Minggu, 17 Januari 2016

Mengungkap Eksistensi Nabi Khidir

Judul Buku : Menyimak Kisah dan Hikmah Kehidupan Nabi Khidir
Penulis : Moh. Fathor 
Penerbit : Zaman
Cetakan : 1. 2015
Tebal : 178 Halaman
ISBN : 978-602-1687-68-0
Peresensi : Ahmad Wiyono

Diantara sekian banyak umat manusia yang pernah mendengar cerita seputar kehidupan Nabi Khidir, nampaknya tidak begitu banyak yang mengetahui secara pasti potret kehidupan manusia yang terkenal misterirus tersebut. Pengetahuan kita selama ini tak lebih hanya pada pengetahuan tutur dari para orang tua yang kebetulan mereka juga mendengar dari orang yang lebih tua.

Salah satu upaya untuk bisa mengetahui secara detil kisah perjalanan hidup seseoang tentu harus dibaca melalui profil dan rekam jejak hidupnya, demikian pula halnya dengan Nabi Khidir, eksistensi kehidupannya bisa kita ketahui melalui literatur dan sumber lainnya yang mengulas tentang perjalannan hdupnya.

Buku Menyimak Kisah dan Hikmah Kehidupan Nabi Khidir ini menjadi salah satu bacaan yang dimungkinkan mampu menjadi pengetahuan baru bagi umat manuisa. Terutama dalam hal mengungkap eksistensi Nabi Khidir itu sendiri. Diadaptasi dari kitab klasik berjudul az-Zahr an-Nadhir  fi Naba’ al-Khadir, buku ini mengurai sejarah, silsilah serta perjalanan spiritualnya. 

Dari aspek latar belakang nasabnya, Nabi yang bernama asli Khadir tersebut termasuk keturunan Malkam, ini berdasar pada pendapat yang paling kuat dari sekian pendapat yang menjelaskan asal usul manusia. Meski demikian, ada beberapa pendapat lain yang mengulas sepuatar asal usul nasabnya tersebut.

Terdapat berbagai pendapat terkait nasab Khadir, diantaranya yang paling kuat adalah Balya ibn Malkam ibn Faligh ibn Syafikh ibn Arfakhsyadz ibn Sam ibn Nuh as. Pendapat ini didasarkan pada temuan Wahab ibn Munabbih, Ibnu Qutaibah dan Imam Nawawi. Imam Nawawi menambahkan bahwa Malkam ada yang menyebutnya Kulman atau Kulaiman (Hal. 9-10).

Dari sisi nama, Manusia yang dikenal sebagai manusia Ghaib ini diberi nama Khadir berdasar beberapa peristiwa penting yang yang terjadi dalam sejarah hidupnya, salah satu hadits menyebutkan bahwa Khadir dinamai Khadir karena dia pernah duduk  di tanah yang tandus, tiba- tiba dari bawahnya keluar tumbuh-tumbuhan yang hijau. (Hal.20).

Popularitas nabi Khidir, sejauh ini dikenal sebagai manusia yang “sakti”, sakti dalam pemahaman masyarakat awam, bahwa Nabi Khidir sering menunjukkan perilaku yang tidak bisa dinalar logika atau akal sehat manusia. Sehingga, setiap ucapan, perbuatan dan tindak tanduknya selalu membuat manusia lain terheran-heran. Namun demikian, semua itu tentu bukanlan sesuatu yang terjadi begitu saja. Apa yang dilakukannya, merupakan bagian dari kekuatan Tuhan yang disisipkan dalam perjalannya.

Ini yang hendak diuangkap dalam buku ini, jejak dan status spiritual Khidir tak lebih merupakan “wahyu” yang secara khusus diberikan kepada Nabi Khidir. Kendati belum ditemukan status spiritualnya, apakah merupakan Nabi, rasul atau lainnya. Namun demikian, konsitensinya menjalankan ajaran ajaran Allah, termasuk perjalanan hidunya dengan nabi Musa as, mengisyarahkan bahwa dia adalah nabi.

Ucapan itu menunjukkan bahwa semua perbuatan Khadir dilakukan berdasarkan “pesan” langsung dari Allah SWT, tanpa perantara orang lain. Dan pesan itu adalah wahyu bukan Ilham, karena Ilham tidak punya kekuatan hukum sepeti wahyu sehingga bisa dijadikan dasar untuk merusak bahtera yang membahayakan orang banyak, apalagi dijadikan dasar untuk membunuh anak yang belum berbuat dosa. Logikanya, Khadir telah menerima wahyu dari Allah. Dan setiap orang yang menerima wahyu adalah nabi, berarti Khadir adalah nabi. (Hal. 23).

Selain mengulas tentang silsilah dan asal muasal kehidupan Khidir, buku ini juga dilengkapi dengan kisah-kisah kehidupan Khidir, kisah-kisah tersebut mengungkap banyak keisttinewaannya dalam menjalani hidup. Seluruh rententan kisahnya, telah mencerminkan eksistensinya sebagai mansuia luar biasa. Sekaligus sebagai pembuktian bahwa dai adalah seorang nabi. Hampir dari seluruh isi buku ini berisi tentang kisah dan hikmah perjalanan Khidir yang samgat menginspirasi umat manusia.

Satu hal yang menjadi titik kelemahan buku ini adalah penggunaan kata dan diksi yang masih terkesan kaku, beberapa kisah perjalanan Khidir masih dikisahkan seperti bahasa kitab Klasik, sehingga pembaca kurang begitu tersugesti. Buku ini tak ubahnya terjemahan murni dari sebuah kitab klasik yang bahasanya masih berbau kitab.  Padahal, kisah Khidir dalam buku ini diolah dari generasi Nabi hingga abad moderen. 

Meski demikian, kehadiran buku ini tetap harus diapresiasi, karena buku ini dipastikan bisa membantu kita semua untuk mendalami kisah dan hikmah perjalan nabi Khidir. Keterbatasan literatur tentang kisah nabi Khidir, setidaknya bisa terjawab melalui hadirnya buku ini. 


Tulisan ini dimuat di Harian Duta masyarakat

Inspirasi Tokoh-Tokoh Penakluk Kemiskinan

Judul : Dulu Aku Miskin, Kini Aku Kaya
Penulis : Cahyani T.S
Penerbit : Laksana
Cetakan : 1. Agustus 2015
Tebal : 183 Halaman
ISBN : 978-602-279-188-1
Peresensi : Ahmad Wiyono


Siapa manusia yang tidak pernah mengalami masa sulit? Rasanya tak ada yang demikian itu, kalau pun ada, sulit untuk ditemukan. Jatuh bangun dalam kehidupan rasanya menjadi sesuatu yang biasa dalam kehidupan manusia.

Kata bijak mengatakan, kemenangan yang paling besar bukanlah karena kita tidak pernah jatuh, melainkan karena bangkit setiap kali jatuh. Ini yang membuktikan bahwa hanya manusia yang selalu berusaha tegar dalam menhadapi hidup yang kelak akan meraih sukses bahkan kaya raya.

Spirit perujuangan untuk bangkit dari keterpurukan itulah yang sengaja direkan secara utuh dalam buku berjudul Dulu Aku Miskin, Kini Aku Kaya karya karya Cahyani T.S ini. kisah beberapa tokoh nusantara bahkan dari manca negara yang memulai hidupnya dari keterbatasan hingga bisa mencapai puncak kesuksesan, tersaji secara hangat dalam buku setebal 183 halaman ini.

Buku ini mengisahkan sejumlah orang sukses yang terlahir dari keluarga tidak mampu, kemiskinan yang mendera keluarganya sejak kecil, ternyata menjadi cambuk bagi masa depan mereka, bahwa kemiskinan, sama sekali tidak akan membunuh asa dan ciata-cita mereka. Justru sebaliknya, kenyataan itu mereka balik menjadi peluang untuk merubah kondisi hdupnya menjadi lebih baik. Dan semua itu terbukti.

Andy F. Noya misalnya, tokoh lagendaris yang saat ini sudah sangat populer dikalangan masyarakat tanah air lantaran kepiawaiannya menjadi presenter salah satu acara favorit di stasiun televisi nasional, siapa yang bisa mengira, bahwa sejak kecil ia hidup dalam keterbatasan ekonomi. Ia harus berjuang keras mempertahankan hidup bersama orang tuanya. 

Semasa kecil, demi membantu orang tuanya mencari uang, Andi suka mencuri mangga dan burung dara untuk kemudian dijual. Sebagai anak bungsu, Andi memiliki watak keras kepala, jika keinginannya tidak terpenuhi, ia suka memecahkan kaca rumah. Kakaknya sempat khawatir jika sudah besar Andi akan menjadi penjahat. (Hal. 121).

Namun demikian, ketegaran seorang Andi, telah mengangtarkannya menjadi manusia sukses hari ini, karier gemilang yang dimulainya dari dunia jurnalistik telah membawanya menjadi tokoh yang sangat terkenal seantero jagad nusantara.  Profesi wartawan yang dia sandang kala itu menjadi jembatan keberhasilannya, kendati dia adalah wartawan yang setiap melakukan tugas jurnalistiknya harus naik angkutan kota lantaran tidak memiliki kendaraan pribadi.

Beda Andi, beda juga cerita seorang Tukul Arwana, pria yang akrap dengan selogan “kemabli ke Laptop” tersebut merupakan pria yang awal mulanya berlatar belakang keluarga yang sangat sederhana. Semasa muda dia hanya menjadi pelawak panggung ditingkat desa atau kampung di tempat kelahirannya.

Ketenarannya saat ini tentu bukanlah sesuatu yang gratis baginya, dia telah melewati masa-masa sulit setelah memutuskan hijrah dari semarang ke jakarta untuk mencari pekerjaan. Selama di jakarta, ia hidup dalam kontrakan, berbulan-bulan ia tak kunjung mendapat pekerjaan, sehingga untuk makan dan kebutuhan sehari hari, ia bergantung pada bantuan teman-temannya.

Namun, bukan Tukul namanya jia harus menyerah pada takdir, dalam benaknya, dia terus membangun keyakinan, bahwa jalan akan segera terbuka untuk siapa saja yang mau berusaha. Al hasil, jalan terang itu pun mulai terbuka di depan matanya, saat dia mulai mendapat job menjadi model video klip lagu diobok-oboknya Joshua. Dan itu yang telah membawanya menjadi tokoh tenar hari ini.

Dua tokoh di atas, hanya segelintir tokoh dari sekian tokoh inspiratif yang memulai hidupnya dari kemiskinan, dan buku ini secara lengkap mengurai kisah-kisah mereka. Buku ini sarat dengan pesan bahwa kekayaan tidak datang begitu saja secara instan, melainkan dari ikhtiyar dan usaha yang gigih dan sungguh-sungguh. Inilah fakta hidup, bnyak orang sukses di dunia setelah sungguh-sungguh  melawan belenggu kemiskinan. Buku ini sangat inspiratif, dan para tokoh yang terkisahkan dalam buku ini adalah para inspirator.



Tulisan ini dimuat di Harian Kabar Madura

Energi Do’a Dan Gerak Sufisme Puitik Cak Nun

Judul : 99 Untuk Tuhanku
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Juni 2015
Tebal : 109 Halaman
ISBN : 978-602-291-065-7
Peresensi : Ahmad Wiyono

H.B. Jassin seorang tokoh bahasa pernah bilang bahwa Puisi adalah pengucapan dengan perasaan yang di dalamnya mengandung fikiran-fikiran dan tanggapan-tanggapan. Dari pengertian tersebut, kita menjadi paham, mengapa puisi kerap kali mengandung kekuatan maha dahsyat, baik terhadap penulisnya, termasuk kepada orang yang membacanya. Itu lantaran, pusi lahir dari perasaan penulisnya, seperti kata H.B jassin tersebut.

Seorang anak muda, terkadang tiba-tiba menjadi produkstif menulis puisi lantaran dia tengah dilanda asmara dengan lawan jenisnya, dia pun menyampaikan bahasa hatinya tersebut dengan bahasa-bahasa puitisnya. Mereka meyakini, bahwa penyampaian perasaan mereka dengan puisi jauh lebih bermakna ketimbang hanya menyampaiakn dengan bahasa datar. Disitulah kekuatan puisi berbicara, dan hasilnya, tak sedikit gadis yang “keleppek-kleppek” setelah mendapat kiriman sajak dari teman lawan jenisnya tersebut.

Bagi seorang Emha Ainun Nadjib, puisi juga memilki kekuatan yang super, tak ayal di apun memanfaatkan puisi-pusinya untuk dijadikan media dalam menyapa Tuhannya. Bagi Cak Nun puisi memiliki energi untuk menyampaikan segala harapan dan bahasa hatinya terhadap Tuhan. 

Buku 99 Untuk Tuhanku ini menjadi bukti betapa  Cak Nun hendak berinteraksi dengan Tuhannya melalui sajak-sajaknya, segala harap, hingga uneg-uneg ia tuangkan dalam 100 pusisinya tersebut. Inilah hakekat pusiai do’a yang telah dilontarkan cak Nun dalam buku setebal 109 halaman ini. Ibaratnya, ada seribu lantunan doa berkumandang dari seratus pusi yang ia kumpulkan dalam antologi ini.

Tuhanku / kuawali setiap lagkahku / dengan nama-Mu / ampunilah kami / yang selalu merasa punya nama / yang tak kunjung tahu / bahwa segala sesuatu / akan hanya tinggal satu / Tuhanku / adapun diantara beribu mimpiku / Cuma satu yang sejati / ialah di napas-Mu / aku menyertai / Tuhanku / jika haq bagi-Mu / perkenankanlah aku / tinggal di dalam diri-Mu / agar sesudah lahirku / yang ini / dan yang nanti / takkan mati / (Hal. 2).

Puisi pembuka di atas terlantun indah sekaligus memiliki makna yang sangat dalam, puisi yang berjudul 1 tersebut mengisyaratkan betapa keterbatasan manusia sebagai hamba sungguhlah nyata, namun tak jarang manusia kurang menyadari hal tersebut. Cak Nun menggambarkan itu semua secara mendalam. Sehingga dalam doanya puisinya tersebut Cak Nun meminta kepada Tuhan agar bisa tinggal dalam keagungan Tuhan.

Selain bentuk penghambaan terhadap tuhan yang dituangkan dalam puisi-puisinya, Cak Nun juga mengurai tentang keberadaan manusia yang pada hakekatnya merupakan milik sang Khaliq, termasuk dunia dan isinya, itulah sebabnya, cak Nun meminta kepada Tuhan agar dunia dan segala isinya tersebut hanya cukup dijadikan sarana untuk memperdalam kecintaannya terhadap Tuhannya.

Orientasi sufistik dalam sajak Cak Nun sungguh terlihat nyata, baginya, Tujuan yang sebenar-benarnya tujuan adalah Tuhan yang maha kuasa, dunia hanyalah jembatan untuk menggapai Ridla-Nya. Sehingga, senagaian pusi-pusinya berisi tentang usaha untuk menggapai Tuhan yang hakiki tersebut. Yang tidak ada lain adalah kehidupan di alam keabadian kelak.

Tuhanku / jangan katakan dunia ini / ialah tempat kediamanku / Tuhanku / duniaku yang sebenarnya / mengahampar di dalam sebuah gua tanpa dinding / pintu mulutnya tersumpal batu / batu dagingku / batu bapak ibu anak isteriku / batu tetangga batu bumi kelabu / tujuh sanudera / di dalamnya menderu / aku menyelam / tak sampai-sampai / aku cemas segera tiba senja hari / tanpa kutemukan / diriku / yang menanti / (Hal. 33).

Buku karya Cak Nun ini tak ubahnya rangkaiaan semesta do’a yang berwajah puisi, energi sufisme juga terpantul dalam setiap rangkaian kata yang diucapkan penulisnya. Inilah puisi, selalu tampil dalam setiap keadaan, jika anak muda melahirkan pusi unuk kepentingan suara hatinya bagi sang primadona hatinya, Cak Nun menampilkan dalam wajah yang lain, puisi sebagai do’a untuk Tuhan yang maha Kuasa.

Pada dasarnya, karya Cak Nun ini sudah lahir sekitar 30 tahunan silam, beberapa penikmat lintas generasi telah berhasil menjadi bagian dari karya-karya emas ini. Masyarakat pecinta sastra tentu sudah sangat akrab dengan seratus puisi yang terbukukan dalam antologi ini. Bahkan tak sedikit yang telah menjadikan karya-karya cak Nuan ini sebagai bahan diskusi sastra hingga bahan kajian akademis para praktisi. Kehadiran kembali karya ini untuk menjawab kerinduan penikmat sastra sufistik, uatamanya generasi muda hari 


Tulisan ini dimuat di Harian Duta Masyarakat

Menyikapi Perbedaan Penetapan Hari Raya

Judul : Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan
Penulis : Ibnu Marzuki al-
Penerbit : Bahtera
Cetakan : Juni, 2015
Tebal : 220 Halaman
ISBN : 978-602-296-134-5
Peresensi : Ahmad Wiyono

Hamipr setiap tahun, penetapan hari Raya –terutama idul fitri- di Indonesia selalu mengalamai perbedaan, baik antara pemerintah dengan ormas Islam di Indonesia, maupun antara satu ormas dengan ormas lainnya. Ini terjadi lantaran masing-masing memiliki tata cara penentuan yang berbeda. Ada yang menggunakan Rukyatul Hilal, ada yang secara hitungan kalender hijriyah.

Ketidaksamaan cara penentuan penetapan hari raya tersebut, pada dasarnya merupakan sesuatu yang tak perlu diperuncing, karena setiap Ormas sudah memiliki aturan dan landasan masing-masing. Termasuk pemerintah. Perbedaan “ijtihad” tersebut pada esensinya merupakan bentuk kekayaan umat islam dalam berkhazanah dan berkeilmuan. Apalagi sudah jelas dalam satu maqol, bahwa perbedaan adalah Rahmat.

Tentang penyikkapan terhadap perbedaan penetapan hari raya tersebut, Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan karya Ibnu Marzuki al-Gharani ini, mengulas secara mendalam bagaimana umat islam seharusnya melihat dan menyikapi secara arif perbedaan tersebut. Sehingga perbedaan tersebut tidak akan merusak ketentraman umat Islam dalam menjalankan hari raya, meski dalam hari yang berbeda.

Buku ini merupakan kumpulan Khutbah pilihan yang dirangkum oleh penulisnya yang bernama asli Anton Prasetyo, dan satu dari sekian banyak khutbah tersebut, terdapat khutbah tentang Perbedaan Penetapan hari raya. Menarik untuk dispesifikasikan pada tema hari raya, mengingat sebentar lagi kita umat islam di Indonesia akan segera memasuki Hari raya Idul Fitri.

Berkaitan dengan pelaksanaan hari raya di Indonesia yang kerap megalami perbedaan, hal itu tidak menjadi masalah, baik bagi umat islam sendiri, maupun bagi Pemerintah. Namun demikian, Pemerintah mempunyai cara tersendiri untuk menetukan hari raya tersebut. Maka dari itu, umat islam diberi keleluasaan untuk memilih mengikuti Pemerintah, atau mengikuti kelompok ormas yang dianutinya. Kuncinya adalah tetap dalam kerangka kerukunan dan kedamaian.

Rukyah dan Hisab merupakan dua metode untuk menetapkan datangnya tanggal baru, dalam hal ini awal puasa dan awal hari raya. Kedua metode itu sama-sama digunakan oleh umat islam di Indonesia, ketidaksamaan metodologi tersebut, tentu berpengaruh terhadap hasil penetapan tanggal baru itu sendiri. Sehingga ini yang mendasari mengapa hari raya atau awal puasa selalu mengalami perbedaan.

Ada dua perbedaan mendasar pengambilan penetapan waktu hari raya Idul Fitri di Indonesia, yakni Hisab dan Rukyah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Prof. Dr. Syamsul Anwar, MA, kalamgan yang yakin bahwa hisab merupakan metode penentuan awal bulan berargumen pada semangan Al-Qur’an yang menggunakan hisab. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfiman dalam Ar- Rahman ayat 5, yang artinya; “Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan”. (Hal. 46).

Sementara itu, golongan yang meyakini pada metode rukyah, mereka juga memiliki dalil dan dasar yang paten, setidaknya salah satu dasarnya dalah Hadits Nabi Muhammad SAW yang berbunyi, “berpuasalah kalian dengan melihatnya (hilal) dan berbukalan dengan melihatnya pula. Apabila kalian terhalang, maka sempurnakanlah bilangan hari bulan sya’ban menjadi tiga puluh”.

Sejatinya, perbedaan penetapan hari raya bukanlah menjadi masalah yang harus diributkan. Kita dapat memilih diantara keduanya, sebagimana yang kita yakini. Semuanya mempunyai dasar. Dan, perbedaan semacam itu adalah wajar karena setiap manusia mempunyai perbedaan pengetahuan, pengalaman, kondisi, dan lain sebagainya. Semuai ini mempunyai pengarus  terhadap pandangan-pandangan dan penafsiran sesuatu. (Hal. 52).

Khazanah keilmuan kita umat islam, akan semakin kaya dengan membaca buku kumpulan Khutbah ini, terdapat banyak pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari, mulai dari urusan ubudiyah, hingga masalah pergaulan dengan keluarga termasuk masyarakat secara umum. Banyak pelajaran dan hikmah yang bisa kita petik dari kumpulan khutbah ini.

Buku setebal 220 halaman tentu bukan hanya untuk para Khatib yang biasa menyampaikan Khutbah di masjid, namun buku ini sangat pas dibaca oleh semua kalangan. Karena dari puluhan khutbah ini, kita bisa membuka cakrawala pengetahuan tentang islam sebagai modal untuk memperkuat keimanan kita terhadap Allah SWT. Buku ini mengangkat tema-tema penting terutama moment perigatan hari besar islam. Bahkan, tema Idul Fitri dan Idul Adha. Selamat 


Kamis, 14 Januari 2016

Balada Asmara Sang Patih

Judul : Kisah Cinta Gajah Mada
Penulis : Gesta Bayuadhy
Penerbit : Dipta
Cetakan : Juni, 2015
Tebal : 216 Halaman
ISBN : 978-602-255-722-7
Peresensi : AHMAD WIYONO*

Jika semua tokoh bangsa meyakini bahwa dibalik keberhasilan seorang laki-laki, ada perembuan hebat di belakngnya, nampkanya hukum itu tak berlaku untuk seorang Gajah Mada, patih majapahit itu ternyata taksudi didampingi seorang permaisuri selama menjadi mangkubumi.

Siapa yang tak kenal Gajah Mada, rasa rasanya hampir seluruh rakyat Indonesia sudah kenal dengan tokoh yang satu ini. Selain populer melalui buku buku sejarah, ketokohannya juga sering di perankan dalam kisah kisah drama atau pun teater yang kian mendekatkan sosoknya pada masyarakat di saentero nusantara.

Fakta ketokohan Gajah Mada dibuktikan dalam posisinya sebagai Patih di Kerajaan majapahit, sepak terjangnya dalam memanage perjalanan Kerajaan tersebut memang tak terbantahkan. Sehingga tak heran jika dirinya sering disebut sebagai tokoh yang berhasil menyatukan Nusantara. 

Beberapa situs sejarah di Nusantara menunjukkan bahwa keterlibatan Gajah Mada dalam upaya Menyatukan Nusantara sangatlah luar biasa, salah satunya misalnya lahirnya Prassati Singosari di Malang jawa timur,  selain itu,, pahatan sejarah Gajah Mada juga lahir dalam prasasti Himad-Walandit, sebuah prasasti yang menggambarkan penyelesaian damai atas konflik yang terjadi antara penduduk desa Himad dan Walandit. Dua desa yang berada di lereng pegunungan Bromo-Tengger di Daerah Wonorejo. Fakta sejarah ini kian menguatkan keberadaan sekaligus sepak terjang Gajah Mada di zamannya.

Sebagai tokoh dan bagian dari bangsa Indonesia masa lalu, Gajah Mada telah berhasil meneteskan semangat dan spirit nasionalisme kepada segenap bangsa indonesia, setidaknya hal itu dibuktikan dari semangat persatuan yang digelorakan oleh Gajah Mada untuk Mengingat Nusantara. Kita pun tak bisa menampik, bahwa NKRI yang saat ini kita tapaki kemungkinan besar juga bagian dari doa dan upaya sang Patih Gajah mada tersebut.

Dari sekian kisah ketokohan Gajah Mada, ada satu yang sangat menarik untuk kita angkat ke permukaan, yaitu kisah Asmnara sang Patih. Perjalanan cinta Gajah Mada dikabarkan tak sedahsyat perjuangannya dalam membela Nusantara, bahkan sebagian kalangan menyebut Gajah Mada telah gagal menjalin hubungan cinta. Sungguh disayangkan, ketika kabar itu benar adanya. Bukankah dibalik keberhasilan seorang laki laki ada peran perempuan di belakngnya. Lantas bagaimana dengan Gajah mada?

Adalah Buku Kisah Cinta Gajah Mada, karya Gesta Bayuadhy ini mencoba meluruskan sejarah cinta gajah Mada, buku setebal 216 halaman ini mengungkap bahwa tidak ditemukan fakta dan data yang akurat tentang perjalanan cinta sang Gajah Mada tersebut. Sehingga bisa dipastikan bahwa Gajah mada selama menjadi mangkubumi dijalani tanpa seorang pendamping hidup.

Belum ada data, fakta, maupun bukti sejarah yang mengungkapkan tentang keluarga Gajah Mada, siapa nama isteri dan anak Gajah Mada, belum ada yang bisa mengungkapkannya. Kalau ada beberapa kisah tentang perjalanan cinta Gajah Mada dengan gadis idaman, itu hanyalah hasil imajinasi penulis sastra yang berlatar sejarah Gajah Mada dan bersifat Fiktif. (Hal. 29).

Jika selama ini kita mendapat informasi melalui Karya sastra atau pun Drama bahwa Gajah Mada pernah menjalin asmara dengan seorang gadis bernama Diyah Pitaloka, lagi lagi sejarah itu hanya bersifat cerita rakyat, tak ditemukan prasasti atau pun bukti bukti autentik bahwa keduanya pernah memadu Asmara. Hal itu tak lebih dari kekeyaan cerita rakyat yang berkaitan dengan tokoh-tokoh sejarah bangsanya.

Balada Gajah Mada yang tak memiliki pendamping hidup ini tentu bukan tanpa alasan, buku ini menyebut dengan jelas bahwa ada beberapa alasan mengapa Gajah Mada harus memilih hidup sendiri selama menjalankan tugas sebagai patih di Kerajaan majapahit. Diantaranya adalah alasdan fokus terhadap tugas kerajaan, baginya, anak dan isteri bisa menghambat tugas tugas kerajaan terutama ketika dia harus bertugas ke luar daerah.

Ada dugaan yang menyatakan bahwa Gajah Mada tidak mau beristri karena tidak ingin sepak terjangnya untuk mempersatukan Nusantara terhambat. Kalau cita-cita tersebut tercapai, barulah akan memikirkan untuk beristri. Sebagai orang yang bertanggung jawab, Gajah Mada khawatir keluarganya akan mengganggu tugasnya yang berat dalam memenuhi sumpah palapa. Bagi Gajah Mada, tugas menyatukan Nusantara bukan tugas ringan. Tugas penyatuan  Nusantara tidak boleh terganggu oleh tugas atau kewajiban lain, termasuk kewajiban dalam keluarga. Sehingga, piluhan terbaik bagi Gajah Mada saat itu adalah tidak beristri. (Hal. 34-35).

Buku ini hendak menyegarkan kembali sejarah sepak terjang Gajah Mada, termasuk dalam dunia cintanya.  Balada cinta Gajah Mada yang ternyata hanya berhasil dalam dunia dongeng, karena bukti atau prasasti percintaan Gajah Mada tak pernah ditemukan. Sayangnya, Buku ini terlalu singkat mengulas perihal asmara Gajah Mada, sehingga beberapa cerita asmara yang diambil dari cerita Rakyat sulit dicarikan korelasi faktual dengan sejarah ketokohannya. Padahal, bukan tidak mungkin, selama sebelas tahun dia menjadi patih dan melaksanakan tugas kesana sini dia juga pernah jatuh hati pada seorang gadis yang 


Tulisan ini dimuat di SKH Kedaulatan Rakyat, 27 Desember 2015

Rabu, 13 Januari 2016

Berhijab Karena Hidayah

Judul : Amoi Berhijab
Penulis : Felixia Yeap & Syafarudin Sulaiman
Penerbit : Mizania
Cetakan : Pebruari, 2015
Tebal : 160 Halaman
ISBN : 978-602-1337-49-3
Peresensi : Ahmad Wiyono

Wacana hijab dalam beberapa tahun terakhir sangat ramai diperbincangkan, tidak hanya di sosial media, tapi juga diberbagai media massa, mulai cetak, elentronik hingga on line. Hijab dengan segala seluk beluknya pun mulai menjadi tranding topik, tak hanya dikalangan masyarakat elit, rakyat kecial pun ikut-ikutan membincangnya.

Bulan suci Ramadlan, nampaknya juga menjadi salah satu moment menggebernya isu hijab, bisa kita lihat di berbagai media, banyak artis yang tiba-tiba berhijab lantaran hendak memuliyakan bulan suci tersebut, hal itu memang tidak salah, setidaknya mereka sangat menghormati bulan puasa. Namun demikian, bukan tak mungkin tradisi hijab lambat laun akan mengalami pegesran orientasi, dari sekedar menutupi aurat, beralih menajdi gaya hidup (life style), bahkan bisa menjadi komoditas bisnis kapitalis.

Berbeda dengan Rara, sosok wanita yang dikisahkan dalam buku berjudul Amoi Berhijab ini, dia adalah wanita yang memutuskan untuk berhijab lantaran turunnya hidayah dari Allah. Sosok wanita cantik ini bulat berhijab, setelah sekian lamanya bergelut dengan dunia glamor yang ditekuninya.

Buku terbutan Mizania ini, secara detile mengurai kisah perjalanan Rara dalam perjalanannya menjemput Hidayah, Rara sendiri merupakan mantan Model majalah Playboy, sebuah majalah dewasa kenamaan di muka bumi ini. Bisa kita bayangkan, seperti apa kehidupan wanita yang bestatus sebagai model, apalagi model di majalah dewasa.

Tapi, Rara akhirnya menemukan pintu hidayah itu, dia merupakan manusia beruntung dari sekian banyak wanita seprofesi dengannya, lantaran ditengah perjalanan hidupnya dia bertemu dengan cahaya hidayah, yang megantarkannya menjadi seorang muslimah. Dan bulan suci Ramadlan menjadi saksi dikomandangkannya dua kalimat syahadat oleh seorang Rara.

Aku memeluk Islam pada bulan puasa. Bulan yang mengajarkan kita untuk sabar. Ujian saat mengucapkan syahadat membuatku benar-benar mengerti maksudnya sabar. (Hal. 131).

Masuknya Rara pada Islam, terus mengantarkannya menjalankan berbagai ajaran-ajaran Islam, salah satunya adalah menutup aurat. Dia sudah mulai mengerti akan pentingnya menutup aurat sebagai pintu syahwat tesebut, sehingga dia pun memutuskan untuk mekakai kerudung atau hijab. Berhijab baginya bukan hanya karena gaya hidup, tapi lebih pada tuntunan agama untuk tubuhnya.

Barulah akau sadar, Hijab yang diajarkan Islam rupanya lain dengan hijab yang kupahami selama ini. Perintah Islam disertai alasan dan caranya. Mengapa harus menutup dada? Mengapa harus longgar? Bagaimana sebenarnya?. Semuanya harus kupelajari. (Hal. 111).

Semua keputusan yang diambil Rara untuk berlabuh pada jalan Allah dengan segala aturan mainnya, tentu bukan sesutu yang mudah baginya. Cobaan, ancaman, bahkan cemoohan ia dapatkan, tak hanya itu, ia pun harus  kehilangan pekerjaan sebagai seorang model. Itu artinya, dia harus kehilangan penghasilan yang selama ini telah mencukupi kebutuhan hidupnya.

Namun itu semua tak jadi soal bagi Rara, dia sudah betul-betul mantap untuk memilih Islam dan meninggalkan dunia yang digeluti selama ini, apalagi Rara memang menyadari bahwa, pekerjaannya sebagai Model Majalah Derwasa telah mengatarkannya pada lemabh hitam. Menurutnya, dalam setiap tawaran kerja sebagai model, selalu ada “tugas tambahan” yang datang bersama tugas utama tersebut.

Kesungguhan Rara terhadap ajaran Islam, dia praktikkan dengan perbuatan perbuatan yang memang diharuskan dalam islam, dia sudah melaksanakan Shalat, dia juga Berpuasa, dia pun berhijab, dan segala aktiitas lainnya yang sudah diatur dalam Islam. Ternyata, semua itu membuatnya jauh lebih tenang, sebuah ketenagan dan ketentraman jiwa yang baru dia dapatkan, sebuah ketengan yang sempurna dibanding sebelum memeluk Islam.

Memang aku lelah, tapi sebelum mengucapkan syahadat. Setelahnya, perasaanku sangat lega. Terlalu lega. (Hal. 134).

Kisah inspiratif seorang anak manusia yang berhasil menjemput hidayah ini memang sangat menarik untuk diikuti secara utuh, perjalananya yang berawal dario seorang model berkecukupan, akhirnya meilih menjadi muslimah dengan kesahajaan. Demi sebuah kebenaran, yaitu keberan Islam. Dalam buku setebal 160 halaman ini, kisahnya diulas secara lengkap.

Sebuah ungkapan dahsyat disamapikan oleh Rara di buku ini, dan ini penting menjadi catatan bagi para muslim dan Muslimah di seluruh dunia, dia berkata; “Aku ini model Playboy, berpakaian minim, lahir sebagai nonmuslim. Tapi mampu berhijab dan memeluk islam. Apalagi orang yang sejak awal sudah menjadi Muslim”. (Hal. 


Tulisan ini dimuat di harian Kabar Madura



Kisah Inspiratif Para Penjemput Hidayah

Judul : Muallaf; Kisah Para Penjemput Hidayah
Penulis : Steven Indra Wibowo
Penerbit : Tinta Medina (Tiga Serangkai)
Cetakan : April, 2015
Tebal : 148 Halaman
ISBN : 978-979-045-801-7
Peresensi : Ahmad Wiyono

Agama Islam merupakan agama “hidayah”, manusia yang memeluk Islam adalah manusia yang memang telah mendapat tetesan hidayah. Tak pernah ada kekerasan atau pun intimidasi bagi manusia untuk memeluk agama Allah tersebut, karena garis Islam telah jelas “bagimu agamamu, dan bagiku agamaku”.
Namun demikian, tak sedikit manusia non muslim yang pada akhrnya menemukan jalan terang tentang kebenaran Islam, tanpa paksaan mereka secara tulus menyerahkan seganap jiwa raganya pada agama Rahmatan Lil Alamin tersebut. Mereka itulah kelompok manusia beruntung yang dalam perjalanan hidupnya mendapatkan hidayah untuk kembali pada jalan yang benar yaitu Islam.

Memang, tak ada yang tahu, kapan hidayah itu akan menghinggapi manusia yang belum memeluk islam, namun jika waktunya sudah tiba, maka pintu hidayah akan ternbuka lebar bagi mereka, tanpa melihat strata sosial mereka itu sendiri. Dan kisah Itulah yang terekam dalam buku berjudul Muallaf; Kisah para penjemput hidayah karya Steven Indra Wibowo.

Buku ini menbgisahkan perjalan para muallaf sebelum menemukan Islam, ada banyak proses yang tidak sama dari masing-masing muallaf, berbagai proses itulah yang menjadi hal ikhwal terbukanya pintu hidayah bagi ke 25 muallaf yang dikisahkan dalam buku ini.

Salah satunya adalah kisah Abraham David Mandey, pria yang lahir di Manado tepatnya tanggal 12 Februari 1942. Pria ini merupakan pengagum para pahlawan yang telah berjasa di negeri ini, kekagumannya memuncak, sehingga dia memutuskan untuk juga menjadi bagian dari pembela negeri ini.
Akhirnya, dia memutuskan untuk hijrah ke jakarta mengikiti seleksi Akabri, nasibnya yang mujur mengantarkannya menjadi salah satu prajurit kala itu, lambat laun, perannya di korp angkatan tersebut semakin padat, sehingga cukup menyita banyak waktu. Tak hanya itu, ia pun berhasil menjadi pendeta sembari menjadi prajurit bersenjata.

Sibuk, padat dan banyak pekerjaan, itu adalah gambaran hidupnya kala itu, sehingga dia sedikit mengabaikan tugasnya sebagai seorang suami, singkatnya, kesibukannya diluar rumah mengharuskannya melepas sang isteri. Sehingga akibat itu semua, dia mengalami kegundahan yang luar biasa. Aktifitasnya sebagai prajurit dan pendeta ternyata tak mampu membuat ketenagan dalam hidupnya.

Nah, saat itulah dia bertemu dengan beberapa tokoh islam yang tanpa sengaja dia kagum dan belajar tentang dunia keislaman. Salah satunya, Davied begitu kagum terhadap konsep perdamaian Ialam yang diangkat oleh KH. EZ. Muttaqien, dan itu yang menariknya lebih kuat untuk mendalami konsepsi kosnepsi Islam lainnya. Sehingga, pada akhirnya, ia pun tahu bahwa ketenangan jiwa itu hanaya ada pada agama Islam.

Dengan kepasrahan yang total kepada Tuhan, pada tanggal 4 Mei 1984, David mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dengan bimbingan Bapak KH. Kosim Nurzeha dan saksi Drs. Farouq Nasution di masjid istiqlal. Allahu Akbar, hari itu adalah hari yang sangat bersejarah dalam hidupnya. Sebab, itulah saat menemukan dirinya yang sejati. (Hal. 22).

Kisah perjalan seorang David untuk menemukan Islam, hidayah lahir ketika dia sedang dihantui kebingungan dan ketidak tenangan dalam hidupnya. Sehingga, ia temukan ketenagan itu dalam islam, alhasil namanya pun diganti menjadi Ahmad Dzulkifli Mandey.

Kisal muallaf lainnya yang diurai dalam buku ini pernah dialami oleh seorang Icok Benda, dia adalah sosok yang tiba-tiba mengagumi islam lantaran terkesima dengan perilaku para muslim yang ada disekitarnya. Adab dan sikap lemah lembut orang-orang islam yang dia kenal dan bersamanya setiap waktu, melembutkan hatinya untuk masuk Islam.

Kehadiran muslim di kehidupannya, membuat Icok berubah. Ia melihat setiap orang islam yang ditemuinya selalu berbaik hati kepadanya, tanpa membeda-bedakan agama. (Hal. 85).

Lain halnya dengan seorang Ahmad Naga Kusnadi, pria yang besar ditengah keluarga Kong Hu Chu ini menemukan hidayah untuk memeluk Islam lantaran sebuah mimpi, ia bermimpi melihat api mengelilingi manusia yang tergantung di paku bumi. Begitu terbangun ia merasa ketakutan.

Dalam cengkraman rasa takut itulah, ia terus berfikir apa makna mimpi tersebut, ia berjalan mencari jawaban, bahkan ia pun memnberanikan diri mengikuti pengajian-pengajian yang dilaksanakan oleh umat Islam. Saat-saat itulah. Awal terbukanya hidayah baginya, sehingga akhirnya ia sadar bahwa ada Islam yang lebih pas untuk dijadikan sandaran hidupnya,

Dalam pencarian tentang Islam, ia menemukan Masjid Lautze di daerah pasar baru, Jakarta. Di Masjid itu juga, ia sempat mengikuti pengajian. Ia terus memperdalam Islam di Masjid tersebut. Hingga akhirnya, tahun 2002 ia memutuskan mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid tersebut. (Hal. 75).

Tiga kisah anak manusia yang menjemput Hidayah tersebut, hanya bagian kecil dari serentetan kisah para Muallaf yang diurai dalam buku setebal 148 halaman ini. Masih ada 22 kisah lainnya yang bisa kita baca dan kita jadikan muhasabah, bahwa Pintu Hidayah akan selalu ternbuka kapan dan di mana saja, serta dengan berbagai cara dan perantara. Allahu 



Tulisan ini dimuat di Majalah manhajul Afkar
   

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons