Selasa, 11 Desember 2018

Mewaspadai Lahirnya Budaya Konsumtif


Judul Buku : Prosa Dari Praha
Penulis : Nana Supriatna
Penerbit     : Rosda Karya
Cetakan         : 1. 2018
Tebal : 382 Halaman
ISBN : 978-979-692-222-2
Peresensi         : Ahmad wiyono

Globalisasi betul-betul membawa ekses luar biasa terhadap eksistensi kehidupan manusia, terutama dalam membentuk minsed yang berimplikasi pada perilaku nyata manusia global tersebut. Salah satunya adalah budaya konsumtif yang sudah mulai sulit dihindari. Diakui atau tidak ini adalah bagian tak terpisahkan dari dampak globalisasi.

Prosa Dari Praha ini memotret dinamika kehidupan manusia saat arus globalisasi mulai menjamah sendi kehidupan mereka, buku ini menghadirkan fakta unik yan imajinatif seputar perbadingan kehidupan masa lalu, dan masa kini.  Semuanya diulas bernada prosa yang memvisualisasikan perjalanan manusia dalam melintasi sejarah kehidupan.

Lintasan sejarah yang digambarkan pemulis dalam buku terbitan Rosda Karya ini bermuara pada satu persoalan krusial tentang kehidupan manusia, yaitu lahirnya masyarakat konsumen dalam impitan kapitalisme global, inilah fakta sejarah masa kini di mana manusia tak bisa lepas dari cengkaraman kapitalisme sementara di satu sisi budaya konsumtif mereka kian meraja lela.

Ironisnya, jebakan kapitalisme global yang berdampak pada budaya konsumtif tersebut tak hanya menjarah masyarakat kota, namun juga merambah hingga pelosok desa, penulis menggambarkan suasana desa yang nyaris tak lagi menujukkan susasa yang ‘ndesa’ seperti yang dirasakan puluhan tahun sebelumya, semua sudah berubah menjadi kampung global yang bernafas mesin. Disaat yang bersamaan masyarakat tak lagi menunjukkan pola konsumsi yang ramah terhadap lingkungan desa itu sendiri.

Warga desaku sudah menjadi bagian dari warga global yang sama dengan warga dunia lainnya. Sama halnya dengan warga kotaku, seringkali mereka tidak sadar bahwa mereka sedang berada di bawah kuasa kekuatan yang tidak Nampak di sana. Siaran senitron di jam tayang selepas senja begitu menggoda mereka. Di acara tayangan menarik itu beragam iklan muncul megenai barang-barang konsumsi. (Hal. 141).

Dampak lain dari globalisasi yang cukup menggurita di negeri ini adalah maraknya eksploitasi terjahadp kaum perempuan, beragam cara dilakukan demi memenuhi hasrat kapital dalam menceramuk sistem kearifan lokal bangsa, kita bisa lihat bagaimana “sosok” perempuan harus mengalamai dekomodifikasi menjadi objek dengan menampilkan hamper seluruh tubuh di hadapan publik demi seuah kepentingan bisnis. Dalam waktu yang bersamaan tak jarang para “korban” merasa nyaman dengan posisi tersebut karena alas an kebutuhan materiil. Padahal, alasan kebutuhan itu tak semata kebutuhan dasar, melainkan imbas dari budaya konsumtif yang mulai menggurita d dalam kehidupan mereka. 

Penampilan dan kecantikan telah menjadi pusat identitas banyak perempuan. Gagasan perfect body sangat erat kaitannya dengan cita-cita sosioekonomi melalui budaya konsumen. Apa yang dialami banyak wanita diseluruh dunia dalam berimajinasi mengenai perfect body lebih dari apapun, adalah ketidakpuasan atas tubuh mereka yang terinternalisasi dalam jiwa mereka. Mereka mengevaluasi diri mereka sendiri melalui orang lain, karena, kata Sartre, “orang lain adalah nerakamu”. (Hal. 181-182).

Budaya konsumtif masyarakat modern memaksa mereka untuk melakukan berbagai macam cara agar keinginannya tercapai, meski lasannya hanya persoalan ternd dan gengsi. Tak jarang mereka harus melupakan keperluan dasar dalam kehidupan ini demi memenuhi kebutuhan gaya hidup yang dibungkus dalam budaya konsumtif itu. Yang paling menegrikan, demi memenuhi syahwat gengsi dan ternd tersebut, mereka harus mengeluarkan banyak uang untuk berbelanja di tempat yang jauh, dengan nilai yang cukup mahal. Budaya ini sudah biasa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Semakin mahal, semakin langka dan semakin jauh barang didapat mak semakin terangkat status sosial yang mendapatkan dan memilikinya. (Hal. 222). Tidak jarang barang yang kiita beli karena pengaruh orang lain. Apa yang orang lain konsumsi, kita pun ingin mengkonsumsinya. Apa yang orang lain beli, kita pun ingin membelinya. (Hal. 224). Inilah ironi budaya konsumtif manusia modern, berbelanja bukan karena kebutuhan melainkan keran gengsi yang berlebihan.

Inilah ancaman nyata yang mulai melanda masyarakat kita saat ini, teknologi betul-betul “menghasut” pola pikir masyarakat untuk menjadi kaum konsumtif. Maka, buku ini mengajarkan kita semua untuk lebih waspada terhadap segala bentuk produk teknologi informasi yang bisa membawa kita sebagai masyarakat konsumen, pastikan bahwa apa yang kita lihat aman untuk eksistensi kehidupan kita sendiri. Selamatkan diri kita dari budaya konsumtif. Selamat membaca.


Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos Radar Mojokerto, edisi 25 November 2018.

Senin, 26 November 2018

Silabi dan Konsepsi Kesehatan Modern


Judul Buku : Komunikasi Kesehatan
Penulis : Deddy Mulyana, dkk
Penerbit    : Rosda Karya
Cetakan    : 1. 2018
Tebal : 268 Halaman
ISBN : 978-602-446-202-4
Peresensi         : Ahmad Wiyono

Komunikasi kesehatan adalah salah satu konsep penganganan profesional medis yang harus dilakukan guna memetakan kondisi kesehatan pasien dalam suatu tindakan tertentu. Ini menjadi jalan pertama penanganan pihak medis dalam rangka menyelesaikan masalah pasien dibidang kesehatan.
Secara teoritis komonukasi kesehatan tidak hanya berbicara tentang masalah sakit tetapi bagaimana pula cara pencegahannya serta upaya promotif kesehatan itu sendiri. Makanya, komunikasi kesehatan mernajdi urgen sebagai salah satu metode konvergensi keilmuan di bidang kesehatan khususnya di abad modern saat ini.

Buku ini mengurai makna komunikasi kesehatan khususnya dalam penanganan medis, tak bisa dipungkiri bahwa ada bayak bahasa yang sulit ditebak dari seseorang yang sedang sakit, maka harus lahir komunikasi kesehatan yang efektif yang bisa menerjemahkan apa saja maksud dan keinginan seorang pasien yang sedang ditangani, dan ini memerlukan keahlian khusus dari seorang tenaga medis.

Seragkaian metode komunikasi kesehatan itu bisa kita dapati dalam buku terbitan Rosda karya ini, yang kemudian disebut sebagai konsep dunia kesehenatan modern, mengapa? Karena keahlian mendiagnosa penyakit pasien saja tidak cukup tanpa diimbangi dengan kemampuan membangun komunikasi kesehatan tu sendiri.

Salah satu aspek komunikasi kesehatan non verbal yang penting adalah sentuhan. Riset dalam komunikasi kesehatan menunjukkan bahwa kebutuhan pasien  akan sentuhan tidak dipenuhi oleh profesional medis (Kreps dan Thornton, 1992:33). Padahal, Pijatan dan sentuhan oleh dokter dan perawat telah menghasilkan energi positif pada pasien yang dirawat di rumah sakit. (Hal. 21).

Komunikasi kesehatan mencakup bagaimana peran teknik dan teknologi komunikasi  secara positif untuk memengaruhi individu, organisasi, komunitas dan penduduk yang tujuannya mempromosikan kondisi yang kondusif atau yang memungkinkan tumbuhnya kesehatan manusia dan lingkungan sekitarnya. (Hal. 33).

Model komunikasi yang baik antara tenaga kesehatan dengan pasien diharapkan akan berdampak terhadap lahirnya interaksi yang baik pula, ini perlu dilakukan agar proses umpan balik antara dokter dan pasien bisa berjalan dengan baik. Dengan lahirnya umpan balik tersebut, dokter dengan mudah mendeteksi setiapkeluhan yang dirasakan pasien dan yang terpenting upaya penanganannya jauh lebih muda disbandingkan dengan pasien yang tertutup.disinilah pentingnya komunikasi dan interaksi.

Interaksi antara dokter dan pasien dapat dilihat dalam bentuk struktur, yaitu dengan memperhatikan apa saja yang biasanya terjadi, apa yang harus terjadi dan apa saja tujuan yang terdapat pada situasi tersebut. Dengan membayangkan sikap umum yang biasa terjadi dalam interaksi  antara dokter dan pasien  maka akan didapat suatu model atau gambaran mengenai segala sesuatu yang terjadi dan dapat dimengerti mengenai apa yang keliru dan penyebabnya. Dengan cara yang sama dapat pula dianalisis pekerjaan dokter, yang dalam pendekatan structural ini dinamakan teori peranan (role theory). Dari segi sosiologi, setiap individu memainkan peranan dalam semua situasi social. (Hal. 28).

Sebagai buku pelopor pemikiran dan kajian dibidang komunikasi kesehatan, buku ini layak untuk menjadi rujukan utama para tenaga medis, khususnya yang sedang melakukan proses pendidikan dibidang kesehatan, agar nantinya bisa menguasai substansi konunikasi kesehatan saat berhadapan dengan pasien, sehingga seluruh kebutuhan fisik dan piskologis pasien bisa terpenuhi. Selamat membaca. 



Tulisan ini dimuat di Harian Umum Padang ekspres, edisi Ahad, 18 November 2018 



Selasa, 17 Oktober 2017

Agar APBD Memihak Pada Rakyat

Judul : Optimalisasi Fungsi Penganggaran DPRD
Penulis : Dadang Swanda
Penerbit : Rosda Karya
Cetakan : 2017
Tebal : 226 Halaman
ISBN : 978-979-692-718-0
Peresensi: Ahmad Wiyono*
Sedikitnya ada tiga tugas pokok dan fungsi utama yaing dimiliki oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) termasuk di daerah. Masing-masing adalah tugas Budgeting, Controling dan legislasi. Ketiga tugas tersebut wajib dijalankan oleh seluruh anggota legislatif sebagai proses penyelenggaraan pemerintahan, mulai dari pusat hingga daerah.

Dalam konteks kedaerhaan, DPRD memliki tanggungjawab muthlak untuk mewakili aspirasi rakyat melalui lembaga tersebut. Sehingga, seluruh rancangan kegiatan pemerintah bisa dipastikan memihak pada kepentingan masyarakat. Ini bisa terwujud jika dalam proses penganggaran, realisasi hingga pengawasannya, DPRD betul-betul membawa aspirasi masyarakat.

Buku berjudul Optimalisasi Fungsi Penganggaran DPRD ini mengulas tentang peran sebtral DPRD dalam proses penyusunan, pembahasan hingga pada pengawasan anggaran di daerah, yang tujuannya adalah untuk menghasilkan produk Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang betul-betul sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.

Perjuangan awal DPRD dalam memastikan pengaggaran yang populis untuk rakyat adaah dimulai dari pembahasan di Badan Anggaran (banggar) DPRD, dalam proses ini seluruh anggota banggar memiliki peran penting dalam mengarahkan kondisi anggaran sesuai aspirasi masyarakat. Untuk itu, konsistensi Banggar dalam menerjemahkan aspirasi masyarakat bisa dilihat dari struktur anggaran yang dihasilkan oleh Banggar itu sendiri.

Panitia anggaran (Badan Anggaran) DPRD adalah suatu tim khusus yang bertugas untuk memberikan saran dan masukan kepada kepala daerah tentang penetapan, perubahan dan perhitungan APBD yang diajukan oleh pemerintah daerah sebelum dirapatkan dalam rapat paripurna. (Hal. 61).

Penetapan anggaran merupakan tahapan yang dimulai ketika pemerintah daerah menyerahkan usulan anggaran kepada pihak DPRD selanjutnya DPRD akan melakukan pembahasan untuk beberapa waktu. Selama masa pembahasan akan terjadi diskusi antara pihak panitia (badan) Anggaran DPRD dengan TAPD  dimana pada kesempatan ini pihak DPRD berkesempatan untuk menanyakan dasar-dasar kebijakan pemerintah daerah dalam membahas usulan anggaran tersebut. (Hal. 63).

Berpijak pada pernyataan di atas, sudah dapat dupastikan bahwa peran DPRD dalam melahirkan APBD yang merakyat sangat sentral, proses yang dimulai sejak pembahasan di Banggar hingga pada penetepan di rapat paripurna tentu ditentukan oleh kometmen dan konsistensi para wakil rakyat, jika mereka konsisten dalam memenuhi aspirasi masyarakat, maka bisa dipastikan anggaran yang disahkan juga akan berpihak pada kepentingan masyarakat umum.

Buku ini disajikan untuk mempertegas fungsi utama DPRD sebagai lembaga represntasi masyarakat, dalam konteks penganggaran, para anggota DPRD harus betul-betul memahami kondisi emperik dari segenap keungan daerah berikut kebutuhan rakyat yang harus dicover dalam APBD tersebut. Buku setebal 226 halaman ini tentu tidak hanya bemanfaat untuk menambah pengetahuan seputar fungsi penganggaran  anggota DPRD, lebih dari pada itu, kita bisa memahami bahwa fakta keberpihakan APBD terhadap rakyat sangat ditentukan oleh kometmen dari para wakil rakyat tersebut. Maka, mari kita kawal kometmen mereka sebagai wakil dari masyarakat. Selamat membaca.


Tulisan ini dimuat di harian Padang ekspres, 1 Oktober 2017

Mempertegas Peran Pengawasan Wakil Rakyat


Judul : Peran Pengawasan DPRD
Penulis  : Dadang Suwanda
Penerbit : Rosda Karya
Cetakan : 1. 2017
Tebal : 240 Halaman
ISBN : 978-979-692-744-9
Peresensi   : : Ahmad Wiyono*
DEWAN Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) merupakan lembaga representasi rakyat di tingkat daerah, lembaga ini juga menjadi unsur penyelenggara pemerintahan. DPRD memiliki sejumlah peran dan fungsi pokok, diantaranya adalah peran legislasi, kontrol dan penganggaran.

Sebagai lembaga perwakilan rakyat, DPRD tentu bertanggungjwab untuk memposisikan diri sebagai wakil dari masyarakat. Untuk itu, legislator  dituntut bisa mewakili segala aspirasi rakyat yang diwakili. Hal itu bisa diwujudkan dalam format perjuangan penganggaran yang betul-betul memihak pada kepentingan rakyat.

Buku ini mencoba mengurai sejulah fungsi dokok DPRD sebgai representasi masyarakat, fokus bahasan pada buku terbitan Rosda karya ini adalah pada spek pengawasan DPRD terhadap perjalana pemerintahan. Sehingga, secara garis besar penulis membagi fungsi pengawasan DPRD pada dua aspek, yaitu pengawasan kinerja dan pengawasan keuangan.

Dibidang pengawasan kinerja, DPRD mempunyai kewenangan untuk megawasi seluruh program kegiatan pemerintah yang bermuara pada laporan kinera pertanggung jawaban. Sementara dalam konteks pengawasan keuangan, DPRD memiliki hak untuk mengkaji proses penganggaran, pengesahan hingga pada realisasi keuangan itu sendiri. Proses ini nantinya akan berujung pada kegiatan laporan keuangan pemerintah daerah.

Mengawal dan menilai keberhasilan kinerja pemerintah daerah juga termasuk dalam ruang lingkup tanggungjwab DPRD, lembaga ini memiliki peran penting dalam menata dan mengoreksi sejauh mana keberhasilan pemerintah daerah dalam menjalankan amanah yang terutang dalam visi misinya. Untuk itu, pemerintah daerah tentu harus intensif melakukan komunikasi dengan para legisltor di gedung wakil rakyat. Demikian pula, DPRD harus objektif dalam memberikan penilaian sehingga keberhasilan pemerintahan tidak hanya sekedar simbolik.

Kesulitan yang dihadapi DPRD  dalam menilai keberhasilan dan atau kegagalan kepala daerah dalam pemcapaian visi dan misi adalah bahwa seringkali visi dirumuskan dalam bentuk kalimat yang sangat abstrak, tanpa disertai indikator pencapaian visi yang jelas dan terukur. Demikian pula berkenaan dengan misi yang akan dijalankan, untuk mencapai misi  sering tidak disertai dengan indikator pencapaian misi yang jelas dan terukur. (Hal. 73).

Dalam konteks inilah, anggota DPRD perlu memiliki kepekaan dan sikap kritis yang tinggi, sehingga capaian keberhasilan proram pemerintah daerah betul-betul sesuai dengan amanah visi dan misi yang telah ditawarkan. Fungsi kontrol dan pengawsan kinerja menjadi kata kunci dalam merekam denyut nadi kegiatan pemerintah daerah, jika tidak, maka perjalanan pemerintahan hanya bersifat formalitas.

Sementara itu, segala hal yang berkaitan dengan dugaan penyimpangan atau pun penyalahgunaan keuangan daerah, DPRD tentu harus memonitor sekaligus mengevaluasi seluruh dugaan tersebut, kendati DPRD tak memiliki kewenangan langsung, namun jika ada laporan dari Badan Pemeriksa keuangan (BPK) terkait kasus semacam itu, maka DPRD tentu harus mengawal proses penyelsasain kasus tersebut dengan baik.

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Fungsi Pengawasan DPRD terhadap Tindak lanjut Hasil Pemeriksaan BPK, labgkah-langkah yang dilakukan oleh DPRD dalam menindaklanjuti hasil pemeriksaan BPK adalah mengawasi dan memantau pelaksanaan tindak lanjut yang dilakukan oleh pemerintah daerah. (Hal. 203).

Buku ini akan memberikan pencerahan seputar tugas pokok DPRD, terutama terkait fungsi dasar, yaitu Legislasi, Budgeting, dan Controling. Membaca buku ini kita akan paham sejauh mana sebenarnya kinerja DPRD sebagai lembaga reprsentasi masyarakat. Sehingga, kita pun bisa menjadi alat Kontrol terhadap DPRD itu sedniri. Selamat Membaca.



Tulisan ini dimuat di Harian Malang Post, 15 oktober 2017

Jumat, 03 Maret 2017

Doa-doa Istijabah Amalan Muslimah

udul : Wahai Muslimah, inilah Doamu
Pemulis : Sita Simpati
Penerbit : Mizania
Cetakan : 1. 2016
Tebal : 178 Halaman
ISBN : 978-602-418-054-6
Sebenarnya tidak ada perbedaan khusus doa antara laki-laki dan perempuan, setiap doa bebas disampaikan oleh siapa saja, termasuk oleh semua jenis kelamin. Hanya saja dalam konteks tertentu, perempuan atau muslimah memiliki keistimewaan tersendiri dalam melantunkan doa. 

Salah satunya adalah karena muslimah memiliki satu peran yang tidak bisa dimiliki oleh seorang lakilaki, semisal hamil danmelahirkan, peran ini jelas secara kodrati hanya dimiliki oleh perempuan. Nah, dalam kontkes inilah muslimah dinilia memiliki keistimewaan, sehingga kodrat itulah yang kemudian dianggap memliki implikasi doa yang istijabah bagi seorang muslimah.

Isi buku ini sebenarnya lebih menekankan keutamaan doa yang dilantunkan oleh seorang muslimah, tentu dengan alasan sejumlah segmentasi peran dan keistimewaan muslimah itu sendiri. Di awal pembuka buku ini secara umum mengulas bagaimana tata cara berdoa yang baik dan benar sehingga bisa berdampak secara langsung terhadap diijabahanya doa tersebut. Tata cara berdoa ini digambarkan dalam bentuk uraian teoritis namun mudah dipraktikkan.

Doa yang baik adalah doa yang dipanjatkan tanpa keraguan sambil meyakini bahwa Allah Swt. Akan senantiasa bersama hamba-hambanya yang sabar. Rasulullah Saw juga menekankan pentingnya doa sebagai salah satu faktor tercapainya keinginan dan haraoan kita. Beliau bahkan meimnta kita untuk tak pernah berputus asa dalam berdoa (Hal. 8).

Selain itu, doa juga harus dlakukan berdasarkan etika dan cara yang baik, hal ini juga berkaitan dengan peluang diijabahnya doa tersebut, dalam buku ini juga diurai bagaimana etika berdoa tersebut, tentu bagi seorang muslimah yang memiliki harapan besar tentang sesuatu, maka setiap berdoa harus memperhatikan sejumlah etika seperti yang sudah diurai dalam buku terbitan Mizania ini. 

Sejumlah etika itu antara lain adalah berdoa hanya kepada Allah, yakin akan dikabulkan, berdoa dengan rendah hati dan suara lembut, tidak berlebih-lebihan dalam sikap dan permintaan, memanjatkan doa dibarengi rasa takut dan penuh harap, doa diulang sampai tiga kali, bukan mendoakan keburukan,dipanjatkan sendiri, menengadahkan bagian dalam telapak tangan, diawali dengan asmaul khusna, serta dimulai dengan hamdalah dan shalawat (hal. 24-26).

Mengingat sisi keistimewaan kaum muslimah sehingga mendapat porsi khusus dalam diterimnya doa,maka penting sekali kaum hawa tersebut untuk selalu memanjatkan doa demi kebaikan dan harapan semua orang yang dia doakan. Kompelksitas peran yang dimiliki oleh kaum perempuan menjadikannya istimewa, sehingga doanya pun tergolong sitimewa. Buku ini juga dilengkapi dengan sejumlah contoh doa dan amalan yang bisa dilantunkan oleh kaum muslimah. 

Saudariku, wanita dengan beragam peran yang harus dijlaninya tentu tak bisa lepas dari maalah, apalagi secara fitrah, wanita lebih banyak mengedapankan hati atau perasaan  untuk menilai sesuatu. Karena itu, kita harus menyiasati agar kita dapat menutupi kelemahan itu sehingga menjadi lebih tegar tatkala kita dirundung masalah (Hal. 45) 



Dimuat di Harian Samarinda Pos

Reportase Khazanah Kebudayaan Islam Dunia

Judul : 1001 Masjid di 5 Benua
Penulis :  Taufik Uieks
Penerbit : Mizan
Cetakan : 1. 2016
Tebal : 254 Halaman
ISBN : 978-979-433-973-8
Semua orang tentu sepakat, bahwa Masjid adalah tempat beribadah bagi umat islam, di tempat inilah manusia melakukan komunikasi ritual dengan Tuhan, makanya masjid sering disebut sebagai rumah Allah. 

Lebih dari pada itu, masjid ternyata juga menjadi pusat khazanah kebudayan islam, setumpuk rekaman peradaban islam masa lalu tak jarang kita temui dalam sebuah masjid, di sana pula sejarah perjuangan sebuah bangsa kadang terekam dengan utuh, mulai dari arsitek bangunannya, monumen-monumen yang ada di dalamnya, termasuk benda-beda sejarah yang tersimpan utuh, semua menyimpan pesan sejarah yang tidak mungkin terlupakan oleh pergulatan zaman.

1001 Masjid dari berbagai belahan dunia yang pernah disinggahi penulis buku ini mencerminkan khazanah dan kekayaan kebudayaan islam dunia, ada jutaan rekaman peristiwa yang pernah terjadi di daerah tersebut, yang kemudian tersaji dalam kekokohan rumah Allah yang begitu beraneka bentuk, termasuk ornament yang sangat unik itu. 

Masjid-masjid dunia yang diceritakan dalam catatan perjalanan penulis di buku ini tak hanya menggambarkan tentang keindahan pesona masjid, namun juga mengandung nilai history yang  begitu dalam, begitu juga makna solidaritas dan persaudaraan yang penulis temukan dari setiap orang yang pernah dtemui di majid tersebut, dengan latar belakang etnis, suku bahkan Negara yang berbeda.

Salah satu kisah unik yang penulis temukan dalam perjalannya mengitari sejumlah masjid dunia dalah ketika berkunjung ke masjid Kapitan keling, masjid ini terletak di salah satu pulau di Malaysia. Penulis menemukan ada Al-Qur’an yang telah diterjemah hingga 10 bahasa, ini tentu menarik, mengingat  Al-Quran yang dterjemah hingga 10 bahasa. Sebuah kekayaan budaya yang terpancar dari rumah Allah.

Ketika kembali ke halaman, saya mendekati menara masjid, lalu berusaha melihatnya dari sudut lain dengan latar belakang bangunan-bangunan tua yang ada di seberang masjid. Ketika berada di deipan pintu kaca pusat informasi yang ada di bawah menara, sempat diperlihatkan  bahwa kedua sisi pntunya dihiasi dengan suat Al-‘Ashr ayat 1-3, yang selain dalam bahasa arab juga diterjemahkan dalam Sembilan bahasa; yaitu Inggris, Prancis, Spanyol, Italia, Jerman, Belanda, Cina, Jepang, dan Korea (Hal. 86).

Keunikan lain yang ditemukan penulis dalam catatan perjalanannya mengelilingi masjid dunia adalah saat berkunjung ke Zentralmoschee, salah satu masjid di Jerman, masjid yang satu ini  memiliki kekhasan dalam model bangunan, baik dari penataan bangunan masjid, hingga hal-hal kecil seperti tempat wudhu.
Yang paling menarik perhatian penulis, adalah tempat wudhuh yang persis mirip toilet, sehingga hal itu menjadi pusat perhatian bagi setiap orang yang berkunjung ke masjid tersebut. Tempat wudhu tiu menjadi daya tarik khsus utamanya bagi orang yang baru pertama kali mengujunginya.

Yang membuat saya sedikit terkejut adalah bentuk tempat wudhunya. Tidak seperti kebanyakan masjid lainnya, tempat wudhu di masjid ini berbetuk toilet (toilet wanita) yang dimodifikasi (Hal. 132).

Lain halnya dengan Masjid di Wasinton DC, masjid di tmpat itu juga hadir sebagai pusat edukasi budaya, bahkan uniknya, masjid itu memajang bendera terbanyak di dunia.

Pendeknya, di The Islamic Centre of Wasington DC, selain beribadah, kita juga belajar dan mengenal berbagai perspektif budaya negeri-negeri islam dari segala pelosok dunuia. Namun, yang paling mengesankan dari masjid tersebut adalah deretan bendera yang menghiasi halamnnya yang luas (Hal. 220)


Dimuat di Harian tribun jateng, 26 Pebruari 2017

Sepenggal Kisah Perempuan Penyintas Kanker

Judul : Think Pink
Penulis : Arie Primadewi
Penerbit : qanita
Cetakan : 1. 2016
Tebal : 101 Halaman
ISBN : 978-602-402-048-4
Kalau bisa memilih,  tentu tak ada manusia yang mau mengidap penyakit kanker, salah satu penyakit berbahaya yang konon bisa merenggut nyawa manusia. Namun siapa yang bisa melawan takdir, tak sedikit manusia yang kadang tiba-tba divonis mengidap penyakit mengerikan tersebut.

Itu barangkali yang dirasakan oleh seorang Arie Primadewi Sukamto, peremuan tegar penyintas kanker payudara dalam kisah Think Pink-nya ini. sebuah kenyataan hidup yang tidak boleh tidak harus menghinggapi lembaran sejarah kehidupannya. Tapi baginya, itu bukan akhir dari segalanya, di tengah himpitan penyakit yang menderanya, dia masih bisa tegar, bahkan terus optimis menatap jauh hari esok.

Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa sakit adalah sesutau yang tidak menyenangkan, suasana menjadi tidak asyik, bahkan cenderung kelam, itu juga dia rasakan. Apalagi bagi seorang ibu, jika ibu sakit, maka seluruh isi rumah akan menjadi buram, anak dan suami tentu seperti kehilangan kemudi. Dan inilah curahan  hati seorang penyintas kanker Payudara tentang Susana kelam masa sakit.

Saat sakit, aku juga merasakan rumah serasa tak ada aura segarnya. Rumah bagaikan kehilangan geliatnya karena anak dan suami sedih –walau mereka berusaha tak memperlihatkannya (Hal. 15).

Vonis kanker yang didapatkannya tentu menggoncangkan perasaan dan jiwanya, namun hal itu belum menjadi “kiamat” bagi dirinya. Ada harapan untuk memperbaiki semuanya. Itu dia buktikan, sehingga dia tetap mampu tegar dan berusaha mencari jalan keluar. Membangun motivasi diri adalah salah satu kunci keberhasilannya menjalani masa-masa kelam tersebut. Dia yakinkan bahwa pasti ada jalan dan hikmah besar di balik semua itu. Karena rencana Tuhan selalu istimewa.

Jadi, kanker bukan hal yang harus ku sesali, melainkan harus ku syukuri sebagai titik awal hidup penuh kualitas yang tak lagi begantung pada obat-obatan, jauh dari sakit-sakit ringan maupun  berat.

Nah, bagi teman-teman yang merasa dunia runtuh karena tervonis kanker, ubah, yuuk, mindset-nya. Jadikan ini titik awal untuk idup penuh kualitas, berjuang untuk diri sendiri sebagai tanggung jawab dan rasa cinta pada keluarga, anak dan suami (Hal. 54).

Ini bukan ungkapan biasa, ada kekuatan hati yang mendorong setiap desah dafas dan ucapannya. Sepenggal kisahnya dalam menjalani hdup sebagai penderita kanker begitu anggun terurai dalam buku terbitan  qanita ini. Dan hal teroenting adalah inspirasi dari perjuangnnya dalam menjalani masa kelam tersebut.

Vonis kanker yang dia terima pada tahun 2013 silam, ternyata tidak menjadikan surut semangat juangnya, ibu 3 anak hebat ini justeru terus berupaya setegar mungkin untuk mencari solsui terbaik tanpa harus berputus asa dan menyerah terhadap nasib. Dan itulah yang menjadikan dirinya sebagai perempuan hebat penyintas kanker payudara. Sungguh inspiratif.



Dimuat di Harian Bhirawa


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons