Senin, 01 Agustus 2016

Referensi Kisah Hikmah Inspirasi Ramadan

Judul        : 150 Kisah Abu Bakar Al-Shiddiq
Penulis        : Ahmad Abdul Al-Thanthawi
Penerbit    : Mizania
Cetakan    : 1. 2016
Tebal        : 161 Halaman
ISBN        : 978-602-418-011-9
Tidak terasa, bulan suci ramadlan kembali tiba. Umat islam di seluruh penjuru bumi tentu menyambutnya dengan hati gembira. Lantaran bulan yang satu ini diyakini menjadi bulan penuh hikmah, ampunan, serta bulan penuh rahmat.

Salah satu kegiatan unik dan bermakna di bulan suci adalah semarak syiar keislaman yang digemakan dari berbagai media, seperti masjid, mushalla, layar kaca, media eletronik termasuk surat kabar. Semua mengusung identitas syiar dan mengajak kebaikan untuk seluruh umat manusia.

Kuliah tujuh menit (kultum) misalnya, hampir disemua media kita menemukan segmen itu, termasuk kultum dan mutiara hikmah di masjid dan mushallah. Tema yang diusung pun beragam, mulai dari kisah perjalanan para nabi, sahabat dan lain sebagianya. Termssuk kisah perjalanan tokoh-tokoh muslim dari bebagai lintasan masa.

Salah satu referensi yang layak dijadikan rujukan untuk kegiatan syiar hikmah di bulan suci ini bisa kita petik dari buku berjudul 150 kisah Abu Bakar Al-Shiddiq. Buku ini secara detil mengulas berbagai sisi pejalanan kholifah Abu Bakar yang sangat inspiratif untuk menambah pengetahauan umat islam saat menjalankan ibadah puasa.

Kisah Abu bakar yang diurai dalam buku terbitan Mizania ini diambil dari berbagai sisi kehidupannya, mulai sejak menjadi sahabat Nabi, hingga menjadi kholifah, bahkan menjelang keprgiannya menghadap sang pencipta. Semua kisahnya sangat memukau dan menjadi penyejuk bagi setiap hati pembacanya.

Seperti kisah saat Abu Bakar menemui orang-orang yang telah membunuh anaknya sendiri. Ada sesuatu yang luar biasa yang dia tunjukkan kepada orang-orang, dan justru itu semua di luar nalar logika manusia biasa. Ketika Abu Bakar bertemu dengan pembunuh anaknya, reaksinya bukan malah membalas dendam atau minimal mengancamnya, malah dia berterimakasih kepada sang pembunuh tersebut.

Ketika mereka telah datang, Abu Bakar bertanya. “Apakah ada diantara kalian yang mengenal panah ini”?. Lalu Sa’id ibn Ubaid berkata, “Aku yang membuatnya dan melepaskannya”. Kemudian Abu Bakar berkata, “panah inilah yang telah membunuh Abdullah, anakku. Segala puji bagi Allah yang memuliakannya dengan tanganmu (dengan mati syahid) dan tidak menghinakanmu dengan tangannya (kau mati dalam keadaan kafir) dan Allah member kekuasaan pada kalian berdua (Hal. 76).

Kisah lainnya adalah seputar kedermawanan Khalifah Abu Bakar, di mana dia selalu memberikan sesutu yang berharga kepada orang-orang yang membuthkan. Harta yang diberikan Abu Bakar jelas merupakan harta pribadinya. Tidak pernah Abu Bakar memberikan seuatu di luar harta yang memang miliknya sendiri. Kecuali kegiatan yang memang bersifat kenegaraan.

Abu Bakar membeli kuda, senjata dan unta untuk dipergunakan di jalan Allah SWT. Dia pun setiap tahun membelikan beberapa potong pakaian yang didatangkan dari desa, lalau dibagikannya kepada para janda penduduk kota Madinah pada musim dingin. Jumlah harta Abu Bakar mencapai 200 dirham yang kemudian dia bagikan di jalan kebaikan (Hal. 136).

Umar ibn Al-Khaththab pernah mengurusi seorang perempuan tua renta dan buta yang tinggal di pinggiran kota Madinah. Dia memberinya minum dan membantu keperluan lainnya. Pada hari berikutnya, dia mendapati seseorang telah mendahuluinya, dan telah mengurusi keperluan perempuan tua dan buta itu. Karea penasaran, akhirnya Umar mencari tahu siapa orang itu dengan mendatanginya lebih awal, teryata orang itu adalah Abu Bakar, yang sat itu menjabat sebagai kholifah (Hal. 137-138).

Tiga kisah ketokohan Abu Bakar di atas hanya sebagian dari ratusan kisah lainnya yang kesemuanya sarat dengan hikmah. Buku ini mengurai sepenuhnya kisah perjalanan kholifah pertama tersebut. Dalam buku ini pula dijabarkan beberapa peristiwa penting perjalanan islam dalam masa kepemimpian sang Abu Bakar.

Bulan suci Ramadhan tahun ini akan semakin terasa keistimewaanya  jika dilengkapi dengan bacaaan yang penuh hikmah ini. Buku ini layak menjadi rujukan syiar, terutama dalam momentum bulan suci ramadlan tahun ini. Buku kisah Abu Bakar ini mengungkap keistimewaan kholifah pertama umat islam serta pergulatannya dalam menyebarkan Islam di tengah tengah masyarakat jahiliyah.


dimuat di harian Duta Masyarakat

Siraman Rohani Inspirasi Bulan Suci

Judul        : Bila Doa Tal Terjawab
Penulis        : KH. Zainuddin, MZ
Penyunting    : Cecep Romli
Penerbit    : Noura Book
Cetakan    : 1. April 2016
Tebal        : 290 Halaman
ISBN        : 978-602-385-083-9
Peresensi    : Ahmad Wiyono
Bulan ramadan identik dengan bulan suci, umat islam meyakininya sebagai saah satu bulan yang penuh dengan sejuta keistimewaan. Lantaran di dalamnya sarat dengan sejuta hikmah, ampunan serta kasih sayang-Nya.

Salah satu karakteristik bulan suci ramadlan adalah ghirah dakwah dan syiar keislaman yang terus menggemma sepanjang waktu. Bisa kita lihat bagaimana media eletronik dan televisi hampir sepanjang hari menyajikan program dakwah yang bertemakan bulan suci atau pun syiar keislaman lainnya. Termasuk juga surat kabar dan sosial media yang juga tak luput menjadi media syiar tersebut.

Buku berjudul Ngaji Bareng KH. Zainuddin MZ, Bila Doa Tak terjawab ini merupakan kumpulan mauidzah hasanah atau ceramah keagaaman yang oernah disampaikan oleh dai kondang itu dalam berbagai kesempatan. Di dalamnya mengupas sekitar tujuh tema keagamaan yang rupanya sangat pas untuk dijadikan referensi dakwah di bulan suci ini.

Selain berisi kajian keislaman yang mendalam, buku ini juga dilengkapi dengan beberapa kisah-kisah inspiratif para tokoh-tokoh muslim dari berbagai generasi, sehingga keberadaan kisah yang diurai dalam buku terbitan Noura Book ini sangat layak untuk dikonsumsi masyarakat muslim utamanya dalam momentum bulan suci seperti saat sekarang ini. Di mana kita sering mendapatkan muiara hikmah di bulan suci ini yang isinya sepuar kisah para nabi, sahabat atau tokoh muslim lainnya.

Seperti kisah Nabi Adam as, kisah perjuangan Nabi Musa as menghadapi Fir’aun, dan kisah-kisah lainnya. Dalam buku ini diulas secara detil kisah-kisah perjalanan utusan Allah tersebut. Tak hanya bernilai sejarah, namun hikmah dari perjalanan perjuangaan para nabi itulah yang dkupas mendalam, sehingga semua kisah itu bisa memberikan pengetahuan dan pelAjaran kepada siapapun yang membacanya.
Buku ini dibagi dalam dua bagian utama, di mana masing-masing bagian memiliki tema-tema tersendiri. Namun demikian secara umum tema yang diusung adalah seputar keislaman dan keimanan. Keislaman dan keimanan tersebut dirangkum dari beberapa nash dan dalil sekaligus dari kisah dan perjalanan tokoh-tokoh muslim ternama. Itulah sebabnya, buku ini sekali lagi sanat layak menjadi referensi hikmah bulan suci. Baik untuk kepentingan konsumi pribadi lebih-lebih untuk ditrasformasikan kepada khalayak publik.

Bulan Suci Momentum Bersihkan Hati
Manusia tentu memiliki sifat baik dan buruk, kedua sifat itu secara natural diproses oleh hati. maka hati yang bersih cenderung akan  berbuah kebaikan, sebaliknya hati yang kotor akan berdanpak kejelekan. nah, kondisi pada posisi yang kedua ini disebut-sebut akibat terjadi penyakit  rohani. Di mana secara kejiwaaan manusia memiliki problem yang muaranya adalah pada aspek keimanan.

Ada banyak jenis penyakit rohani yang kerap melanda manusia, seperti dengki, iri hati, tidak iklas terhadap apa yang telah diberikan Allah kepadanya, tidak sabar terhadap segala ujian yang diberikan Allah kepadanya. Termasuk di dalamnya adalah malas dalam berusaha dan beribadah kepada Allah. Semua itu merupakan bagian dari penyakit rohani yang sangat berbahaya terhadap  kualitas keislaman seseorang.
Malas berusaha, malas beribadah, adalah penyakit rohani yang ditiupakn iblis ke dalam sanubari kita. Makin tinggi nilai iman, makin berat bisikan kemalasan itu. Namun, kalau kita bentengi dengan kesadaran bahwa malas kita hari ini akan membawa penyesalan, bukan besok, bukan lusa, bukan minggu depan, bukan bulan dpan, . barangkali tahun depan, lima atau sepuluh tahun yang akan datang, bahkan pada masa depan yang paling depan di alam kubur, di alam akhirat (Hal. 77).

Penyakit rohani lainnya yang diulas dalam buku ini adalah lahirnya ketakutan akan kematian, padahal mati adalah sebuah keniscayaan. Sifat ini tentu merupakan imlikasi dari mengkaratnya sifat-sifat tidak baik yang dilakukan oleh manusia. Sehingga dia sama sekali tidak memiliki persiapan untuk keluar dari kehidupan dunia menuju kehiduan akhirat.

Hadirnya buku ihi diharapkan mampu menjadi penyejuk jiwa manusia, terutama dalam bulan suci Ramadan ini bisa dijadikan salah satu referensi untuk kembali membasuh jiwa kita sehingga bisa terhindar dari berbagai penyakit rohani yang menggangu ksucian hati manusia. Buku ini tak hanya isnpiratif, tapi juga solutif.


Dimuat di harian Kabar Madura

Kamis, 09 Juni 2016

Membedah Salah Kaprah Pembelajaran PAUD

Judul : Seabrek Kesalahan Guru PAUD
Penulis : Andini Widyastuti
Penerbit   : Diva Press
Cetakan    : 1. Juni 2016
Tebal : 192 Halaman
ISBN : 978-602391-176-9
Peresensi : Nur Anisah*
Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki tugas dan tanggung jawab serupa dengan guru lain pada umumnya, yaitu tanggung jawab profesionalime dan kualifikasi akademik yang memadai. Sehingga guru PAUD bisa memciptakan suasana pembelajran yang baik dan bermutu.

Profesionalitas guru PAUD merupakan keniscayaan utama. Dalam hal ini, guru-guru PAUD yang ideal sangat dibutuhkan bagi pengembangan pendidikan anak di Indonesia. Artinya guru mampu menjalani profesi sesuai prosesdur, menjunjung tinggi etika dan ilmu, serta memiliki etos untuk menciptakan berbagai inovasi bagi pengembangan PAUD itu sendiri. Hal yang tidak kalah penting adalah menghindarkan diri dari berbagai kesalahan dalam mengajar anak didik yang dianggap remeh (Hal. 24).

Tentang beragam kesalahan yang kerap dilakukan oleh guru PAUD bisa kita temukan dalam buku bejudul seabrek Kesalahan Guru PAUD yang sering ditemehkan karya Andini Widiyastuti ini. Dalam buku ini diulas secara lengkap berbagai macam kesalahan kesalahan yang dianggap sederhana namun bisa berdampak fatal terhadap mutu pebelajaran teruatama terhadap mental anak didik.

Kesalahan mengajar guru PAUD, secara langsung atau tidak langsung diyakini bisa berdapak buruk terhadap tumbuh kembang peserta didik, karena peserta didik notabeni masih belia sehinggga cara mengankap materi yang diajarkan masih sangat polos, dalam hal ini kesalahan yang diperbuat oleh guru cenderung akan menjadi boomerang terhadap laju perkembangan mental, dan otak si kecil. Maka guru harus betul-betul memperhatikan cara yang benar dalam mengajar peserta didik usia dini.

Seperti sikap memanja yang berlebihan, tak sedikit kita jumpai guru PAUD yang dengan rela memberikan perhatian lebih pada anak didiknya namun tanpa sadar mereka terjebak pada siakp memanja yang cenderung berlebihan. Alasan ingin memberikan kasih sayang yang terbaik pada anak didik, namun secara tidak langsung anak didik dipola dengan sikap kemanjaan yang besar. Ini adalah kesalahan awal yang kadang tidak disadari oleh guru PAUD.

Sikap selalu memanjakan berbanding terbalik dari mendidik secara kaku dan keras. Cermin kesalahan guru memanjakan secara berlebihan ialah ketika selalu mengikuti segala seuatu yang diminta oleh anak didiknya tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu. Padahal, sikap semacam itu hanya akan menambahkan kebiasaaan negatif  bagi anak. Jika dalam tataran pendidikan usia dini guru tidak berhenti menambahkan kebiasaan negatif tersebut, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang selalu tergantung pada orang lain (Hal. 45).

Kesalahan lainnya adalah minimnya pemahaman guru PAUD terhadap bahasa anak,  sering kita jumpai dimana guru PAUD menggunakan bahasa yang sama antara ketika berkomunikasi dengan anak baita, SD atau bahkan SMA. Jika ini terjadi, maka anak didik tingkat PAUD akan merasa bosan karena belum bisa menjangkau pola komukasi yang dilakukan oleh guru tersebut.

Buku ini juga mengulas tentang kebiasaan guru PAUD di dalam menangani kenakalan anak didiknya, ada beberapa tindakan yang ternyata kadang tidak sesuai dengan karakter anak kecil. Guru PAUD tidak memiliki metode khusus dalam menangani kenakalan anak didik, sehingga itu berdampak buruk terhadap tumbuh kembang mereka. Dalam bahasa yang sederhana, guru kurang kretaif dalam melakukan  problem soulving sehingga hanya terpaku pada satu metode yang dia punya.

Ketika menyikapi kenakalan anak hanya dengan satu pola, mereka hanya menerapkan langkah pereventif. Hal yang dilakukan guru hanya sebatas memberikan beragam nasihat yang bersifat keras serta hukuman dengan dalih kenakalan anak dapat terbendung ataupun merasa jera. Oleh sebab itu, agar terhindar dari kesalahan dalam menyikapi perilaku menyimpang pada anak, para pendidik perlu menelusuri latar belakang atau alasan anak didiknya melakukan kesalahan tersebut (Hal. 122).

Buku ini mencoba menangkap berbagai fakta umum kesalahn guru PAUD dalam menjalankan tugasnya, sekaligus juga menawarkan beragam solusi untuk memperbaikinya. Buku terbitan Diva press ini rupanya sangat layak untuk dijadikan bahan bacaan utamanya para guru PAUD sehingga bisa terhidnar dari berbagai kesalahan dalam melakukan proses belajar mengajar. Sehingga bisa menghasilkan pembelajaran bermutu, dan mampu meproduk SDM yang berkualitas. 


Tulisan ini dimuat di Harian Bhirawa, 10 Juni 2016


Semburat Hikmah Mutiara Ramadlan

Judul : Mutara Kearifan Ali bin Abi Thalib
Penyunting : Muhammad Al-Baqir
Penerbit : Noura Book
Cetakan : 1. April 2016
Tebal : 299 Halaman
ISBN : 978-602-385-071-6
Peresensi : Nur Anisah*
Kekayaan adalah “tanah air” meskipun seseorang berada di negeri asing, dan kemiskinan adalah “keterasingan” sekalipun seseorang berada di negeri sendiri (Ali bin Abi Thalib)

Begitulah salah satu kata hikmah sayyidina Ali yang diurai dalam buku berjudul Mutiara kearifan Ali bin Abi Thalib terbitan Noura Book ini. Buku ini memuat ratusan kata hikamh yang penuh engan pesan moral terhadap umat islam di muka bumi ini.
Meski tidak ada relasi khsus antara buku ini dengan bulan suci, namun keberadaan mutiara hikmah yang diurai di dalamnya sangat pas jika dikaitkan dengan momentum bulan  ramadlan. Lantaran lantunan kata bijak yang ada di buku ini sangat pas dijadikan rerefensi untuk disampaikan dalam berbaagai segmen kegiatan syiar bulan penuh hikmah tersebut.

Salah satunya tentang substansi ikhlas dalam beribadah kepada Allah, puasa merupakan salah satu jenis ibadah wajib yang dilakukan manusia setiap bulan ramadlan, namun tidak sedkit manusia yang melakukannya tidak berdasarkan ikhlas dan tujuan mencapai ridla-Nya. Masih ada yang mengharapkan imbalan lain karena belum mengetahui apa substansi ibadah itu sendiri. Tak terkeculai ibadah-ibadah lainnya di luar puasa.

Sebagian orang beribadah kepada Allah semata-mata karena mengharapkan imbalan, dan itulah ibadahnya para pedagang. Sebagian lagi beribadah karena takut terkena hukuman, dan itulah ibadanya para hamba sahaya. Dan sebagian lagi beribada karena bersyukur kepada Allah, dan itulah ibadahnya orang-orang yang merdeka jiwanya (Hal. 89).

Buku ini memuat ratusan kata hikmah yang pernah disampaikan lasnung oleh sayyidina Ali ra. Beragam tema dan topik secara lengkap terurai dalam buku setebal 299 halaman ini. Untaian hikmah beliau tersampaikan secara lugas sehingga mudah dicerna oleh segenap pembaca. 

Momentum bulan Suci Ramadlan adalah satu dari sekian banyakn moment yang pas unuk mengangkat syiar keislaman melalui mutiara-mutiara hikmah yang sarat akan kebajikan dan kebijakan tersebut. Melalui bait-bait mutiara hikmah, kita bisa berbagi ilmu dan mengajak manusia lain untuk terus melakukan kebaikan dalam rangka menggapai ridla-Nya. Dan buku ini sangat pas menjadi rujukan syiar tersebut.

Paksakanlah dirimu agar tetap menanam kebaikan kepada saudaramu disaat ia memutuskan hubungan denganmu. Berusahalah agar tetap bersikap lunak serta mendekatinya disaat ia berpaling darimu. Bersikaplah dermawan kepadanya disaat ia menunjukkan kebakhilannya kepadamu (Hal. 145).


Tulisan ini dimuat di Harian Koran Madura, 10 Juni 2016


Pendidikan dan Tuntutan Profesionalisme Guru

Judul : Tips Efektif Cooperative Learning
Penulis : Jamal Ma’mur Asmani
Penerbit : Diva Press
Cetakan : 1. Januari 2016
Tebal : 224 Halaman
ISBN : 978-602-391-074-8
Peresensi : Ahmad Wiyono*

Salah satu tuntutan besar tenaga pendidik adalah terbentuknya karakter profesionalisme dalam pelaksanaan pembelajaran sekaligus dalam implementasi peran pokok dan fungsinya, baik di dalam proses kegiatan belajar mengajarar (KBM) atau pun dalam koteks kegatan non akademik lainnya.

Amanat Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang fokus pada penguatan kualifikasi, kompetensi dan sertifikasi menjadi instrument awal pergerakan profesionalitas  tenaga Pendidik, di mana tiga amanat besar itu menjadi kata kunci dari terwujudnya karakater profesioanl  para guru atau dosen tiu sendiri. Sehingga, tidak boleh tidak, setiap tanaga pendidik sudah diwajibkan untuk bisa memenuhi tiga komponen utama tersebut.

Satu dari sekian banyak langkah strategis untuk mewujudkan idealisasi profesionalisme tenaga pendidik tersebut bisa diwujudkan dengan keterampilan sang pendidik dalam menerapkan pelbagai model pembelajaran yang fariatif dan mudah dicerna oleh sang peserta didik. Diantaranya model pembelajaran kooperatif atau Cooperataive Learning, pola ini menekankan pada keaktifan peserta didik sehingga mereka tidak lagi berposisi sebagai objek, namun pelaku utama dalam proses pembelajaran.

Dalam buku ini secara detil diurai seputar makna dan substansi Cooperative Learning, mulai dari makna dan tujuannya, keunggulan dan manfaatnya, hingga cara praktis dalm menerapkan pola pemeblajaran tersebut, muaranya diharapkan akan terbentuk satu sistem pembelajaran yang aktif, kreatif dan tidak membosankan.

Pembelajaran yang menyenangkan (Fun Education) belakangan disebut-sebt sebagai pola paling efektif dalam rangka memaksimalkan pola serap peserta didik terhadap pelajaran yang disampaikan, karena pola berfikir peserta didik mudah distimulasi disaat pola pembelajaran yang dikuti mereka penuh ketenangan dalam suasana yang damai tanpa tekanan. Fun Education sendiri merupakan bagian tak terpisahkan dalam kerangka pemlajaran yang berbasis Cooperative Learning.

Hal itu yang menjadi keunggulan dari model pembelajaran Kooperatif, di mana peserta didik ditempatkan dalam posisi yang sangat nyaman, tenang, jauh dari ancaman serta tekanan pelajaran. Maka, tenaga pendidik yang sudah mamapu menerapkan model pembelajaran ini, dipastikan Susana belajarnya di dalam kelas akan penuh dengan kreatifitas, sekaligus keaktifan dari peserta didik itu sendiri.

Robert E. Slavin mengungkapkan beberapa alasan para siswa yang bekerja dalam kelompok kooperatif bisa belajar lebih banyak daripada mereka yang diatur dalam kelas-kelas tradisonal. Dalam hal ini, terdapat beberapa teori yang menjelaskan keunggulan pembelajaran koperatif (Hal. 63-64)

Teori yang dimaksud dalam buku ini adalah teori motivasi, dan teori kognitif. Dalam pembelajaran koperatif, peserta didik distimulasi untuk selalu aktif mencari sesuatu yng berkaitan dengan isi pelajaran, sehingga tidak tercipta lagi model Banking education, di mana sisiwa hanya selalu diisi oleh gurnya. Sebaliknya justru peserta didik punya kesempatan untuk mencari, memperoleh konsep ilmu dari satu pelajaran yang sedang dikkuti.

Namun demikian, penerapan model pembelajaran koperatif bukan tanpa kendala, semenjak teori pembelajaran ini lahir, selalu ditemukan di sana sini kendala yang menjadi pemicu keterlambatn proses penerapan model pemeblajarn tersebut. Buku ini pun tak lupa mengurai seputar kendala –baik teknis maupn non teknis- dalam kerangka penerapan model pembelajaran itu sendiri.

Diantara beberapa kendala penerapan pembelajran koperatif yang dutulis di buku ini adalah kondisi Guru yang kurang responsive (Hal. 145). Kemudian juga kadang dihadapkan ada keberadaan peserta didik yang cenderung pasif (Hal. 164), termasuk juga yang tak kalah pentingnya adalah perihal ruang kelas yang kurang mendukung, serta manajemen yang tidak professional (Hal. 174-175).

Idealisasi luhur dari penerapan pembelajaran koperatif tentu megkrucut pada lairnya guru yang berkualitas, dan profesional. Karena pada dasrnya, model ini hanya pintu masuk dari terlaksnanaya satu iklim pembelajran yang bermutu, tentu yang menjadi ujung tombak tetaplah sang tanaga pendiik itu sendiri. Maka, kehadiran buku ini diharapkan mejadi angin segar bagi terlaksananya satu ssitem pembelajarn yang baik, bermutu dan menyenangkan. Apalagi dalam buku ini secara komperhensif diulas tentang cooperative learning yang mengacu pada pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenagkan (PAIKEM). Selamat membaca. 


Tulisan ini dimuat di Harian Kabar Madura, 10 Juni 2016


Pola Asuh Kreatif dengan Permainan Edukatif

Judul : Games Edukatif dan Kreatif Untuk Bayi
Penulis : Budi raharjo
Penerbit : Diva Press
Cetakan : 1. Mei 2016
Tebal :164 Halaman
ISBN : 978-602-279-222-2
Peresensi : Ahmad Wiyono*
Mengiktui tumbuh kembang anak ternyata memliki tantangan tersendiri, diantaranya adalah sifat dan sikap selalu ingin tahu yang muncul secara natural dari setiap bocah . hal tersebut menuntut orang tua  untuk selalu waspada terhadap apa yang diinginkan sang buah hatinya tersebut.

Bermain adalah dunia anak yang tidak boleh tidak harus dilaluinya, dan dunia inilah, yang kadang memerlukan perhatian khusus demi tumbuh kembang mereka ke arah yang lebih baik.  Usia balita adalah usia rentan yang jika tidak diawasi sejara maksimal, maka bisa berdampak negatif terhadap tumbuh kembang mereka. Karena dalam fase ini, anak masih menggunakan insting tanpa akal atau logika.

Kreatifitas orangtua sangat diuji dan penjadi penentu, terutama dalam memlihkan jenis permainan yang seuai dengan karakter atau watak mereka. Buku Berjudul Games Edukatif dan Kreafif untuk Bayi ini adalah solusi bagi setiap orang tua dalam menjalankan pola asuh yang baik terhadap buah hatinya.
Dalam memilih jenis permainan, orangtua harus menyesuaikan dengan perkembangan bayi sehingga ia dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Di sampig itu, latar belakang budaya, jenis kelamin, status, dan kesehatan, serta lingkungannnya merupakan hal yang tidak boleh diabaikan dalam menentukan jenis permainan (Hal. 14)

Buku ini mengulas seputar ragam permainan yang pantas dan baik untuk tumbuh kembang bayi, mulai dari permainan untuk bayi usia 0-3 bulan, permainan untuk bayi usia 4-6 bulan, permainan untuk bayi usia 6-9 bulan, serta permainan untuk bayi usia 9-12 bulan. Semua dibahas secara sistematis disesuaikan dengan usia sang bayi itu sendiri.

Terdapat puluhan jenis permainan edukatif yang diulas dalam buku terbitan Diva Press ini, kesemuanya terstruktur berdasar usia dari sang anak. Permainan-permainan yang dibahas dalam buku ini terkenal sangat gampang untuk diterapakn oleh setiap orangtua, tidak hanya itu, games-games yang terdapat dalam buku ini juga diyakini bisa merangsang kecerdasan dan kreatifitas sang bayi.

Seperti permainan Rekam Suara,  jenis permainan untuk bayi berusia 9-12 bulan ini bisa berfungsi untuk melatih kepekaan dan daya ingat bayi. Karena dengan permainan ini, bayi diajak untuk mengulang kata atau ucapan orang tuanya. Dengan begitu, anak bisa meningkatkan daya ingat serta kemampuan berbicara.

Keterampilan yang dipelajari dalam permaian rekam suaraku ya, yakni menocba kemampuan bahasa bayi anda, ia akan dilatih berbicara sehingga dapat meningkatkan kemampuan berbicaranya (Hal. 134-135)

Selain mudah, permainan-permainan yang ada di buku setebal 164 halaman ini tergolong sangat murah, karena tidak membutuhkan banyak alat untuk memainkannya. Hanya membutuhka nkreatifitas oang tua untuk memerankannya. Oleh karena itu, orang tua harus bisa menguasai jenis-jenis permaian  tersebut terlebih dahulu sebelum dipratekkan untuk anak-anaknya.

Buku ini sangat menginspirasi kita semua, tamanya para oragtua dalam rangka menyiapakan pla asuh yang baik benar serta mengadung makna edukasi. Sedereta maina yang ditulis Budi Raharjo dalam buku ini layak untuk dicoba dan dijadikan sarana edukasi dalam poal asuh anak-aak kita yang masih sangat butuh terhadap belaian dan didikan dari orang tua trsebut.


Tulisan ini dimuat di Harian Tribun Kaltim, 05 Juni 2016


Panduan Meraih Kunci Surga

Judul : Meraih Jannah Dengan Berkah Ayah
Penulis : Abdul Wahid
Penerbit : Saufa
Cetakan : 1. Pebruari 2016
Tebal : 156 Halaman
ISBN : 978-602296-191-8
Peresensi : Ahmad Wiyono*
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda; “Ridla Allah terletak pada keridlaan kedua oranmg tua, dan murka Allah juga terletak pada kemurkaan kedua orangtua”. Ungkapan ini menegaskan bahwa orang tua merupakan pintu utama manusia dalam meraih ridla Allah atau sebaliknya.

Dalam ungkapan yang lain, disebutkan bahwa Surga berada di bawah telapak kaki Ibu, sebuah spirit betapa sosok Ibu menjadi penentu diraihnya Jannah bagi seorang anak. Namun demikian, Ayah bukan berarti tidak memiliki peran berkah dalam mengantarkan sang anak meraih surga Allah. Seorang ayah rupanya juga menjdi penentu anak bisa menggapai pintu surga kelak di alam keabadian.

Buku ini menelisik sisi keberkahan seorang ayah dalam menuntun sang anak menuju pintu Surga, di dalamnya diulas tentang berbagai rahasia keberkahan ayah terhadap anak-nakanya, tentu untuk mndorong semua anak manusia ke pintu surga yang sudah disiapkan Allah tersebut. Namun demikian, bahasan dalam buku ni bukan lantas hendak menonjolkan posisi ayah ketimbang seorang Ibu, penulis tetap mengakui bahwa Ibu merupakan tempat terpenting dalam kehidupan manusia. Pembahasan buku ini hanya pada porsi keberadaan ayah yang juga memliki berkah untuk mengawal anak manusia ke surga.

Keberkahan Ayah yang menjadi salah atu penentu diraihnya Jannah dalam buku ini didasari oleh peran sang ayah dalam keluarga, terutama untuk anak-anaknya. Seperti peran dalam memenuhi kebutuhan anak,  menjadi teladan bagi anak, termasuk juga memberikan nafkah kepada anak dan isteri. Semua peran itu menurut penulis berimplikasi pada terbentuklnya keberkahan dari seorang ayah.

Dalam sebuah keluarga, yang berkewajiban mencari dan memenuhi rezeki keluarga ialah ayah. Ia adalah kepala rumah tangga  atau pemimpin bagi isteri dan anaknya. Maka dari itu, semua agama sangat menjunjung tinggi setiap tanggung jawab seorang ayah yang begitu gigih dalam mencari nafkah bagi keluarganya. Sebuah tanggung jawab yang diemban oleh seorang ayah selalu berkaitan dengan hak dan kewajiban yang dimilikinya (Hal. 38).

Menjadi sebuah keharusan, setiap anak menghormati keberadaan seorang ayah, itu akan menjadi pintu masuk diraihnya Jannah. Menghormati dan menghargai ayah tentu bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk, salah satunya adalah hormat dalam setiap ucapan dan perbuatan. Kelihatan sepeleh memang, namun tak sedikit orang yang tidak bisa mempraktekkan masalah ini, padahal urusan bekata baik pada orang tua jelas-jelas sudah diatur dalam kitab suci Al-Qur’an.

Harus kita sadari dengan sepenuhnya bahwa apa pun yang menyangkut hidup kita, sukses atau tidak, miskin atau kaya, maka kita selalu berintergrasi dengan ayah kita. Apalagi, misalnya, kita bertempat tinggal satu atap dengan ayah kita. Dalam pergaulan ini, seharusnya seorang anak bisa memperlihatkan sikap, ucapan, dan tingkah laku pada ayah kita (Hal. 62).

Selain mengungkap sisi keberkahan seorang ayah, buku ini juga mengulas secara detil eksistensi seorang ayah dalam keluarga. Sehingga anak bisa memahami posisi dan keberadaan sang ayah yang memliki peran penting dalam pergerakan sebuah rumah tangga. Buku terbitan Saufa ini bisa membantu klita semua mengenal sosok ayah secara utuh, agar berkahnya mengantarkan kita ke surga yang abadi.



Tulisan ini dimuat di Harian Suara Madura, 01 Juni 2016



 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons