Senin, 08 Juli 2019

Peran Bahasa Asing Dalam Dunia Bisnis

Judul Buku : Pintar Bahasa Arab dalam Bisnis
Penulis : Uus Rustiman
Penerbit : Rosda Karya
Cetakan :. 1. 2019
Tebal : 124 Halaman
ISBN : 978-602-446-335-9
Peresensi : Ahmad Wiyono

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. pernah bersabda; “barsng siapa yang menguasai bahasa suatu kaum, maka selamtlah dia dari tipu daya mereka”. Hadits ini menegaskan betapa pentingnya menguasai sejumlah bahasa, agar manusia mudah beradaptasi saat berhadapan dengan orang lain yang kebetulan memiliki bahasa yang berbeda.

Dalam kegiatan bisnis, penguasaan bahasa asing juga sangat urgen, karena tak jarang seseorang akan berhadapan dengan lawan bisnisnya yang berasal dari Negara lain yang notabeni menggunakan bahasa berbeda. Maka untuk menjaga keberlangsungan bisnis tersebut, manusia dituntut untuk paham dan menguasai bahasa asing sebagai modal komunikasi satu dengan lainnya.

Setidaknya, para pelaku bisnis bituntut untuk bisa menguasai bahasa internasional, seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab. Dua bahasa ini sangat mungkin ditemukan oleh pelaku bisnis terutama saat moment moment tertentu. Nah, Cara praktis penguasaan bahasa Arab tersebut bisa kita baca dalam buku berjudul Pintar Bahasa Arab Dalam Bisnis karangan Uus Rustiman ini. Dalam buku ini penulis sevara praktis mengurai rahasia menguasai bahasa Arab yang fokus digunakan dalam bunia bisnis.

Di awal uarain buku ini, penulis menegaskan bahwa posisi bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat utama, keberlangsungan komunikasi bisa terjalain dengan baik jika antara komunikator dan komonican bisa memahami bahasa satu sama sama lain. Maka keberlangsungan bisnis juga akan ditentunakn oleh sebrapa besar model komunikasi bahasa yang digunakan. Disinilah pentingya memahami bahasa internasional sebagai alat komunikasi utama dalam menjalin hubungan bisnis. Jangan sampai kerja sama yang sudah hampir terjalin menjadi rusak hanya karena kesalahan komunikasi dalam konteks bahasa.

Kegagalan membangun komunikasi seringkali terjadi akibat tidak menguasai media komunikasi khususnya bahasa, dan keberhasilan membangun komunikasi banyak diraih dengan penguasaan yang tinggi dalam menggunakan bahasa sebagai media komunikasi. Penguasaan atas satu bahasa oleh seseorang merupakan pintu utama baginya untuk menguasasi komunikasi dalam lingkungan masyarakat. (Hal. Iv). Disinilah letak pentingnya penguasaan bahasa terutama bahasa Arab sebagai salah satu bahasa internasional.

Belajar bahasa Arab melalui buku terbitan Rosda Karya ini relatif mudah, karena penulis menggunakan metode percakapan yang banyak disadur dari pengalaman empiris di lapangan. Selain itu, penulis juga mengkemas buku ini secara tematik, sehingga pembaca bisa menentukan tema apa yang akan dipelajarai sesuai kebutuhan pembaca. Semisal percakapan di rumah makan, percakapan di bandara, percakaan di terminal, di hotel, toko baju, bank dan lain sebagainya. Dalam setiap kondisi dan tempat tentu ada banyak kosa kata baru yang sesuai dengan tempat tersebut.

Seperti pada bank, kita akan menjumpai sejumlah kosa kata yang berkaitan dengan perbankan, seperti jenis mata uang, istilah rekening, transfer, saldo dan lain sebagainya. Semua itu pasti akan kita temukan dalam kegiatan di bank. Maka dalam konteks ini pembaca akan sangat mudah mengingat sejumlah kosa kata karena akan dihadapi langsung dalam proses komunikasi. Selain itu, dengan belajar tema bank ini pembaca akan dapat mengetahui kosa kata bahasa arab dalam transaksi bisnis di bank, sekaligus dapat memahami percakapan bahasa Arab dalam transaksi bisnis di bank tersebut. (Hlm. 80).

Hadirnya buku ini menjadi wahana pengetahuan baru bagi para pembaca terutama berkaitan dengan pentingnya penguasaan bahasa, agara seluruh kegiatan bisnis yang dilakukan bisa berjalan lancar dengan ditopang oleh media komunikasi yang baik. Selain menyajikan cara berbahasa Arab dengan cepat dan praktis, pada akhir pembahasan di setiap tema buku ini juga dilengkapi dengan kalam-kalam hikmah yang bisa menarik minat pembaca untuk belajar bahsa Arab secara komperhensif. Selamat membaca. (*)



Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos Radar Madura, edisi 27 Juni 2019.



Kamis, 23 Mei 2019

Mengembangkan Budaya Riset Berbasis Masyarakat

Judul Buku : Paradigma Penelitian Pendidikan
Penulis : Tatag Yuli Eko Siswono
Penerbit : Rosda Karya
Cetakan : 1. 2019
Tebal : 282 Halaman
ISBN : 978-602-446-329-8
Peresensi        : Ahmad Wiyono

Derasnya arus Informasi melalui kecanggihan media sosial (Medsos) yang masuk ke tengah-tengah kehidupan masyarakat kita dewasa ini tak jarang mengakibatkan kebingungan yang luar biasa, terlebih saat informasi tersebut muncul dengan wajahnya yang menyesatkan, seperti kabar bohong atau hoax serta ujaran kebencian. Dua hal tersebut rupanya sudah menghiasi jagad media sosial kita sepanjang waktu.

Untuk menangkal pengaruh jahad hoax tersebut, maka masyaraat harus dibekali dengan pengetahuan pengetahuan yang sifatnya mendasar agar nantinya bisa menfilter mana informasi yang benar dan mana informasi yang tidak benar dan bersifat provokatif. Transformasi pengetahuan ini tentu harus dilakukan oleh kelompok masyarakat terdidik yang sudah memiliki basic pengetahuan ilmiah seperti guru, dosen dan kelompok masyarakat terdidik lainnya.

Salah satu pengetahuan yang berfungsi untuk menyaring informasi adalah pengetahuan Riiset atau penelitian, seperti yan diulas dalam buku ini. Melalui riset seseorang bisa mengolah setiap informasi sedetil mungkin sehingga bisa dipastikan mana yang benar dan mana yang salah. Analisa mendalam yang dilakukan dalam kerja riset setidaknya bisa membedah antara informasi yang kredibel dan tidak kredibel, dengan demikian semua informasi yang masuk akan mudah disaring sebelum kahirnya disharing.

Penelitian adalah sutau cara formal yang sistematis dan objektif untuk mencari kebenaran atau gejala-gejala dan memecahkan atau menjawab suatu permasalahan. Objektivitas penelitian disesuaikan dengan cara pandang peneliti atau lingkup kerja peneliti. Cara formal yang digunakan menggunakan pendekatan ilmiah atau pendekatan lain yang diterima oleh para ilmuwan bidang tertentu. (hlm. 34).

Ilmu riset inilah yang nantinya bisa kita telorkan kepada masyarakat luas dalam upaya menangkal informasi yang tidak bertanggung jawab, yaitu mencari kebenaran dan kemugkinan gejala-gejala yang akan imbul dari informasi tersebut. Karena bukan tidak  mungkin apabila setiap informasi langsung ditelan mentah-mentah maka akan berdampak buruk terhadap orang yang menkonsumsinya termasuk kepada orag lain di sekitar kita. Maka aspek pencarian kebenaran dalam ilmu riset bisa dijadikan pengetahuan oleh seluruh masyarakat dalam setiap menerima informasi.

Buku ini setidaknya membagi jenis penelitian dalam tiga rumpun besar, Pertama, adalah penelitian historis yaitu penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan apa yang sudah tetjadi. Kedua, peneliitian deskriptif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan kejadian atau persitiwa saat ini. Dan Ketiga, penelitian eksperimen yaitu penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan apapun yang akan terjadi  apabila variable-variabel tertentu dikontrol atau dimanipulasi. Tiga klasifikasi penelitian ini tentu sangat relevan untuk dijadikan bahan pengetahuan dalam membedah setiap informasi yang tumbuh subur di media sosial.

Lalu bagaimana cara untuk memunculkan gagasan besar dalam melakukan penelitian?, buku terbitan Rosda Karya ini juga mengulas dengan seksama pola dan proses untuk melakukan penelitian, salah satunya adaah dengan melahirka ide atau gagasan sebagai proses kfeatif menulis dalam konteks penelitian. Memang tak bisa dipungkiri bahwa kerja penelitian hatus diawali dengan proses kreatif membangun ide karena dari situlah proses riset akan berjalan dengan baik. 

Membangun ide untuk sustau proposal penelitian merupakan proses berpikir kreatif  atau disingkat proses kreatif. Proses berpikir kreatif adalah langkah-langkah atau tahapan berpikir yang meliputi tahap mensintesis ide-ide, membangun suatu ide, kemudian merencanakan penerapan ide dan menerapkan ide tersebut  untuk menghasilkan suatu (produk) yang “baru” dengan lancer (fluency) dan fleksibel. (hlm. 63).

Kegiatan riset ilmiah ini mungkin hanya bisa dilakukan oleh kelompok masyarakat terdidik, seperti mahasiswa, dosen, guru dan lain sebagainya, lalu bagaimana dengan masyarakat umum? Nah inilah yang dimaksud di awal bahwa tugas menelorkan ilmu riset ini kepada masyarakat adalah kelompok terdidik, tentu tidak lansung ditelorkan secara utuh sebagaimana teori riset, melainkan hhal-hal yang bersifat praktis yang tujuan utamanya bisa menjadikan masyarakat melek infroomasi dan tahu cara bagaimana menyaring informasi tersebut. Buku ini bisa dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh seluruh lapisan masyarakat untuk belajar bagaimana mendalami sebuah informasi, kemudian mengkajinya dan memutuskan apakah informasi itu benar atau sebaliknya agar kita semua diselamatkan dari bahaya hoax. Selamat membaca.



*Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos Radar Madura, 16 Mei 2019

Minggu, 12 Mei 2019

Revolusi Industri dan Tantangan Berpikir kritis

Judul Buku : Pembelajaran dan Penilaian Berbasis HOTS
Penulis : Helmawati
Penerbit    : Rosda Karya
Cetakan         : 1. 2019
Tebal : 306 Halaman
ISBN : 978-602-446-330-4
Peresensi         : Ahmad Wiyono

Era Revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi rupanya menuntut manusia untuk memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi atau berpikir kritis (HOTS/ Higher, Order, Thinking, Skills), hal tersebut sebagai modal utama agar manusia bisa menganilisis setiap persoalan sekaligus mampu mengambil keputusan yang tepat daan cepat. Agar tidak tertinggal oleh putaran waktu yang sangat dahsyat kecepatannya.

Pembelajaran keterampilan berpikir tingkat tinggi atau berpikir kritis tersebut tentunya bisa dimulai dari kegiatan pembelajaran formal di sekolah, meskipun pada dasarnya memerlukukan beragam persipan mulai dari SDM hingga sarana prasarana. Seperti yang dijabarkan dalam buku Pembelajaran dan Penilaian Berbasis HOTS ini. Di dalamnya mengurai sejumlah langkah praktis untuk menerapkan pendidikan keterampilan tingkat tinggi tersebut.

Lalu, apa yang dimaksud berpikir tingkat tinggi atau berpikir kritis tersebut?. Buku ini menjelaskan bahwa berfikir kritis adalah berpikir yang memeriksa, menghubungkan dan mengevaluasi semua aspek, mengorganisasi, mengingat dan menganalisis informasi. (Hal 139). Jadi, berpikir kritis itu sederhananya bersikap dan bertindak detil, mampu membaca keadaan secara komprehensif sehingga dalam merespon dan menjalani keadaan selalu diimbangi dengan analisis dan seribu kemungkinan yang akan terjadi, namun tidak menafikan unsur kecepatan dan ketepatan.

Berpikir kritis adalah analitis dan reflektif. Berfikir kreatif sifatnya orisinal dan reflektif. Hasil dari keterampilan berpikir ini adalah sesuatu yang kompleks. Kegiatan yang dilakukan diantaranya adalah menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan efektivitasnya. Berpikir kreatif juga meliputi kemampuan menarik kesimpulan yang biasanya menemukan hasil akhir yang baru. (Hal. 140).

Analitis dan berpikir kreatif ini merupakan tingkatan awal keteramilan tingkat tinggi, dengan harapan nantinya manusia (peserta didik) bisa mengurai sejumlah permasalahan dengan baik dan menciptakan gagasan solutif dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Sementara tingkatan berikutnya adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang bisa dijadikan media untuk proses penyelesaian. Salah satu contoh yang diurai dalam buku ini adalah persoalan kebersihan di sekolah, berpikir tingkat tinggi tahap awal adalah kemampuan siswa menyelesaikan masalah kebersihan, namun pada tahap yang lebih tinggi siswa mampu mencipataan alat untuk proses penyelesaian kebersihan tersebut.

Apabila pembelajaran diarahkan pada tingkat berpikir yang lebih tinggi (HOTS) lagi, yaitu mencipta, maka akan terbentuk perencanaan untuk menjaga kebersihan diri; bagaimana menciptakan alat-alat yang dapat membantu peserta didik memelihara kebersihan. Proses pembelajaran dengan keterampilan berpikir ini hendaknya diberlakukan pada semua mata pelajaran. Keterampian berpikir inilah yang apabila dilatih sejak dini akan menjadi modal yang sangat berguna dalam hidupnya. (Hal. 159).

Keberhasilan penerapan berpikir tingkat tinggi ini akan berhasil jika ditopang oleh sarana dan prasarana yang memadai, terutama SDM tenaga pendidik yang mempuni. Karena transformasi skill bisa berjalan baik jika yang mentranfer memiliki kemampuan yang bagus. Untuk itu, buku terbitan Rosda Karya ini menekankan agar sebelum penerapan berpikir tinggkat tinggi untuk semua materi pelajaran hendaknya para tenaga pendidiknya betul-betul dimantapkan terlebih dahulu agar prosesnya berjalan baik, dan hasilnya juga baik.

Hadirnya buku ini bisa menjadi rujukan bagi segenap guru dan para orang tua agar bersama-sama berjuang untuk menerapkan keterampilan berpikir tinggi pada anak didik, karena keterampilan inilah yang nantinya akan menjadi mpdal pengetahuan dan tidnakan peserta didik dalam merespon segala sesuatu di era yang serba cepat ini. Selamat membaca. 



*Tulisan dimuat di harian pagi Jawa Pos radar madura, edisi 13 Mei 2019

Jumat, 15 Maret 2019

Ajaran Toleransi Beragama Dalam Islam

Judul Buku : Pendidikan Agama Islam
Penulis : Enang Hidayat
Penerbit : Rosda Karya
Cetakan : 1. 2019
Tebal : 210 Halaman
ISBN : 978-602-446-305-2
Peresensi : Ahmad Wiyono

Secara universal, Agama Islam sejatinya dapat mengantarkan umat manusia menuju kehidupan yang bahagia, baik di dunia lebih-lebih di akhirat. Hal itu bisa dicapai apabila pemeluknya mampu menerjemahkan dan mengaplikasikan fondasi ajaran islam dengan benar dalam kedupan mereka.

Fondasi ajaran islam tersebut antara lain adalah akidah, syariah dan akhlak. Tiga hal ini akan menjadi penentu kualitas keagamaan sesorang sehingga kelak bisa menjadi jaminan diraihnya kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat. Kaum beragama tentu perlu mendalami dan merinci ketiga fondasi keislaman tersebut agar bisa meraih kehidupan yang luar biasa.

Buku berjudul Pendidikan Agama islam ini mencoba mengurai integrasi nilai-nilai aqidah, syarah dan akhlak yang sudah seyogyanya menjadi landasan Beragama umat manusia, tujuannya adalah agar umat islam mampu memahami subtsansi dirinya sebagai hamba yang berkewajiban untuk menjalankan risalah ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari.

Ajaran lain yang diurai dalam buku ini dan jelas-jelas merupakan amanah bagi kaum beragama adalah pentingnya menjaga toleransi antar umat beragama, dalam konteks ini kualitas keimanan sesorang sangat ditentukan dengan seberapa besar dia mampu menghargai keimanan dan keyakinan orang lain. Karena semakin besar keimanan seseorang, justreu dia semakin sadar akan keragaman dan mampu menghargainya.

Sebagaimana kita pahami bersama bahwa islam sudah jelas jelas diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam, ini meunjukkan bahwa islam sejatinya harus selalu hadir dengan wajah damai terhadap semua umat, termasuk kepada masyarakat non muslim. Kesejatian islam itu bisa kita temukan saat kaum Beragama sudah mampu menerjemahjan makna toleransi sebagai perwujudan dari spirit islam sebagai rahmat nagi alam.

Oleh karena itu, ajaran islam yang bersifat demikian menebarkan kasih sayang bagi pemeluk lain selain non islam. Makanya, dalam islam tidak dikehendaki adanya kekerasan dalam menyampaikan dakwah apalagi sampai menyinggung perasaan pemeluk non muslim. Ajarannya yang ramah tamah, bukan penuh kemarahan. Ajaran yang penuh dengan kedamaian, bukan menebar permusuhan. Tidak boleh ada paksaan dalam beragama. (Hal. 112).

Inilah substabsi islam sebagai agama rahmat, ajaran ini sudah tertuang dalam kitab suci Al-Qur’an, maka sudah seharusnya para pemeluk agama islam mmapu menerjemahkan spirit ini dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam melakukan interaksi bersama pemeluk agama lain agar kerukunan, kedamain dan ketentraman senantiasa terjaga dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Orang islam tidak diperbolehkan mengolok-olok  apa yang disembah orang non Islam, karena khawatir mereka juga akan mengolok-olok apa yang disembah oleh orang islam, yaitu Allah. Begitupun sebaliknya dengan orang non islam. Prinsip ini dikenal dalam kajian ilmu Ushul Fiqih dengan konsep saddud dariah; menutup jalan agar tidak terjadi yang tidak diinginkan. (Hal. 118).

Buku ini hadir untuk memberikan penegasan seputar pentingnya menjaga tolerasni antar umat beragama, dengan menjaga prinsip keragaman sebagai sesuatu yang sunnatullah, maka menjadi kaum beragama yang sejati adalah ketika mereka mampu menjalankan spirit agama itu sendiri yaitu merawat perdamaian dengan semua orang termasuk dengan mereka yag berbeda agama. Selamat membaca. (*)


Tulisan ini dimuat di harian Jawa Pos Radar Madura, edisi Kamis 14 Maret 2019


Revitalisasi Peran Kepala Sekolah di Era Milenial

Judul Buku : kepala Sekolah Sebagai Manajer
Penulis : Herdarman dan Rohanim
Penerbit    : Rosda Karya
Cetakan        : 2018
Tebal : 149 Halaman
ISBN : 978-602-446-266-6
Peresensi        : Ahmad Wiyono

Salah satu faktor penting yang memengaruhi keberhasilan pembelajaran di sekolah adalah keberadaan kepala sekolah, posisinya menjadi penentu pergerakan sistem pemlejaran,  dengan demikian tugas dan fungsi kepala sekolah tentu tidak semudah yang kita bayangkan, karena ditangannya lah keberhasilan pendidikan ditaruhkan.

Di zaman modern seperti saat ini, tugas kepala sekolah tentu semakin kompleks, mengingat dinamika pendidikan dan pembelajaran juga tak jarang harus menyeseuaikan dengan perkembangan zaman, maka tentu harus ada revitalisasi peran dan fungsi kepala sekoah yang tujuannya adalah untuk memperkuat perannya dalam mengatur pergerakan pembelajaran di sekolah.

Salah satunya kepala sekolah harus mampu mejadi manajer dalam lingkungan sekolah, seperti yang diulas dalam buku berjudul Kepala sekolah sebagai Manajer ini. Posisi manajer bagi kepala sekolah merupakan kebijakan progresif dalam rangka memberikan kewenangan kepada kepala sekolah sebagai penentu sekaligus penanggung jawab terhadap kinerja proses pembelajaran.

Buku ini mengurai setidaknya lima kompetensi dasar yang harus dimiliki kepala sekolah dalam menerjemahkan perannya sebagai manajer, antara lain pertama: kompeten dalam menyusun perencanaan pengembangan sekolah secara sistemik, kedua: kompeten dalam mengoordinasikan semua komponen sistem, ketiga: kompeten dalam mengarahkan seluruh personel, keempat: kompeten dalam pembinaan kemampuan profesional guru, dan kelima: kompeten dalam melakukan monitoring dan evauasi. (Hal. 50).

Seluruh kompetensi dasar tersebut nantinya akan menjadi cirri khas kepala sekolah zaman now yang memiliki peran penting sebagaai manajer, dengan demikian peran manajer kepala sekolah harus diwujdukan dalam kepemilikan karakter yang kuat serta keunggulan literasi yang nantinya dipadukan sebagai insrumen untuk mewujudkan kualitas pendidikan yang tidak hanya merespon tantangan dan dinamika lokal, tapi juga yang berskala global atau internasional.

Inovasi kerja Kepala Sekolah yang diwujudkan dalam revitalisasi perannya sebagai manajer tentu akan mampu membangun suasana dan kultur sekolah yang nyaman, pembagian peran yang sistematis, serta pola hubungan kerja yang sistemik. Dengan demikian, kepala Sekolah akan mampu menata seluruh SDM yang ada sehingga berimplikasi pada terciptanya suasana pembelajaran yang bermutu untuk selaanjutnya lahir output pendidikan yag baik dan berkualitas.

Kepala sekolah merupakan sumber daya manusia yang seharusnya berperan sebagai manajer. Sebagai manajer maka kepala sekolah memiliki tugas dan fungsi mengoordinasikan dan menyerasikan sumber daya manusia jenis pelaksana melalui sejumlah imput manajemen. Dengan tugas dan fungsi tersebut, proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik untuk dapat menghasilkan output yang diharapkan. (Hal. 49).

Peran kepala sekolah sebagai manajer menuntut agar kepala sekolah bisa menciptakan iklim akademik yang produktif, di mana para pelaku pendidikan baik guru maupun siswa didesain bisa melahirkaan ide-ide kreatif sepanjang masa, sehingga proses pembelajaran tidak hanya terpaku pada tuntutan teks yang ada pada buku pelajaran, melainkan ada inovasi yang muncul dari para pengajar termasuk siswa, dan itu bisa didapat jika iklim akademik produktif itu sudah dibangun oleh kepala sekolah.

Sebagai manajer maka kepala sekolah perlu memelihara suatu lingkaran pertumbuhan dan kreativitas yaitu dengan memicu tumbuhnya budaya  yang penuh kreativitas, membuka peluang pengembangan karier, dan membuka perkembangan profesional yang berkelanjutan, khusunsya bgai setiap unsur yang ada dalam internal sekolah. (Hal. 127-128).

Buku ini bisa dijadikan rujukan utama para kepala sekolah untuk menginovasi perannya sebagai mamajer, setidaknya harus dipahami bahwa peran manajer seorang kepala sekolah bisa membantu proses keberhasilan pembelajaran di sekolah yang dipimpin. Harus diakui bahwa kepala sekolah menjadi ujung tombak keberhasilan pendidikan, maka inovasi peran menjadi sebuah keharusan. Selamaat membaca.

Tulisan ini dimuat di Harian Malang Post, 27 Januari 2019

Rabu, 16 Januari 2019

Peran Linguistik Arab Terhadap Pengembangan Studi Islam

Judul Buku : Pengantar Linguistik Arab
Pemulis    : Ade Nandang
Penerbit    : Rosda Karya
Cetakan         : 1. 2018
Tebal : 136 Halaman
ISBN : 978-602-446-246-8
Peresensi : Ahmad Wiyono

Islamic studies atau studi (pemikiran dan pendidikan) islam sudah dipastikan tidak akan lepas dari peran bahasa arab, karena di dalamnya selalu menggunakan kosa kata arab sebagai salah satu sumber kekayaan bahasa, apalagi studi islam dalam berbagai kajiaannya akan mengggunakan sumber-sumber referensi yang berbahasa arab seperti al-Qur’an, hadist serta qaul para ulama terkemuka.

Untuk itu perlu adanya pemahaman yang komperhensif terhadap bahasa arab dalam setiap pelaksanaan studi islam, baik oleh kalangan dosen termasuk para mahasiswa agar tidak terjadi pemahaman yang parsial dalam setiap penyelengagraan kajian keislaman. Salah satu unsur penting yang wajib dikuasai adalah linguistik sebagai pedoman dasar penggunaan bahasa arab yang baik benar.

Buku berjudul Pengantar Linguistik Arab ini mencoba menghadirkan metode penguasaan linguistik bagi para dosen dan mahasiswa, tujuannya tentu dalam rangka memberikan konsep dasar tentang tata cara menggunakan bahasa arab yang benar sesuai dengan kaidah dan rumus yang baku. Secara umum linguistik biasanya diajarkan dalam pembelajaran bahasa dan sastra, namun demikian kajian studi islam juga tidak akan lepas dari peranan linguistik tersebut.

Linguistik sebagai salah satu bidang ilmu tentunya akan memberi manfaat bagi siapa saja yang mempelajarinya dengan baik. Pada umumnya, -dikalangan mahasiswa-, yang mempelajari linguistik adalah mahasiswa jurusan bahasa dan sastra. Kedua jurusan ini dalam mempelajari linguistik mempunyai orientasi yang berbeda. (12). Seiring perjalanan waktu, sejumlah disiplin ilmu yang di dalamnya ada pmbelajaran bahasa juga menggunakan linguistik sebagai salah satu bidang pembelajaran.

Guna memberikan informasi yang lengkap terkait linguistik, buku ini mengurai sejumlah cabang linguistik sebagai gambaran awal tentang macam-macam linguistik itu sendiri, mulai dari linguistik descriptive, linguistik historis, linguistik comparative, linguistik contrastive, linguistik teoritis, dan linguistik terapan.

Linguistik terapan adalah ilmu yang berusaha menerapkan hasil penelitian di bidang linguistik untuk keperluan praktis. Linguistik terapan juga dimanfaatkan untuk memecahkan masalah-masalah praktis yang banyak sangkut pautnya dengan bahasa. Jadi linguistik dipakai sebagai alat untuk kepentingan lain. Misalnya, dalam pengajaran bahasa, linguistik dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan bahasa agar perolehan anak lebih meningkat. (Hal. 23-24).

Peran linguistik arab dalam kegiatan studi islam tentu juga sangat vital karena studi islam akan selalu bertemu dengan kosa kata arab yang sesekali memerlukan pendekatan linguistik sebagai dasar penggunaan bahasa yang baik dan benar. Hadirnya buku terbitan Rosda Karya ini setidaknya bisa menjadi referensi utama bagi kelompok akademisi dalam memgembangkan studi keislaman yang notabeni akan selalu beremu dengan kosa kata arab. Selamat membaca. (*)


Tulisan ini dimuat di Harian Radar Mojokerto, 16 Desember 2018

Selasa, 11 Desember 2018

Mewaspadai Lahirnya Budaya Konsumtif


Judul Buku : Prosa Dari Praha
Penulis : Nana Supriatna
Penerbit     : Rosda Karya
Cetakan         : 1. 2018
Tebal : 382 Halaman
ISBN : 978-979-692-222-2
Peresensi         : Ahmad wiyono

Globalisasi betul-betul membawa ekses luar biasa terhadap eksistensi kehidupan manusia, terutama dalam membentuk minsed yang berimplikasi pada perilaku nyata manusia global tersebut. Salah satunya adalah budaya konsumtif yang sudah mulai sulit dihindari. Diakui atau tidak ini adalah bagian tak terpisahkan dari dampak globalisasi.

Prosa Dari Praha ini memotret dinamika kehidupan manusia saat arus globalisasi mulai menjamah sendi kehidupan mereka, buku ini menghadirkan fakta unik yan imajinatif seputar perbadingan kehidupan masa lalu, dan masa kini.  Semuanya diulas bernada prosa yang memvisualisasikan perjalanan manusia dalam melintasi sejarah kehidupan.

Lintasan sejarah yang digambarkan pemulis dalam buku terbitan Rosda Karya ini bermuara pada satu persoalan krusial tentang kehidupan manusia, yaitu lahirnya masyarakat konsumen dalam impitan kapitalisme global, inilah fakta sejarah masa kini di mana manusia tak bisa lepas dari cengkaraman kapitalisme sementara di satu sisi budaya konsumtif mereka kian meraja lela.

Ironisnya, jebakan kapitalisme global yang berdampak pada budaya konsumtif tersebut tak hanya menjarah masyarakat kota, namun juga merambah hingga pelosok desa, penulis menggambarkan suasana desa yang nyaris tak lagi menujukkan susasa yang ‘ndesa’ seperti yang dirasakan puluhan tahun sebelumya, semua sudah berubah menjadi kampung global yang bernafas mesin. Disaat yang bersamaan masyarakat tak lagi menunjukkan pola konsumsi yang ramah terhadap lingkungan desa itu sendiri.

Warga desaku sudah menjadi bagian dari warga global yang sama dengan warga dunia lainnya. Sama halnya dengan warga kotaku, seringkali mereka tidak sadar bahwa mereka sedang berada di bawah kuasa kekuatan yang tidak Nampak di sana. Siaran senitron di jam tayang selepas senja begitu menggoda mereka. Di acara tayangan menarik itu beragam iklan muncul megenai barang-barang konsumsi. (Hal. 141).

Dampak lain dari globalisasi yang cukup menggurita di negeri ini adalah maraknya eksploitasi terjahadp kaum perempuan, beragam cara dilakukan demi memenuhi hasrat kapital dalam menceramuk sistem kearifan lokal bangsa, kita bisa lihat bagaimana “sosok” perempuan harus mengalamai dekomodifikasi menjadi objek dengan menampilkan hamper seluruh tubuh di hadapan publik demi seuah kepentingan bisnis. Dalam waktu yang bersamaan tak jarang para “korban” merasa nyaman dengan posisi tersebut karena alas an kebutuhan materiil. Padahal, alasan kebutuhan itu tak semata kebutuhan dasar, melainkan imbas dari budaya konsumtif yang mulai menggurita d dalam kehidupan mereka. 

Penampilan dan kecantikan telah menjadi pusat identitas banyak perempuan. Gagasan perfect body sangat erat kaitannya dengan cita-cita sosioekonomi melalui budaya konsumen. Apa yang dialami banyak wanita diseluruh dunia dalam berimajinasi mengenai perfect body lebih dari apapun, adalah ketidakpuasan atas tubuh mereka yang terinternalisasi dalam jiwa mereka. Mereka mengevaluasi diri mereka sendiri melalui orang lain, karena, kata Sartre, “orang lain adalah nerakamu”. (Hal. 181-182).

Budaya konsumtif masyarakat modern memaksa mereka untuk melakukan berbagai macam cara agar keinginannya tercapai, meski lasannya hanya persoalan ternd dan gengsi. Tak jarang mereka harus melupakan keperluan dasar dalam kehidupan ini demi memenuhi kebutuhan gaya hidup yang dibungkus dalam budaya konsumtif itu. Yang paling menegrikan, demi memenuhi syahwat gengsi dan ternd tersebut, mereka harus mengeluarkan banyak uang untuk berbelanja di tempat yang jauh, dengan nilai yang cukup mahal. Budaya ini sudah biasa kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Semakin mahal, semakin langka dan semakin jauh barang didapat mak semakin terangkat status sosial yang mendapatkan dan memilikinya. (Hal. 222). Tidak jarang barang yang kiita beli karena pengaruh orang lain. Apa yang orang lain konsumsi, kita pun ingin mengkonsumsinya. Apa yang orang lain beli, kita pun ingin membelinya. (Hal. 224). Inilah ironi budaya konsumtif manusia modern, berbelanja bukan karena kebutuhan melainkan keran gengsi yang berlebihan.

Inilah ancaman nyata yang mulai melanda masyarakat kita saat ini, teknologi betul-betul “menghasut” pola pikir masyarakat untuk menjadi kaum konsumtif. Maka, buku ini mengajarkan kita semua untuk lebih waspada terhadap segala bentuk produk teknologi informasi yang bisa membawa kita sebagai masyarakat konsumen, pastikan bahwa apa yang kita lihat aman untuk eksistensi kehidupan kita sendiri. Selamatkan diri kita dari budaya konsumtif. Selamat membaca.


Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos Radar Mojokerto, edisi 25 November 2018.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons