Jumat, 30 Maret 2012

A. Haidar Jawis Syarqi Wiyono Putera

Kamis, 29 Maret 2012

Melek Informasi

Melek Informasi
Oleh: Ahmad Wiyono

Adalah Ruang Belajar Masyarakat (RBM) yang merupakan bagian dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan yang terus getol meng-kampanyekan melek informasi terhadap masyarakat luas

Alfin Tofler, seorang Fotorolog terkemuka pernah mengatakan, barang siapa yang menguasai informasi, maka ia akan menggenggam dunia, satu pernyataan yang menggambarkan betapa sangat pentingnya sebuah informasi dalam kehidupan manusia, sehingga oleh Tofler diibaratkan mampu menggenggam dunia bagi manusia yang menguasai informasi.

Tentu bukanlah hal yang sederhana dalam memaknai “penguasa informasi”, ada banyak konotasi definitf terkait sang penguasa informasi tersebut, tapi setidaknya makna penguasaan informasi disini adalah keterlibatan kita sebagai mahluk Tuhan dalam setiap decade perubahan dan kemajuan zaman yang ditandai dengan merebaknya produk tekhnologi informasi.

Kalimat sederhana yang mungkin lebih mudah untuk kita ungkapkan adalah seseorang yang dikategorikan penguasa informasi adalah manusia yang tidak gagap terhadap berbagai produk dan kecanggihan tekhnologi informasi yang hampir setiap detik terus mengalami inovasi.

Bukankah kita sudah menyadari bahwa hampir semua informasi yang masuk dan mewarnai gerak hidup manusia selalu mengalami perkembangan, dan setiap perkembangan itu selalui diawaali dari berkembangnya produk tekhnologi informasi itu sendiri, maka wajar jika ada yang mengatakan bahwa saiapun yang menguasai informasi pastilah dia paham tekhnologi.

Tuntutan meguasai informasi saat ini tidak hanya terbatas pada kalangan masyarakat terpelajar yang ada di perkotaan, atau hanya bagi masyarakat yang stratifikasi sosialnya secara ekonomi menengah ke atas, akan tetapi tuntutan untuk melek informasi sudah merambah keseluruh masyarakat di saentero bumi nusantara ini.

Hal ini menunjukkan bahwa segenap lapisan masyarakat yang ada di pelosok-pelosok desa sudah diharuskan bisa mengakses informasi sesuai dengan kemampuan dari masyarakat itu sendiri. Meski kadang sedikit sekali masyarakat yang punya anemo untuk mengakses informasi itu sendiri. Itulah masalah yang sering kita hadapi.

Adalah Ruang Belajar Masyarakat (RBM) yang merupakan bagian dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan yang terus getol mengkampanyekan melek informasi terhadap masyarakat luas, hal itu dilakukan sebagai upaya untuk penyetaraan konsumsi informasi terhadap lapisan masyarakat. semua itu diwujudkan melalui sosialisasi, pelatihan bahkan pada pendistribusian media informasi secara Cuma-Cuma kepada masrakat, yang semua itu dilakukan tidak lain hanya untuk merangsang kemauan masyarakat untuk berubah menjadi masyarakat yang cerdas.

Memang bukan hal yang mudah untuk merealisasikan idealisme tersebut. Apalagi problem utama adalah paradigma masyarakat yang masih apatis terhadap perkebangan zaman, akan tetapi tidak ada yang tidak mungkin jika semuanya konsisten dengan iktikat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sudah waktunya kita arahkan masyarakat kita menjadi masyarakat yang cerdas dan melek terhada informasi. Amien.

Mengenang Kubang Dikal






Rabu, 28 Maret 2012

Membangun Budaya Santun Dalam Gerakan Aksi Demo

Membangun Budaya Santun Dalam Gerakan Aksi Demo
Oleh: Ahmad Wiyono

Menjelang kenaikan harga Bahan bakar Minyak (BBM) yang sudah hampir pasti diberlakukan per 1 pril 2012 mendatang, gelombang aksi penolakan terus bergulir dari pusat hingga daerah. Beberapa pusat pemerintahan seperti kantor Wakil Rakyat hingga kantor pejabat Eksekutif terus dikepung ratusan massa dari berbagai elemin. Gejolak aksi itu sebagai symbol keglisahan rakyat terhadap kebijakan pemerintah tersebut.

Ada banyak model aksi yang telah dilakukan oleh massa tersebut, mulai dari aksi simpatik hingga aksi yang mengarah pada anarkhisme. Jelas secara naluri semua itu merupakan wujud pelampiasan rakyat atas kebijakan pemerintah yang diyakini akan menyengsarakan rakyat kecil.

Beberapa waktu yang lalu, ada peristiwa mengejutkan di Kabupaten Pamekasan, yaitu peristiwa Robohnya Pagar Beton Kantor DPRD Pamekasan itu ketika sekelompok mahasiswa melakukan aksi demonstrasi ke gedung DPRD Kabupaten Pamekasan, kericuhan pun nyaris mewarnai kegiatan aksi. Jumlah peserta aksi yang relative besar tak sebanding dengan jumlah aparat yang menjaga perjalanan aksi, tak ayal bemtrokan pun takdapat dibendung. Motifnya sangat sederhana yaitu hanya karena polisi melarang demonstran masuk ke areal gedung DPRD. Kondisi ini menyulut emosi para demonstran, sehingga pintu gerbang utama kantor DPRD Pamekasan dijebol oleh ratusan massa tersebut.

Fakta seperti ini selalu kita temui dalam setiap kegiatan aksi demonstarsi yang dilakukan oleh beberapa elemen aktifis mahasiswa, padahal kita tahu bahwa para demontrans sebagian besar merupakan kelompok intlektual dam masyarakat akademis yang punya kemampuan analisa yang tajam serta nalar kritis yang luar biasa yang seharusnya bisa menakar secara proporsional dampak negatif dari kegiatan aksi yang diwarnai kericuhan tersebut.

Setidakya mahasiswa bisa melakukan analisa social, apakah kegiatan aksi yang dilakukan oleh mahasiwa tidak mengganggu terhadap masyarakat luas. Ketika sikap anarkis dilakukan dalam kegiatan aksi yang diwujudkan dalam bentuk bakr ban dan memblokade jalan misalnya dengan tanpa berfikir bahwa banyak masyarakat kita yang juga berkepentingan dengan jalan yang kita lalui tersebut.

Belum lagi kerugian materi yang diakibatkan oleh tindakan anarkhis mahasiswa tersebut, bias kita bayangkam berapa banyak fasilitas umum yang rusak menjadi objek kebrutalan massa, ditambah lagi korban manusianya, tidak sedikit mahasiswa bahkan aparat yang terluka hanya gara-gara tindakan anarkhis tersebut. Logika sederhana yang buisa kita gunakan hari ini adalah kalau mahasiswa melakukan aksi demo dalam rangka memperjuangkan rakyat, lantas kenapa harus merusak fasilitas umum milik Negara yang notabeni itu semua dibeli dari uang rakyat. Apakah tidak menutup kemungkinan justru itu semua akan menyengsarakan rakyat.

Disinilah kemudian, mahasiswa juga diharuskan mempunyai kecerdasan berbudaya, adat ketimuran mengajarkan kita untuk selalu santun kepada setiap orang yang secara langsung ataupun tidak langsung berkomunikasi dan berinteraksi dengan kita, maka perlu kiranya mahasiswa berbenah untuk merubah pola gerakan yang selama terkesan selalu merugikan orang banyak akibat anarkisme dan kericuhan dalam setiap aksi yang mahasiswa lakukan.

Sebagai masyarakat akademis seyogyanya kita berfikir substantive dan detil, bukankah roh dari kegiatan aksi adalah medium untuk mneyampaikan aspirasi kepada pihak tertentu, lantas pertanyaannya sekarang jika aspirasi bisa kita sampaikan secara halus dan santun mengapa harus menggunakan jalan kekerasan dan anarkhisme?.

Maka sekali lagi, berbudaya santun adalah cara paling utama untuk merevitalisasi roh gerakan mahasiswa yang selama ini nyaris diklaim negtif oleh masyarakat akibat kericuhan yang selalu mewarnai dan merugikan masyarakat itu sendiri. Kita sadari bahwa gelora darah mahasiswa memang sangat luar biasa sehingga kadang tindakan yang dilakukan cendrung tidak realistis hanya karena mempertahankan satu prinsip yaitu Idealisme. Namun demikian tidak bisa kita pungkiri bahwa mahasiswa juga mempunyai tanggung jawab besar untuk memberikan pendidikan yang sehat kepada masyarakat sehingga kepercayaan masyarakat terhadap gerakan mahasiswa tidak akan ternodai hanya karena ulah mahasiswa itu sendiri. Saatnya kita berdemonstrasi dengan budaya santun. Santun kepada masyarakat, santun kepada lingkungan. Katakan tidak pada anarkhisme

Memepertegas (Kembali) Pamekasan Sebagai Kabupaten Pendidikan

Memepertegas (Kembali) Pamekasan Sebagai Kabupaten Pendidikan
Oleh: Ahmad Wiyono*

Meski merupakan ide lama yang hari ini kembali diaktualisasi, namum perbincangan masalah Pamekasan yang di-idealisasikan menjadi sebuah kabupaten pendidikan dimadura, nampaknya terus mendapat perhatian serius serta apresiasi luar biasa dan berbagai pihak, mi menjadi indikasi kuat bahwa cita-cita tersebut bukanglah hanya harapan semu yang tidak bervisi apa-apa, akan tetapi lebih dari itu merupakan bagian dan idealisme yang akan segera direalisasikan secara nyata.

Sejak dahulu, Ada banyak hal yang telah dilakukan oleh berbagai pihak -baik tingkat akademisi, praktisi, dan yang lain- untuk mempersiapkan realisasi rencana tersebut, mulal dari penyusunan konsep sampai pada strategi actionya. Salah satu hukti upaya kongkret yang telah dilakukan oleh sebagian kalangan adalah digelamya Rembug Nasional dan Pra Kongres Forum Komunikasi Mahasiswa Pamekasan Seluruh Indonesia (FKMPSI) di yogyakarta beberapa wàktu yang lewat, -terlepas dan pertanyaan mengapa kegiatan mi diietakkan di yogyakarta- yang jelas pertemuan ini dirnaksudkan sebagai media representatif umtuk melahirkan konsepsi bersama serta merumuskan berbagai hal yang menyangkut persiapan Pamekasan menjadi Kabupaten pendidikan. Meski kegiatan ini hanya digagas oleh kalangan mahasiswa, namun apresiasi dari kalangan lainnya cukup luar biasa, terbukti dari sekian pesenta yang hadir pada saat itu terdapat banyak para akademisi, bahkan politisi dan lain sebagainya yang diyakini mereka punya kepedulian kuat terhadap pendidikan Pamekasan.

Sesuai dengan grand tema yang diusung waktu itu “Mempertegas Pamekasan Sebagai Kota Pendidikan” gagasan yang kemudian diinunculkan adalah bagaimana Kabupaten Parnekasan yang diyakini telah menjadi “kiblat” pendidikan madura mampu segera berbenah diri untuk lebih memperbaiki eksistensinya kearah yang lebih bennutu. Penulis mengatakan demikian, karena sejak awal kita sudah tahu bagaimana keberadaan pendidikan Pamekasan dimata madura, bahkan secara prestisius pendidikan di pamekasan memang sudah mendapatkan image yang bagus dari kalangan masyarakat madura secara umum. Sàlah satu contoh sederhana yang sering muncul adalah ketika anak-anak Sumenep bersekolah atau kuliah dipamekasan, maka mereka mendapatkan sanjungan dari masyarakat sekitar ketimbang sekolah atau kuliah di daerah sendiri atau ke daerah lain (baca: Kabupaten lain) selain Pamekasan di madura, nah, maka mimpi ideal ini dipandang sangat pas dan cocok dengan kondisi tersebut sehingga kita dengan mudah untuk menerjemahkan idealisasi tersebut.

Tidak hanya itu, berbagai prestasi yang sempat diraih oleh putera-puteri Pamekasan beberapa waktu yang tewat lewat sudah menjadi alasan kuat mengapa harus Pamekasan yang layak menjadi Kabupaten pendidikan, secara performent ini sudah sangat cukup menjadi modal keberadaan pendidikan dipamekasan. Akan tetapi satu hal yang perlu diingat bahwa ketika berbicara Pendidikan baik nasional lebih-lebih local Pamekasan, maka kita secara otomatis telah berbicara kebijakan, maka dalam konteks inilah keberadaan sarana dan infrastruktur pendidikan di pamekasan harus lebih siap dan lebih lengkap dari kabupaten lainnya di madura, termasuk kebijakan pemerintah dalam mem-back up pembiayaan pendidikan harus betul-betul maksimal.

Nah, pertanyaannya sekarang adalah, sejauh mana peran pemerintah dalam melahirkan kebijakan dibidang pendidikan?, seberapa besar pula partisipasi pemerinntah daerah (PEMDA) dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan melalui optimalisasi bantuan pembiayaan pendidikan?. Kalau selama mi ada sinyalemen bahwa anggaran belanja dibidang pendidikan di pamekasan sudah mencapai lebih dari 40°/o, yang hal mi sudah melebihi anggaran minimal pendidikan secara nasional, namun sekarang kehkawatiran yang muncul adalah: benarkah, dan objektifkah realisasi anggaran tersebut. Terlepas dan benar dan tidaknya hal tersebut yang terpenting sekarang adalah bagaimana meningkatkan kometmen kesadaran bersama, dan yang teipenting bagaimana meningkatkan optimalisasi peran pemerintah daerah terhadap upaya penerjemahan cita-cita luhur diatas, artinya bahwa logika positivisme harus kita gunakan sehingga tidak akan melahirkan masalah lain yang hanya akan menghambat proyeksi pendidikan tersebut, karena bagaimanapun cita-cita “Kabupaten Pendidikan” dibumi Gerbang Salam harus betul-betul kita perjuangkan.

Stelah beberapa lama mencuat kepermukaan, fakta lain berbicara, Upaya Untuk menjadikan Pamekasan sebagai kabupaten Pendidikan nampaknya mulai bergeser seiring bermunculannya beberapa icon baru di Kabupaten pamekasan, seperti Kabupaten batik yang mulai popular sejak pamekasan mendapat rekor Muri. Mimpi untuk menjadi kabupaten Pendidikan pun sudah mulai hilang pada waktu itu.

Namun demikian, semangat untuk mejadikan pamekasan sebagai kabupaten Pendidikan nampaknya tetap tumbuh subur dari benak masyarakat pamekasan (baik yang ada di daerah maupun yang ada di rantau), sehingga mimpi itu pun kembali disulam tepatnya terjadi pada akhir tahun 2010. bak gayiung bersambut Pamekasan pun akhirnya resmi (kembali) menjadi Kabupaten Pendidikan setelah dideklarasikan oleh Menteri Pendidikan Nasional Moh Nuh sebagai kabupaten pendidikan pada tanggal 24 November lalu.

Perlunya Karakterisitik
Kekhasan pendidikan menjadi sesuatu yang harus dimiliki oleh pendidikan Pamekasan, mi sebagai satu upaya mempersiapkan kondisi pendidikan yang bermutu, apalagi kita sadar bahwa keinajuan suatu hal salah satunya disebabkan oleh tingginya karakteristik dan suatu hat tersebut, maka inilah yang penulis maksudkan dengan pentingnya karakteristik pendidikan Pamekasan. Apa yang pemah ditulis oleh Uswatun Chasanah (Aktfis Mahasiswa UIN Yogyakarta) tentang perlunya karakteiistik sudah menjadi gambaran kuat bahwa Pamekasan sebagai kabupaten pendidikan harus mempunyai kekhasan local yang lebih kontributif terhadap pengembangan kearifan local itu sendiri, salah satu contoh adalah keberadaan tipoogy masyarakat Pamekasan yang lebih menjunjung tinggi pendidikan agama misalnya (Baca: Radar madura, 08/07), nah dari sini kita hams betul-betul rnemaharni bahwa kondisi riel masyarakat Pamekasan adalah sangat kental dengan tipology tersebut, sehingga strategi yang bisa kita bangun adalah penyeseuaian tipologys serta Iangkah-langkah yang sama sekali tidak kontras dengan hal tersebut, bahkan harus sangat kontributif

Hal mi sangat relevan dengan salah satu rumusan yang dihasilkan dan pleno Rembug Nasional dan Pra Kongres FKMPSI dahulu, yaitu menjadikan model Pendidikan Pesantren sebagal model strategis untuk menciptakan iklim pendidikan yang Iebih berkualitas, kenapa demikian, karena ternyata hamper dari seluruh out put pesantren mampu memposisikan dirinya disegala bidang, artinya bahwa model pendidikan pesantren adalah pendidikan yang lebih menjunjung nilai-nilai ke-agamaan, narnun telah mampu melakukan adaptasi-akumolatiff dengan perkembangan zaman sehingga para lulusannya tidak akan pemah ketinggalan, maka dari sinilah kita tinggal mengawal dan mengarahkan secara proporsional sesuai dengan formulasi yang telah kita hasilkan dan akan segera kita realisasikan.

Tapi yang perlu digaris bawahi adalah bahwa apa yang penulis ungkap diatas bukan dalam rangka menggagas “Pesantrenisasi Pendkiikan” di Pamekasan, atau melakukan distorsi terhadap pendidikan secara umum, akan tetapi itu penulis maksudkan sebagai langkah representatif untuk mewujudkan cita-cita kabupaten pendidikan di-pamekasan yang penulis persepsikan tentang perlunya karakteristik pendidikan, yang hal mi bisa dimulai dengan melakukan penyesuaian terhadap tipology masyarakat yang kalau kita lebih sederhanakan bahwa masyarakat telah lebth banyak paham dan pereaya terhadap pendidikan pesantren.

Kemudian bagaimana ketika ada asumsi bahwa pendidikan Parnekasan terindikasi akan meniru pola pendidikan Yogyakarta? Yah, asumsi itu sah-sah saja disampaikan, dan menjadi sah pula kita menimba pengetahuan pada kota manapun. Tapi yang perlu dipahami adalah kondisi Sosio-Kultur masyarakat madura lebih spesifik masyarakat Pamekasan sangatlah jauh berbeda dengan yogyakarta, sehingga kalau seandainya pendidikan Pamekasan akan meniru pendidikan yogyakarta, maka kemungkinan besar akan sangat kaku dan tidak representatif menghadapi masyarakat Pamekasan. Oleh karena itu, akan menjadi sah juga kalau asumsi tersebut (Baca: Meniru Pendidikan Yogyakarta) kitatepis pada hari mi. Artinya dengan sangat berani kita akan menyatakan bahwa kita akan melakukan banyak hal mempersipkan Pamekasan menjadi kabupaten pendidikan dengan tampa harus mengadopsi pendidikan yogyakarta secara utuh.

Sementara itu, Kalau kita cermati lebih jauh lagi, ada satu cara yang diterapkan oleh pendidikan yogyakarta yang kalau hal mi kita realisasikan dipamekasan maka akan sangat kesulitan, seperti yang disampaikan oleh Alimad Rozaki, M.Si (Desen UGM Yogyakarta) bahwa yogyakarta -termasuk juga malang telah mampu mengkaitkan Isu Pendidikan dengan Isu Pariwisata. Nah dari sinilah kita akan menemukan kejelasan bahwa kita akan menjumpai kesulitan yang luar biasa kalau kita barus mempola pendidikan Pamekasan seperti Yogykarta, karena tidak mungkin menggandeng isu pariwisata untuk pendidikan Pamekasan untuk saat mi. Maka kemudian kita akan sepakat membuaat karakteristik pendidikan Pamekasan dengan tampa hams meniru sepenulmya pola pendidikan yogyakarta ataupun malang dan kota-kota lainnya. maka menurut hemat penulis yang paling efektif dan sangat representatif adalah kita kembali pada gagasan awal yaitu dengan mengaitkan pendidikan Pamekasan dengan isu pesantren atau isu ke-agamaan secara umum.

Ada beberapa hal lagi yang teiah menjadi rumusan sekaligus akumulasi gagasan yang difornulasikan menjadi kesepakatan bersama yaitu, untuk mewujudkan Kabupaten pendidikan di Pamekasan hal penting yang barns diperhatikan adalah urgennya partisipasi masyarakat secara umum, dalam konteks ini Iebih pada pentingnya rneningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pendidikan, karena realitas masyarakat Pamekasan ternyata masih banyak yang tidak paham akan pentingnya pendidikan, bahkan jumlah masyarakat buta huruf dikota gerbang salam mi masih mencapai kurang lebth 40 nbu jiwa, mi masalah yang harus segera diselesaikan, tapi jangan diartikan bahwa persoalan mi akan menjadi tantangan paling berat dalam mewujudkan kota Pamekasan sebagai kabupaten Pendidikan, karena kehawatiran seperti ini hanya akan melahirkan skeptisme yang beriebihan dan jika terus diwacanakan maka hanya akan melahirkan pesimisme yang berlebihan pula.

Ada satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan oleh kita semua, yaitu tentang “ironi Pendidikan Pamekasan”. Kurangnya konsistensi dan kalangan birokrasi terhadap pendidikan (termasuk juga akademisi, politisi dan lain sebagainya), dan juga mininmya apresiasi masyarakat terhadap pendidikan ini menjadi dasar pemikiran teijadinya ironi pendidikan di Pamekasan, contoh sederhana misalkan beberapa waktu yang lewat pristise pendidikan Pamekasan terangakat sangat tinggi dengan hadirnya putera-puteri pamekasan menjadi pemenang beberapa olimpiade dan perlombaan Pendidikan dari tingkat nasional sampai pada tingkat inteniasional, akan tetapi pristise itu anjlok dengan tiba-tiba disebabkan oleh terjadinya kasus kriminal carok massal didesa bujur tengah beberapa waktu lalu, sehingga kasus ini mampu menutupi secara utuh pristise Pamekasan dibidang pendidikan. Nah inilah yang penulis maksudkan dengan ironi pendidikan di-pamekasan. Oleh karena itu untuk selanjutnya hal seperti mi harus kita antisipasi sehingga kondisi pendidikan baik secara kualitas maupum secara prestisius mendapat ruang image yang terus positif, sehingga mimpi ideal untuk “menyu1ap” Pamekasan menjadi Kabupaten Pendidikan akan sangat mudah kita realisasikan dalam waktu yang “sesingkat singkatnya“. Maka sudah saatnya kita berikrar “Selamat Pagi Pendidikan Pamekasan”. Wallahu A ‘lam Bisshowab.

Kompensasi, Oh Kompensasi

Kompensasi, Oh Kompensasi
Oleh: Ahmad Wiyono

Beginilah cara Pemerintah untuk "memperdaya" rakyat, disetiap rencana kenaikan BBM, pemerintah selalu menjanjikan kompensasi dari kenaikan BBM itu sendiri. dengan alibi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat miskin, karena proyeksinya kompensasi itu khusus untuk rakyat miskin.

saat ini pemerintah telah menganggarkan kompenasi itu sebesar 25,6 triliun, hal itu diketahui setelah ada kesepakatan antara badan anggaran DPR dengan pemerintah. yang katanya uang itu nantinya akan diberikan kepada jutaan rakyat miskin diseluruh nusantara.

berdasarkan rilis dari beberapa media, dana itu nantinya akan diwujudkan dalam tiga program besar, yaitu Bantuan langsung Sementara Masyarakat (BLSM), Program Keluarga Harapan (PKH), dan bantuan Pembangunan Infrastruktur Daerah.

sepintas, beberapa kegiatan tersebut memang terlihar sangat strategis dalam upaya pemberdayaan masyarakat miskin, apalagi dengan munculnya peningkatan infrastruktur daerah tersenut, namun demikian ada banyak kecurigaan bhahkan kekhawatiran yang akan muncul pasca digulirkannya program-program tersebut.

kita masih ingat sejarah kelam lahirnya Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai wujud kompensasi kenaikan BBM beberapa tahun yang lewat, yang ternyata justru menjadi mimpi buruk buat rakyat kita, BLT yang dijanjikan pemerintah akan menjadi "dewa" penolong bagi masyarakat miskin justru berbalik arah menjadi petaka yang sarat dengan konfik.

bukan tanpa alasan jika asumsi itu kita berani munculkan, karena pada dasarnya tidak seedikit imbas negatif akibat bergulirnya BLT tersebut, selain realisasinya yang nyaris tidak tepat sasran, aroma pungli pun kadang tidak bisa dihindarkan, meskipun hal ini tidak mudah terungkap secara kasat mata.

Yang lebih parah lagi adalah efek mentalitas, yaitu terciptanya watak cengeng dikalangan masyarakat dengan lahirnya budaya menunggu pemberian dari orang lain, sehingga tidak tertanam semangat berusaha dan berjuang malah sebaliknya. Ini adalah persoalan klasik memang, bahkan banyak sekali orang yang dengan lantang berkata, seharusnya Pemerintah memberikan pancing bukan memberikan ikannya. Terlepas benar dan salah asumsi-asumsi tersebut, tapi yang jelas akibat munculnya BLT beberapa waktu yang lalu masyarakat kita sudah terbius menjadi manusia Indonesia yang tidak “Mandiri”.

Pertanyaan sederhananya adalah, mengapa pemerintah tidak belajar pada sejarah BLT, seharusnya kalau pun toh BBM terpaksa harus dinaiikan, tidak harus dibarengi kompensasi yang justru mendestruktifikasi kemandirian masyarakat kita. Sejak awal banyak sekali program yang berupaya untuk membangun kemandirian masyarakat terutama di desa-desa, namun kenapa hal itu semua justru harus dibayar dengan munculnya program kompensasi yang seakan sangat paradox dengan program kemandirian itu sendiri. Entah siapa yang bisa menjawab semua ini.

Senin, 26 Maret 2012

A. HAIDAR JAWIS SYARQI

A. HAIDAR JAWIS SYARQI
(Kau Lahir, Maka Gemparkan Dunia)

Engkau pun akhirnya lahir menyempurnakan hiruk pikuknya dunia sebagi kholifah. kutitipkan cambuk kecil ini, agar kau mampu taklukkan gunung yang tinggi dan gunung-gunung itupun akhirnya menjadi tak berdaya karena kehebatanmu.

Hari Jum’at, 2 Maret 2012, kata orang adalah hari dan tanggal paling keramat sepanjang sejarah perjalanan Dunia. Siapapun yang lahir pada tanggal tersebut akan menjadi manusia hebat, cerdas dan berguna bagi Agama, nusa dan bangsa. Tapi kau tak perlu bangga dengan ucapan banyak orang, karena bukan hari dan tanggal itulah yang akan membuatmu luar biasa, namun kesungguhanmu kelak yang akan membawamu menggapai semuanya itu.

Setelah genap 3x24 jam, akhirnya kuberi kau nama A. HAIDAR JAWIS SYARQI, tentu bukan tanpa alasan jika nama itu kami sandangkan kepadamu nak, melalui proses yang tidak sebentar nama itu sangat layak untuk kau sandang sebagai calon peminpin yang Sidik, Amanah, Tabligh dan Fathonah kelak.

Secara Harfiah, “Haidar” bermakna “seoarang Pemberani yang mampu berjalan melampuai teman-temanya”, konotasi majasnya haidar berarti Pendekar yang kuat dan tangguh serupa Singa padang pasir bagi Umar Bin Khattab. Sementara “Jawis Syarqi” berarti “jawa timur”. Jika disambungkan A. HAIDAR JAWIS SYARQI berarti “Ahmad Sang Pendekar Jawa Timur”.

Sory nak, bukan dalam rangka melebih-lebihkan, nama itu semata-mata hanya untuk jadi motivasi dan cambuk kepadamu kelak, bahwa kau harus malu jika tak mampu menjadi Pendekar Jawa Timur. Ibumu yang cerdas dan Ayahmu yang punya tekad tinggi akan menjadi saksi sekaligus guru perjalananmu kelak dalam menapaki kehidupan ini.

Yang terpenting lagi nak, Ayah dan Ibumu pernah bahkan sering kelaparan karena perjuangan, maka kelak kau harus berani berdarah-darah demi memperjuangkan sebuah jati diri. Karena dengan itulah idealisme hidup akan bisa kita capai, bahkan karena semua itulah nak, tidak jarang Ayah Ibumu selalu di’wah’kan oleh banyak orang. Bukan sok Hebat nak, tapi begitulah kenyataanya.

Kemandirian dan konsistensi cukup menjadi taruhan leberhasilan sesorang nak, maka jangan pernah sekali-kali kelak kamu bergantung pada orang lain. Jadilah dirimu sendiri. Karena hal itu yang telah dilakukan Ayah Ibumu. Berbanggalah jika kamu makan Nasi Jagung dengan “Buje Minnyak”, tapi itu hasil keringat kita sendiri. Ketimbang makan roti keju hasil pemberian orang lain. Bukan berarti kamu tidak boleh menerima pemberian dari orang lain, tapi jangan sekali-kali itu menjadi watak, justru beriktikadlah untuk selalu memberi kepada orang lain.

Selain itu nak, ayah ingatkan satu Firman Allah dalam salah satu suratnya yaitu “Iqra’”, kutanamkan ayat itu padamu agar kelak kau bisa meniru Nabi kita yang selalu arif dalam membaca kehidupan ini, termasuk mambaca buku-buku yang sudah menghias di kamar ini. Sekedar cerita untukmu Nak, Ayah dan Ibumu sejak dulu paling suka baca, bahkan tak ada waktu terlewatkan sedikitpun untuk bergelut dengan Buku, Majalah dan sebagainya. Intinya nak, Ayah dan Ibumu sangat bangga jika kelak kau betul-betul menjadi kutu Buku, dari pada jadi Kutu beneran.

Nak, tapi ingatlah perkataan Syaf Rizal l Batubara. kelak ketika kau sudah beranjak dewasa bersumpahlah: "jika kau tak mampu membawa Ibumu ke puncak gunung, maka bawalah gunung itu kri Ibumu". doa ayah selalu mneyertaimu....

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons