintah daerah, jika tidak, maka perjalanan pemerintahan hanya bersifat formalitas.

Sementara itu, segala hal yang berkaitan dengan dugaan penyimpangan atau pun penyalahgunaan keuangan daerah, DPRD tentu harus memonitor sekaligus mengevaluasi seluruh dugaan tersebut, kendati DPRD tak memiliki kewenangan langsung, namun jika ada laporan dari Badan Pemeriksa keuangan (BPK) terkait kasus semacam itu, maka DPRD tentu harus mengawal proses penyelsasain kasus tersebut dengan baik.

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Fungsi Pengawasan DPRD terhadap Tindak lanjut Hasil Pemeriksaan BPK, labgkah-langkah yang dilakukan oleh DPRD dalam menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK adalah mengawasi dan memantau pelaksanaan tindak lanjut yang dilakukan oleh pemerintah daerah. (Hal. 203).

Buku ini akan memberikan pencerahan seputar tugas pokok DPRD, terutama terkait fungsi dasar, yaitu Legislasi, Budgeting, dan Controling. Membaca buku ini kita akan paham sejauh mana sebenarnya kinerja DPRD sebagai lembaga reprsentasi masyarakat. Sehingga, kita pun bisa menjadi alat Kontrol terhadap DPRD itu sedniri. Selamat Membaca.



Tulisan ini dimuat di Harian Malang Post, 15 oktober 2017

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons