Jumat, 03 Maret 2017

Kisah Para Penjaga Amanah

Judul : Para Pemimpin yang Menjaga Amanah
Penulis : Ahmad Rofi’ Usman
Penerbit : Bunyan
Cetakan :   1. September. 2016
Tebal : 180 Halaman
ISBN : 978-602-291-255-2
Salah satu tantangan tertebrat seorang pemimpin adalah menjalankan amanah yang telah dibebankan kepadanya, banyak sekali godaan dan cobaan yang sewaktu-waktu bisa membuat seorang pemimpin tergelincir dari menjalankan amanah kepemimpinannya tersebut.

Konsistensi menjaga amanah tentu menjadi taruhan keberhasilan kepemimpinan seseorang, karena hal itu akan berdampak secara langsung terhadap kesejahteraan orang-orang yang dipimpinnya. 

Perjalanan sosok para  pemimpin yang konsisten menjaga amanahnya,  bisa kita temukan dalam buku ini, di dalamnya menghimpun sejumlah kisah para khalifah yang begitu hati-hati dalam menjalankan amanah kepemimpinnya. Kisah-kisah para khalifah tersebut tersaji dalam bentuk certita memukau yang begitu mudah dicerna dan diteladani oleh kita semua.

Ada banyak kisah perjalanan para khalifah yang ditulis dalam buku terbitan Bunyan ini, semuanya merupakan tokoh-tokoh pemimpin islam masa lalu yang memiliki kometmen kuat dalam menjalankan amanah, sehingga  mereka sangat disegani oleh para rakyat yang dipimpinnya. Mereka antara lain adalah Mu’awiyah bin Abu Sufyan, Abdul malik bin Marwan, Al-Wahid bin Abdul Malik, Umar Bin Abdul Aziz, Harun Al-Rasyid, Shalahuddin Al-Ayyubi dan beberapa tokoh lainnya.

Wujud nyata kepemimpinan amanah yang telah dilakukan oleh para khalifah itu bisa dilihat dari sejumlah kegiatan dan pengayomannya terhadap rakyatnya. Tak jarang para khalifah itu turun sendiri menemui rakyatnya demi memberikan pelayan dan bantuan kepada mereka. Dalam buku ini juga diulas sejumlah persitiwa-peristiwa menarik perjalanan para khalifah tersebut ketika mendatangi masyarakat  atau rakyatnya.

Buku ini mengurai makna amanah dalam tiga hal, diantaranya adalah amanah kepada Tuhan, kedua amanah kepada manusia, dan yang ketiga adalah amanah kepada dirinya sendiri. Tiga hal ini jika bisa dimiliki oleh seorang pemimpin, maka sudah bisa dipastikan seluruh rakyat yang dipimpinnya akan mengalami kesejahteraan dan kemakmuran. Seluruh kisah para khalifah yang konsisten menjalankan amanah yang diurai dalam buku ini patut untuk diteladani, terutama dalam kondisi krisi kepemimpinan saat ini. 



Dimuat di Harian Analisa

Menghindari Dosa-dosa Pernikahan


Judul : Dosa-dosa Dalam Pernikahan
Penulis : Irhayati Harun
Peerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 1. 2016
Tebal : 143 Halaman
ISBN : 978-602-03-2496-8
Tujuan akhir dari setiap pernikahan tentu dalam rangka membentuk keluarga yang harmonis, tenteram dan bahagia, teori ini dalam al-Qur’an disebut sebagai konsep keluarga Sakinah Mawadah wa Rahmah. Sehingga, pernikahan bisa membawa kedamaian bagi kedua pasangan tersebut, termasuk kepada seluruh keluarga mereka.

Seiring berjalannya waktu, tak sedikit dijumpai pernikahan yang tidak berumur panjang, ada saja penyebab yang menjadikan alasan pernikahan kadang harus berantakan di tengah jalan. Ini tentu tidak diharapkan oleh semua orang, namun demikian, kejadian semacam itu kerap melanda sebuah mahligai rumah tangga. Oleh karena itu, setiap menjelang, dan saat menjalani pernikahan pasangan suami isteri harus betul-betul memiliki perencanaan hidup berkeluarga yang baik, yang sesuai dengan ajaran agama dan norma sosial.

Ada beberapa kesalahan dalam pernikahan yang tanpa disadari terjadi dan dilakukan oleh pasangan suami isteri, ini kelak yang akan menggerogoti harmonisasi hubungan keluarga tersebut. Semua itu bisa kita temukan dalam buku berjudul Dosa-dosa Dalam pernikahan karangan Irhayati Harun ini. Buku ini mengulas sejumlah dosa pernikahan yang harus dihindari demi terwujudnya hubungan suai isteri Sakinah, Mawadah wa Rahmah.

Beberapa dosa pernikahan yang diulas dalam buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini antara lain adalah kesalahan dalam mengelola keuangan, memeliharan dendam, tidak memuji pasangan, berusaha mengubah pasangan, lebih melihat kekurangan pasangan, menganggap mertua musuh, dan beberapa dosa lainnya. Semua itu tentu harus dihindari agar hubungan keluarga terus haromnis.

Salah satu hal yang menjadi problem mendasar dalam sebuah rumah tangga, utamanya bagi yang baru menikah adalah persoalan keuangan atau finansial. Kita tahu bahwa keuangan merupakan tonggak dalam laju perjalanan sebuah rumah tangga, apabila salah dalam mengaturnya, maka fatal akibatnya. Untuk itu perlu ada kesepakatan bersama bagaiamana mengelola keuangan yang baik dan sama-sama menenteramkan kedua belah pihak.

Penting sekali membuat perencanaan keuangan yang matang bersama pasangan. Sebab dengan menikah berarti kita tak lagi hidup sendiri. Salah satu caranya, copromikanlah apa yang diharapkan oleh masing-masing pihak terhadap pasangan menyangkut pengaturan pengeluaran setiap bulan. Apa saja yang harus dibelli dan perlukah menghemat untuk kebutuhan tersebut? Apalagi jika sudah memiliki anak, otomatis pengeluaran rumah tangga bertambah (Hal. 15).

Selain terbuka dalam hal materi atau keungan, pasangan suami isteri juga hraus mampu membuka diri dalam segala aspek kehidupan, masing-masing harus berana dikritik secara konstruktif. Hal tersebut penting karena disadari ata tidak setiap manusia pasti memiliki kekurangan.  Buku ini megulas bahwa pasangan suami isteri yang tidak berkenan dikritik berarti sudah terjebak dalam salah satu dosa pernikahan. Padahal kritik membangun justeru berdampak terhadap kebaikan kualitas pernikahan itu sendiri.

Kritik positif mampu membawa hubungan pernikahan kearah yang lebih baik. Misalnya, kita kurang disiplin dan tidak tepat waktu, atau cenderung kurang rapi, maka kritikan dari pasangan kita tentu akan membuat kita menjadi pasangan yang lebih baik lagi (Hal. 58)

Segala problem rumah tanga dan cara mencari jalan keluarnya juga diurai secara detil dalam buku ini, bahkan juga diengkapi sejumlah tips cerdas dala menangani probem pernikahan tersebut. Buku setebal 143 halaman ini layak dijadikan rujukan untuk menghindari sejumlah dosa dalam pernikahan, sehingga akhirnya mapu merajut keluarga samawa dan dirihai oleh Allah Swt.



Dimuat di harian Samarinda Pos

Mendalami Metode Dakwah Simpatik

Judul : Samrt Dakwah
Penulis : Udji aisyiyah
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 1. 2016
Tebal : 91 Halaman
ISBN : 978-602-03-3682-4
Menjadi juru dakwah (Dai) ternyata bukan pekerjaan yang mudah, butuh keahlian khusus dalam menekuni “profesi” tersebut, setidaknya, seorang Dai harus betul-betul menguasai dasar keilmuan khususnya ilmu agama sebagai pilar utama isi dakwah.

Metode berdakwah pun harus selalu megalami inovasi, hal ini berkaitan dengan tuntutan kemajuan zaman serta kecanggihan teknologi informasi yang kian menggurita dewasa ini, maka bisa dipastikan, bahwa seorang Dai harus mempu beradaptasi dengan kemajuan zaman tersebut, sehingga metode dan materi dakwahnya pun bisa menyeimbangi pergulataan masa itu sendiri.

Metode berdakwah yang simpatik, serta sesuai dengan kondisi zaman kekinian bisa kita temukan dalam buku berjudul Dakwah Simpatik karangan Udji Asiyah ini, buku seri dakwah ini merangkum sejumlah metode dan strategi dakwah yang inovatif yang perlu dicoba oleh para Dai, sehingga bisa dengan mudah memikat hati para audiens.

Inovasi dakwah yang dimaskud salah satunya adalah proses penyesuaisan dengan dinamika kehidupan manusia saat ini, seperti kecanggihan teknologi, maka seorang Dai dituntut peka dan tidak kaku dalam menggunakan atau memanfaatkan kecanggihan tersebut, sehingga dakwah tidak hanya selalu di atas fodium, namun juga melalui pelbagai sarana yang bisa digunakan di era yang serba canggih saat ini.

Era global ini, Dai dituntut untuk lebih kreatif dalam dakwahnya termasuk dalam menggunakan aneka media, beberapa Dai, kiyai, motivator memanfaatkan media sosial internit sebagai sarana dakwah untuk menjaga nilai-nilai moral dan agama. Contohnya adalah K.H. Musthafa Bisri (Gus Mus) yang aktif juga memanfaatkan media ini (Hal. 29).

Inilah salah satu strategi berdakwah yang diulas dalam buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini,  pesan yang hendak disampaikan dalam streagi ini adalah pentingnya melakukan sejumlah cara berdakwah yang mudah dijangkau oleh masyarakat luas, seperti melalui kecanggihan intenit tesebut. Gus Mus adalah salah satu orang yang dicontohkan sebagai seorang dai yang aktif berdakwah melalui media sosial. Inilah bentuk inovasi dakwah.

Sementara itu, untuk mempermudah memikat hati orang-orang yang menjadi sasaran dakwah atau audiens, maka seorang dai harus lihai dalam memgolah kata, bahasa termasuk kondisi sosio kultural audiens yang dihadapi saat itu, membaca peta dan kondisi sosial masyarakt itu tentu tidak hanya dilakukan dalam kegiatan dakwah tebuka, namun dilakuakn dalam berbagai bentuk dahwah. Ini yang akan menarik simpati audiens.

Seorang dai dituntut untuk mengerti kondisi khalayak pendengarnya atau yang didakwahi. Tidak seyogjanya seorang Dai mengabaikan faktor kategori penerima dakwah, misalnya pebedaan umur dengan alasan mengajarkan persamaan. Ia tidak boleh menyampaikan gaya pembicaraan terhadap dua kelompok penerima dakwah yang berbeda (Hal. 76).

Target dari setiap kegiatan dakwah adalah diterimanya materi dakwah dan dipraktikkan dalam keidupan mereka, jika ini bisa dicapai, berarti seorang Dai telah sukses dalam menyampaikan dakwahnya. Buku ini layak untuk dijadikan referensi bagi setiap Dai agar selalu suksea dalam menyampaikan dakwah dan menyeru ke jalan yang lurus. 




Dimuat di harian Duta Masyarakat

Kamis, 02 Maret 2017

Seni Mengelola Kesulitan

Judul : Ada Pelangi di Balik hujan
Penulis : Satria Nova
Penerbit : Mizania
Cetakan : 1. 2016
Tebal : 206 Halaman
ISBN : 978-602-418-079-9
Hidup manusia pasti akan selalu mengalami dinamika, pasang surut kehidupan manusia bakal menjadi warna dari setiap pergerakan hidup manusia itu sendiri. Hidup Manusia akan seperti roda, yang berputar tanpa henti.  Ada waktunya di atas, namun suatu waktu pasti akan ada di bawah.

Romantika hidup yang selalu dinamis ini perlu penyikapan seius dari setiap orang, sehingga apa pun kondisi yang dihadapi bisa dijalani dengan baik. Manis atau pun pahit selalu dihadapi dengan penuh kesadaran. Banyak orang siap menerima kenyataan manis, namun kadang tak mampu menghadapi kenyataan pahit. Nah, ini problem yang harus dicarikan jalan keluarnya.

Memang, seandainya bisa memilih, tentu tidak ada manusia yang berkeinginan untuk memasuki zona pahit tersebut, tapi sekali lagi itulah roda keidupan, manis dan pahit adalah rumus yang harus tetap dirasakan. Seni untuk menghadapi masa pahit itu bisa kita dapatkan di buku berjudul Ada Pelangi di Balik Hujan ini. Buku karangan Satria Nova ini setidaknya menyampaikan pesan optimisme bagi setiap orang tentang arti kemudahan di balik setiap kesulitan.

Pada dasarnya, kesulitan yang menimpa mansuia muncul akibat tidak adanya kesadaran dan kesabaran dari manusia itu sendiri, sehingga kesulitan itu akan berbuah pahit dan kesengsaraan. Padahal, masa sulit bisa saja menjadi moment untuk mengevaluasi dan bermuhasabah tentang apa yang telah dilakukan selama ini. Keyakinan yang harsu dibangun adalah, bahwa, ada banyak kenikmatan sesungguhnya di balik kepahitan yang menimpa kita, dan itu bida dirasakan hanya baagi manusia yang pandai bersyukur.

Apa yang telah kita dapat sesunggunya telah melebihi bayangan kita. Sering tidak kita sadari betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan, namun kita abaikan. Kita tak pernah meminta udara untuk bernafas, namun Allah menyediakannya. Sering kita abaikan nikmat berupa iman, islam, kesehatan, kesempatan, penglihatan, pendengaran, dan berbagai nikmat lainnya (Hal. 73).

Seni mengelola masa sulit sebenarnya terpusat pada kesabaran dan berbaik sangka, dua hal ini sangat menentukan kulitas kehidupan manusia saat ini. Seberat apa pun beban hidup yang dipikul, apabila dihadapi dengan kesabaran dan prasangka yang baik, maka semua iti akan terasa nikmat, karena selalu ada yang indah di balik setiap peristiwa pahit, yang selama ini jarang kita perhitungkan.

Buku ini mengajak kita semua untuk selalu optimis dengan realitas hidup yang kita hadapi, masalah yang datang pasti aka ada jalan keluarnya, maka jangan jadikan masalah itu sebagai akhir dari segalanya, justeru jadikan masalah tersebut sebgai pintu untuk membuka lembaran kehidupan yang lebih baik. Berbaik sangka adalah kunci keberhasilan tersebut.

Saya rasa ini juga yang sering terjadi dalam kejidupan kita. Saat kita mengalami kesulitan, masalah, dan berbagai hal buruk lainnya, alangkah baiknya jika kta bisa berbaik sangka, berfikir positif bahwa itu semua ada maksudnya. Meski melelahkan, menyakitkan, kita harus percaya bahwa Allah sedang mengajarkan banyak hal. Allah sedang menuntun kita kepada sesuatu yang baik untuk kita (Hal. 84).

Ada baiknya jika kita sebagai manusia selalu melakukan introspeksi terhadap apa yang telah dilakukan selama ini. Buku ini juga mengajak kita semua agar selalu sadar akan hakikat dan makna kehidupan yang telah Allah berikan kepada kita semua. Uraian-uarain dalam buku terbitan Mizania ini sekaligus menjadi terapi spiritual  kepada kita semua tentang pentingnya menjaga hati sehingga bisa berimplikasi pada kesabaran, berbaik sangka serta selalu berdzikir kepada-Nya. Inilah seni menhgelola kesulitan.



Dimuat di harian Jateng Pos

Pembelajaran Inovatif Berbasis Hypno Learning

Judul : Dahsyatnya Spitual Hypno Learning
Penulis : Rustan Ibnu Abbas
Penerbit : Emir
Cetakan : 1. 2016
Tebal : 184 Halaman
ISBN : 978-602-0935-48-5
Target dari setiap proses pembelajarn adalah melahirkan peserta beajar yang mampu menyerap seluruh atau minimal sebagian besar pengetahuan yang ditrasnformasikan dalam kegiatan belajar tersebut, ini yang kemudian menjadi salah satu indikator kesuskesan belajar.

Dalam setiap kegiatan pembelajaran, setiap orang tentu memiliki gaya dan strategi belajar yang beragam, hal itu dimaksudkan untuk mencapai keberhasilan dalam belajar. Dengan demikian, tekad dan kesungguhan masing-masing orang dalam melakukan aktifitas belajar menjadi kata kunci berhasil tidaknya orang tesebut dalam menyerap ilmu pengetaguan yang sedang dipelajari.

Buku ini memuat beberapa ragam metode dan strategi belajar yang dipayungkan paa teori Hipnosis. Secara mendasar teori hypnosis adalah cara mengajak jiwa dan perasaan manusia untuk tertuju pada satu titik, baik ajakan itu dari luar mau pun dari dalam jiwa kita sendiri. Sederhanya, hypnosis berupaya menyatukan jiaa dan pikiran manusia pada satu hal yang sedang dipikirkan atau dikerjakan.

Biasanya, dalam kondisi terhipnotis pikiran seseorang akan semakin fokus pada hal-hal tertentu yang menjadi perhatiannya. Dalam keadaan tersebut, manusia akan lebih sugestif pada informasi atau sugesti yang diberikan orang lain. hal tersebut dijadikan moment oleh ahli hipnotis untuk memberikan motivasi dan terapi kepada orang yang dihipnotis (Hal. 11).

Kaitannya dengan motivasi, seseorang yang sudah termotivasi untu belajar, maka proses dan kegiatan belajarnya tentu akan meningkat. Pikiran manusia yang terhipnotis kemudian termotivasi untuk belajar, secara langsung bisa berdampak pada aktifitas belajarnya yang terus meningkat. Maka, motivasi inilah sebenarnya yang menjadi penting, dan motivasi ini bisa didapat salah satuya dengan hipnosis terapi tersebut.

Dalam kegiatan pembelajaran, motivasi berperan sangat penting sebagai langkah awal yang akan memacu aktifitas-aktivitas berikutnya. Dengan motivasi, seseorang berupaya memusatkan pikiran, perasaan emosional, atau segi fisik dan unsur psikisnya kepada sesuatu yang menjadi tumpuan perhatiannya (Hal. 59).

Implikasi lain dari motivasi belajar aalaah konsistensi seseorang terhadap waktu yang dimiliki, mereka sama sekali tidak menyia-nyiakan waktu yang ada, justeru sebaliknya, waktu selalau dimanfaatkan untuk kegiatan belaja dan hal-hal yang beguna lainnya. Motivasi yang lahir dari hypnosis terapi tenyata juga menghasilkan jiwa-jiwa manusia yang mampu mengorganisir waktu.

Buku ini juga merangkum beberapa teknik belajar efektif yang bisa dipraktikkan oleh setiap kita dalam rangka meraih kesuksesan belajar, teknik-teknik itu antara lain dengan membentuk kelompok belajar, merangkum setiap pelajaran, disiplin dalam belajar, aktif betanya, mengembangkan materi yang sduah dipelajari, membiasakan belajar dalam kondisi tenang, dan beberapa teknik lainnya.

Jika kita bisa mempraktikkan teknik-teknik di atas, maka sukses dalam proses belajar sangat mungkin kita raih. Apalagi jika motivasi dan organisir waktu juga mampu kita pegang dengan sebaik-baiknya. Buku ini sangat baik untuk dijadikan referensi, karena sudah hampir dipastikan, bahwa setiap kita selalu memiliki mimpi untuk meraih sukses dalam setiap proses beajar. 



Dimuat di Harian Kabar Madura



Islam Menjawab Problematika Keluarg

Judul : Baiti Jannati
Penulis : Ali Jum’ah
Penerbit : Noura Book
Cetakan : 2016
Tebal : 168 Halaman
IBN : 978-602-385-178-2
Islam adaah agama yang universal,  seluruh sisi kehiudpan manusia telah diatur sedeMikian rupa, tentu semua itu untuk kepentingan ummat yang memeluk agama islam itu sendiri. Ini yang kemudian menjadikan Islam sebagai agama yang selalu membawa rahmat bagi segenap alam.

Salah satu aspek yang datur oleh islam adalah aspek keutuhan rumah tangga, di mana agama Islam telah memberikan rambu seputar tata cara membangun keluarga yang utuh, bahagia dan sejahtera, semua itu diawali dengan sebuah aturan main berupa tali pernikahan. Selanjutnya ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk memelihara kebahagiaan  tersebut berdasarkan ajaran islam yang sudah berlaku.

Buku  ini mencoba menerjemahkan makna peranan islam terhadap kebahagiaan sebuah hubungan keluarga. Di dalamnya diurai sejumlah peta perjalanan keluarga yang perlu dijalani oleh setiap manusia sehingga bisa mendapatkan jalan kebahagiaan seperti yang diimpikan.  Dengan gaya Tanya jawab, buku ini mengulas sejumlah problematika keluarga yang berdasar pada ajaran islam.

Dalam menjalani mahligai rumah tangga, suami mau pun isteri perlu saling koreksi, bahkan kritik yang membangun, hal itu dilakukan tentu dalam rangka memperbaiki mutu hubungan keluarga itu sendiri. Bahkan dalam suasana tertentu, perlu salah satu pasangan untuk memuji, meski tujuannya adalah untuk mengkritik. Ini yang dalam buku ini disebut sebagai kebohongan yang tidak sebenarnya, namun diniatkan untuk kebaikan bersama.

Sementara itu, hal yang paling penting adalah setiap suami atau pun  isteri tidak diperbolehkan bahkan dilarang keras menjelek-jelekkan pasangannya masing-masing di hadapan orang lain. apalagi di depan publik. Sikap tetbuka boleh-boleh saja, namun hal itu cukup menjadi konsumsi berdua, sehingga solusi yang didapatkan juga merupakan hasil diskusi berdua. Sementara publik tak berhak mengetahui kelemahan atau kekurangan masing-masing.

Seorang isteri tidak boleh menjelek-jelekkan suaminya, baik di depan keluarga sendiri atau orang lain. dia juga tidak boleh bersikap buruk terhadap suami atau mengabaikannya. Karena suami adalah pintu masuk surga baginya dan ridha suami bagi isteri berarti ridha Allah (Hal. 48).

 Inilah makna universalitas islam, begitu komplit mengatur segala tatanan kehidupan manusia, bahkan hingga urusan keluarga sekalipun. Buku ini menjawab masalah-masalah yang mungkin muncul dalam membina rumah tangga. Agar rumah menjadi tempat benaung, tempat betkumpul, dan surga bagi anggota keluarganya.

Jadi, islam bukan hanya shalat dan zakat semata seperti anggapan banyak orang. Semua itu harus dibarengi dengan akhlak mulia dan perilaku-perilaku adiluhung yang telah diajarkan Rasulullah  Saw kepada kita (Hal. 108).


Dimuat di harian Analisa, 03 Maret 2017

Rabu, 01 Maret 2017

Tahun Ke Lima

A. Haidar Jawis Syarqi
Hari ini, Kamis, 2 Maret 2017 merupakan hari yang (saya anggap) cukup istimewa, ini adalah hari ulang tahun ke-lima anak saya (A. Haidar Jawis Syarqi). Saya merasa bahagia karena selama lima tahun ini kami jalani mahligai ini dengan penuh keindahan, yah, kendati ada kerikil-kerikil yang saya jumpai dalam beberapa kesempatan.

Dalam mengarungi perjalanan kehidupan bersamanya, 5 tahun adalah waktu yang terasa sangat singkat. Saya justeru tidak sadar kalau ternyata dia telah berusia lima tahun. Ini mungkin dikarenakan kami selalu menikmati tahap demi tahap perjalanan hidup sang pendekar pertama saya ini. Sehingga semua terasa begitu cepat.

Saya jadi ingat bagaimana lima tahun silam sewaktu dia masih dalam kandungan. Masih tersimpan rapat dalam memori ingatan saya, bagaimana proses melelahkan yang dialami isteri saya (Nur Anisah) saat-saat proses persalinannya. Waktu itu hari kamis, tanggal 1 Maret 2012, sekitar pukul 22 lewat, siteri saya mulai sakit perut, sebagai suami siaga saya langsung mengajaknya untuk periksa ke bidan terdekat. Apalagi dalam hitungan kalender kehamilan, usia kehamilan isteri saya sudah lewat dari jadual prediksi kala itu.

Sepeda Motor Yamaha Vega warna biru mengantarkan kami berdua ke tempat bidan yang tak begitu jauh dari rumah kami. Sepanjang perjalanan, saya merasakan ada sakit dialami oleh siteri saya, itu saya yakini karena sesekali isteri saya “tersentak-sentak” diatas motor sambil sesekali tiba-tiba memegang erat pundak saya. Saya tahu betul ada sakit yang dia rasa, tapi tidak dia ucapkan.

Saya menunggu detik-detik persalinan isteri saya di Polindes dekat rumah saya. Sebuah proses (yang saya bilang cukup panjang) harus kami lalui. Dari aura wajah dan sorot matanya, jelas ada sakit mendalam yang sengaja dia sembunyikan. Sakit itu ingin juga saya rasakan, seandainya semua itu bisa dibagi. Tapi dia begitu ikhlas menjalaninya.

Saya tetap ada di sampingnya, meski sesekali dia betkata lirih kepada saya “Kak Tak anapah sampean mun asarenah” (kak tidak apa-apa kalau sampean mau tiduar).  Saya hanya menjawan “iya”. Karena tidak mungkin saya bisa tidur di tengah rasa sakit yang sedang dirasakan oleh isteri saya. Dalam keadaan ngantuk yang cukup berat serta kondisi fisik yang tidak stabil –karena waktu iitu saya masih dalam keadaan sakit cedera pada lutut akibat kecelakaan yang menimpa saya-, saya tetap berusaha untuk tidak lelap sedikit pun.

Tepat pukul 00 lewat, bidan menyatakan baru pembukaan 5, itu artinya persalinan diprediksi masih sekitar pukul 4 atau pukul 5 dini hari. Saya semakin tidak kuat, bukan karena ngantuk yang mendera saya, melainkan karena tidak tega dengan rintihan sakit yang dialami oleh isteri saya. Nyaris tak ada siapa-siapa di ruangan itu, hanya bidan yang sewaktu-waktu mengecek perkembangan proses persalinannya. Saya memang sengaja tidak berkabar kepada siapa pun.

Adzan subuh berkomandang,  saya semakin waswas, tegang tak karuan. Tidak tahu harus berbuat apa. Hanya lafadz-lafadz Dzikir, dan amalan yang sudah diberikan bapak saya yang tak henti-hentinya saya gulirkan dari bibir  yang semakin gemetar. 

Adzan Subuh sudah berlalu, saya belum shalat. Sementara tak mungkin saya meninggalkan isteri saya sendirian.  Bu bidan masuk dengan Mokena yang masih menempel di tubuhnya. Dia menatap pada saya, “Mas, silahkan shalat dulu, tidak apa-apa shalat di kamar sebelah saja, biar saya di sini” ujar sang Bidan. Saya pun bergegas untuk shalat Subuh.

Dalam linangan air wuduk, tak henti-hentinya hati dan batin saya memohon agar isteri dan anak saya diselamatkan. Bacaan Qunot pun menjadi saksi permintaan saya kepada Tuhan agar mereka selamat. Habis shalat subuh saya masih menuntaskan bacaan dzikir saya, tak banyak yang saya minta, kecuali keselamatan isteri dan anak saya. Tiba-tiba; “mas mas, laki-laki” bu bidan berteriak memanggil saya. Saya kaget, saya berfikr dia butuh bantuan seorang laki-laki, dengan kaki terpincang-pincang saya segera memasuki ruangan persalinan. Saya sangat khawatir, pasti ada seuatu  yang buruk telah terjadi. “Allah…..!!!” jerit saya waktu itu.

Kekhawatiran saya tejawab manis setelah mebuka pintu ruang persalinan, saya mendengar tangis bayi mungil menjerit-jerit indah.  “alahamdulillah, dapat cowok mas” ujar bu Bidan. Tak terasa air mata ini berlinang, penantian selama hampir 7 jam terjawab  sudah. Allah telah menganugerahkan anak pertama laki-laki kepada saya. Saya melirik isteri saya yang sedang lunglai, ada senyum manis yang dia lontarkan kepada saya sebagai  simbol kebahagiannya.

Kini, bayi mungil itu telah menjadi anak-anak,  anak  yang sesekali menunjukkan sifat nakalnya pada sang ibu. Anak yang sesekali “mencubit” hati ibunya. Tapi, dia hanyalah anak-anak, belum waktunya dia tahu sejarah perjuangan ibunya.  Dia adalah anak-anak yang hanya berhak mendapat pendidikan keluarga serta curahan kasih sayang dai orang tuanya.


Tak Ada Lilin dan Kue Tar
Sejak ulang tahunnya yang pertama, saya dan ibunya tak pernah merayakan dengan model apa pun. Kami hanya pernah mengundang beberapa teman-temannya yang dekat dengan rumah untuk sekedar berkumpul dan berdoa. Nyaris tak ada yang istimewa. Penuh kesederhanaan.

Kadang saya juga berfikir, apakah perlu kita mengadakan pesta ulag tahun untuk anak-anak, dengan kue tar, lilin dan kado yang bermacam-macam?.  Perlu atau tidak, yang jelas saya belum  melakukan hal itu. Ada banyak pertimbangan prinsipil yang hatus saya perhatikan.

Pertama; saya ingin sekali mengajarkan makna kesedarhnaan bagi anak-anak saya, dan itu juga yang diinginkan isteri saya. Saya ingin katakan pada mereka, bahwa uforia, pesta dan semacamnya terkadang tak begitu memberikan efek positif bagi tumbuh kembangnya. Karena dalam teori psikologi, semakin anak dimanja, semakin sulit anak untuk berfikir dewasa. Saya tidak dalam rangka mengklaim pesta ulang tahun adalah bentuk pemanjaan, tapi itu salah satu pintu.

Kedua; saya ingin mengajarkan sejarah masa lalu saya dan ibunya kepada anak-anak saya. Bahwa kami adalah orang-orang kampung yang lahir, hidup dan besar dalam kehidupan yang penuh kesulitan. Kami adalah “anak phungkalatan”  yang ketika hendak makan, maka harus bertani  dan berladang.  Hidup pas pasan dan tak ada kemewahan. Kami ingin megajarkan itu semua, sebuah proses berdarah-darah yang telah kami rasakan bersama. Apakah kami hendak menurunkan semua itu? Jawabannya tidak dalam rangka itu, namun lebih pada bagaimana mereka paham dengan sejarah masa lalu orang tuanya. Yang ingin kami wariskan adalah ”kesuksesan bukanlah saat kita bergelimang harta hasil pemberian orangtua, namun saat kita memiliki harta meski seadanya namun hasil kerinat sendiri”.

Tadi pagi, habis subuh,  isteri saya mengingatkan saya tentang ulang tahun Haidar yang ke-lima. Ada pertanyaan, apakah tidak perlu memberi hadiah atau kado? Saya menjawab dengan spontan, kita sudah biasa memberi hadiah dan kado,  tak usah menunggu ulang tahun.  Kalau pun toh, hari ini atau besok kita kembali memberikan hadiah, bagi saya tidak masalah, tapi jauhkan kesan bahwa itu karena ulang tahun. Karena hadiah harus kita berikan sepanjang waktu, sepanjang masa, bukan karena momentum tertentu. Bagi saya itu bentuk kasih sayang yang sebenarnya.


Dari Mana dan Hendak ke Mana
Masa lalu adalah pengalaman, hari ini adalah kenyataan dan hari esok adalah impian. Begitu kira-kira papatah lama mengatakan. Dalam kesempatan ini, saya pun ingin sekali mengajarkan makna substantif dari pepatah ini kepada anak saya. Ada banyak hal yang harus dia ketahui kelak tentang dari mana asal muasal dirinya. Itu penting, agar ketika kelak dia menjadi orang hebat dia tidak lupa diri dan tidak lupa asal usulnya, dan jika pun dia kelak menjadi orang biasa-biasa saja, dai akan menyadari tentang makna kehidupan itu, karena dia sudah tahu kesederhanaan yang dilakukan oleh nenek moyangnya.

Dalam setiap kesempatan, saya selalu mengaknya main-main ke Sumenep (kampung halamn saya) tujuan utama agar dia bisa bertemu dengan kakek neneknya. Agar dia bisa merasakan bagaimana iklim kehidupan di sana. Agar dia juga memahami bagaiana getirnya perjuangan hidup sebagai orang tua. 

Ingin saya tunjukkan kepada anak saya, tentang keriput dahi kakek neneknya, retak telapak kaki kakek neneknya, kasarnya kedua telapak tangan kekek neneknya. Semua itu pertanda bahwa ada perjuangan berat yang telah dilakukan untuk sekedar menghidupkan saya dan mengantarkan saya ke berbagai medan perjuangan. Itu sejarah penting yang harus diketahui oleh anak saya.

Tak ada yang sitimewa, tapi bagi saya itu sungguh sangat luar biasa. Kehidupan nyata yang telah di lalui oleh bapak ibu saya sejak saya belum ada di dunia. Adalah pelajaran penting buat saya dan anak-anak saya. Dari sanalah saya bermula, maka kepada pengalaman itulah anak-anak saya harus blajar.  Persoalan kelak dia  hendak ke mana, biarkan taqdir yang mengantarkannya. Saya tak muluk-muluk uuntuk mendedikasikan anak-anak saya jadi apa, itu urusan nanti. Dia akan berjuang sesuai nengan mimpinya sendiri. Yang penting dia bisa berbakti. itu saja.

Maaf nak, ulang tahunmu kali ini kembali tak ada kue tar atau pu lilin yang harus kau tiup, bagi saya itu tidak terlalu prnting. Bagi saya ulang tahun itu cukup dijadikan bahan muhasabah untuk merenung tentang usia yang bertambah seklaigus berkurang. Namun yang pasti, doa ibumu akan terus mengalun dalam setiap desah nafasnya, agar dalam keadaan apa pun kau tetap menjadi anak shaleh dan berbakti, berguna bagi bahgsa, agama dan Negara. Oh iya nak, saat masih pelajar, maka saya bergabung dengan Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU), saat kulaih saya masuk ke Pergerakan Mahasiswa islam Indonesia (PMII), saatt ini saya aktif di Gerakan pemuda Ansor, sembari berusaha menjadi NU sejati. Dan kau nak, harus meniru jejak saya ini.

Selamat ulang tahun yang ke lima nak, tataplah masa depan, singsingkan lengan baju. Jadilah apa yang kamu mahu. Tulisan ini adalah kado istimewa untuk ulang tahunmu yang ke lima.


Mekkasen, 02 Maret 2017





 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons