Senin, 01 Agustus 2016

Revolusi Belajar ala Kanjeng Nabi

Judul        : Metode Pengajaran Rasulullah SAW
Penulis        : Sitiatava Rizema Putra
Penerbit    : Diva Press
Cetakan    : 1. Juni 2016
Tebal        : 216 Halaman
ISBN        : 978-602-391-208-7
Proses belajar mengajar selalu memerlukan inovasi, baik dalam segi metode, konsep hingga model pembelajaran. Hal itu bertujuan untuk menghasilkan produk pembelajaran yang bermutu yang berimplikasi pada lahIrnya out put dan out come pendidikan yang berkualitas.

Gebrakan inovasi pembelajaran ini tentu menjadi tanggung jawab setiap tenaga pendidik, mereka diharuskan untuk bisa menguasai pelbagai ragam metode yang variatif dan menyenangkan, sehingga bisa membentuk kulaitas sumber daya manusia yang memadai. 

Salah satu metode pembelajaran yang bisa djadikan referensi hari ini adalah konsep mengajar yang pernah diterapkan oleh Nabi Muhammad SAW. Selain sebagai Rasul, beliau ternyata memiliki kemampuan metodologis yang luar biasa dalam melakukan proses belajar mengajar. Tak ayal, beliau juga dikenal sebagai guru yang sukses dalam mendidik para sahabat dan umatnya.

Buku ini mencoba mengurai ragam metodoligis pembelajaran yang pernah diterapkan oleh Nabi, terutama proses belajar mengajar yang beliau sampaikan langsung kepada para sahabat kala itu. Salah satunya yang paling ditekankan oleh Nabi adalah pendidikan keteladanan. Di mana, guru harus tampil menjadi figur yang selalu layak untuk digugu dan ditiru. Dan nabi Muhammad sudah berhasil menerapakn pola itu sehingga dalam setiap pelajaran yang beliau sampaikan, beliau alah orang petama yang melakukannya.

Ada dua bentuk strategi keteladanan. Pertama, keteladanan yang disengaja dan dipolakan sehingga sasaran dan perubahan perilaku dan pemikiran anak sudah direncanakan dan ditargetkan. Misalnya, seorang guru sengaja memberikan contoh yang baik kepada muridnya sehingga dapat menirunya. Kedua, keteladanan  yang tidak disengaja. Dalam hal ini, guru tampil sebagai seorang figur  yang dapat memberikan contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari (Hal. 70).

Pendidikan keteladan memang menjadi kunci awal keberhasilan proses pembelajaran, karena dengan keteladanan itu, peserta didik dengan mudah akan mengikuti setiap arahan yang dilakukan oleh tenaga pendidik. Pola ini pula yang menjadi strategi dasar keberhasilan pendidikan yang telah dijalankan oleh Nabi. Sehingga, proses KBM berjalan dengan baik, kondusif serta mudah dipahami.

Selain itu, konsep pembelajaran lain yang selalu diterapkan oleh Nabi adalah menciptakan lingkungan dan suasana belajar yang nyaman. Strategi yang dilakukan beliau adalah melakukan proses penjernihan jiwa dan pikiran peserta didik, dengan cara itu, peserta didik akan merasakan ketenangan pada jiwanya, serta meliki tingkat konsentrasi yang tinggi.

Sebelum memberikan pelajaran, sering kali Nabi Muhammad SAW, meminta para sahabat untuk tenang dan fokus dengan menarik perhatian mereka. Beliau juga memotivasi para sahabat agar memperhatikan sesuatu yang beliau ajarkan. Begitulah strategi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam menciptakan suasan belajar yang nyaman (Hal. 156).

Kehadiran buku terbitan Diva Press ini menjadi fajar baru bagi dunia pendidikan kita, utamanya para guru yang selama ini dihadapkan pada problematika pembelajaran di kelas. Strategi mengajar Rasulullah yang diurai dalam buku setebal 216 halaman ini dimungkinkan mampu menjadi spirit revolusi belajar bagi setiap tenaga pendidik yang ada di negeri ini. Tak hanya menginspirasi, namun seluruh konsep mengajar Nabi yang diulas secara detil di buku ini juga mampu menjadi solusi bagi seluruh guru di tanah air.
Harian Analisa




Membongkar Skenario Politisasi Sejarah Dunia

Judul        : Kebohongan Sejarah Yang Menggemparkan
Penulis        : Majdi Husain Kamil
Penerbit    : Mizania
Cetakan    : 1. 2015
Tebal        : 514 Halaman
ISBN        : 978-602-1337-75-2
“Kedustaan tak ubahnya bola salju yang makin membesar ketika menggelinding” (Aforisme Rusia).

Sejarah pada dasranya lahir sebagai pelajaran dan referensi bagi generasi berikutnya, maka autentisitas kebenaran sejarah sudah pasti menjadi keharusan dalam akselerasi dan perkembangan sejarah itu sendiri, demi memberikan penjelasan utuh tentang sesuatu yang telah terjadi jauh sebelum generasi kontemporer itu lahir.

Namun siapa sangka, tidak semua sejarah dunia yang telah tertulis rapi dalak museum kehidupan merupakan kebenaran muthlak yang layak menjadi bagian penting perjalanan generasi masa kini, banyak peristiwa masa lalau yang secara sengaja dibolak-balikkan dari fakta demi sebuah kepentingan konspiaratif kelompok atau golongan tertentu.

Itu yang akan kita temukan dalam penelasan reporatatif ilmiah hasil tulisan Majdi Husain Kamil dalam buku berjudul Kebohongan Sejarah Yang Menggemparkan Dunia, di mana hampir dari rentetan sejarah penting yang pernah terjadi dbelahan dunia ini merupakan hasil rekayasa sekelompok orang untuk menjustifikasi sejumlah kepentingan, atau paling tidak terdapat penulisan sejarah yang sengaja dirubah dari fakta yang sesungguhnya.

Buku yang dihasilakn dari studi rieset mendaam ini secara detil menunjukkan berbagai kedustaan besar yang sangat berbahaya dalam perjalanan sejarah dunia, mulai dari persolan sosial ekonomi, budaya hingga agama. Termasuk pembahasan seputar kebohongan kaum zionis. Kesemua itu merupakan bentuk konspirasi kelas kakap demi satu tujuan yang telah mereka siapkan sebelumnya.

Teori Kosmogoni atau asal susul kemunculan alam semesta dan penciptaan manusia menjadi pembahasan pemula dalam buku ini, kedustaan sejarah yang dibomingkan dalam peristiwa ini adalah seputar Darwinisme, di mana manusia diklaim merupakan hasil penyepurnaan dari sebuah mahluk bernama kera, yang kemudian mengalami penyempurnaan melaui tahapan-tahapan evolusi.

Yang tak kalah menariknya, buku ini juga memaparkan tentang kedustaan besar bangsa Amerika Serikat (AS), dalam konteks ini setidaknya bisa dbuktikan dari pristwa 11 September. Daalm peristiwa tersebut, dunia telah dibelok pada satu persepsi tentang siapa dibalik peristiwa tersebut, alhasil secara spontan klaim pun terarah pada kelompok muslim yang data faktualnya belum bisa diterima oleh akal, logika dan analisis ilmiah kala itu.

Ada kalangan yang menegaskan bahwa peristiwa itu 100 persen rekayasa zionis Amerika, sembari memaparkan berbagai bukti. Kalangan lainnya menyatakan Washington telah bterjebak, sebagaimana peperangan di Afaganistan dan Irak yang seolah-olah menjadi bagian dari strategi Al-Qaeda untuk melengserkan Amerika dari puncak konstilasi pemerintahan dunia (Hal. 246).

Narasi kebohongan yang mencuat dalam peristiwa ini adalah kecepatan klaim pihak bersalah ditengah kontroversi siapa di balik semua itu. Inilah yang belakangan kemudian menjadi alasan kuat tentang indikasi kedustaan dan by design dalam peristiwa yang cukup menggemparakan dunia kala itu.

Selain itu, provokasi atas nama agama juga menjadi bagian penting dari rentetan propaganda kaum barat untuk melemahkan geakan Islam. Bahasan ini rupanya menjadi ulasan khsusu dalam buku terbitan Mizamia ini. Karena kebohongan yang satu ini begitu massif didistribusikan secara luas untuk mendevormasi citra Islam. Semisal kebohongan yang meyebutkan bahwa islam disebarkan dengan tajamnya pedang, intimidasi, dan bemtuk kekerasan lainnya (377-378).

Kemampuan pembaca Menelisik sejumlah kebohongan sejarah lainnya yang pernah terjadi di dunia ini rupanya menjadi target khsuus dari lahirnya buku ini, karena disadari atau tidak banyak sekali kebohongan sejarah yang terabaikan oleh dunia sehingga seakan-akan semua itu benar. Buku ini menurut penulisnya adalah konklusi perjalaan studi investigatif eksternal terhadap dokumen-dokumen sejarah, guna menelisik kebohongan-kebohongan terbesar yang ditawarkan dokumen-dokumen tersebut.


Pesan Suci di Balik Catatan Selfie

Judul        : Selfie Stories
Penulis        : Dewi Rieka, dkk.
Penerbit    : Mizan
Cetakan    : 1. 2015
Tebal        : 151 Halaman
ISBN        : 978-602-0851-28-0
Akhir-akhir ini, selfie menjadi sesuatu yang ngetrend di tengah-tengah masyarakat kita, utamanya bagi kalangan muda mudi, aktifitas tersebut seakan menjadi wabah yang terus meluas hingga ke pelosok-pelosok desa. mudahnya sarana untuk melakukan aktifitas tersebut, berupa smartpon yang dilengkapi dengan koneksi internit dengan harga terjangkau rupanya menjadi salah satu pemicu menjamurnya gerakan selfie.

Secara harfiah, selfie merupakan aktifitas memotret diri sendiri atau narsisme, dan kemudian dilanjutkan dengan proses penyebarluasan foto tersebut melalui koneksi interknit yang sudah tersedia pada smartpon yang dijadikan sarana pemotertan tersebut. Maka terseberlah foto narsis itu melalui ragam media social yang juga sudah tersedia pada alat eletronik tersebut.

Lantas apa substanasi selfie? Benarkah selfie tak lebih hanya merupakan aktifitas narsisme yang tak ada nilai positifnya dalam kehidupan ini?. Buku catatan Dewi Rieka, dkk. ini menjadi inspirasi baru bagi kita semua, bahwa selfie ada kalanya menjadi media untuk megabadikan sejarah yang lahir dari kehidupan manusia, selfie juga bisa mengabdikan sebuah tragedi kemanusiaan yang layak untuk selalu dikenang umat manusia.

Catatan-catatan ringan dalam buku ini seakan membalik persepsi kita semua tentang hakikat selfie yang kita anggap selama ini tak lebih hanya seputar uforia, semisal ramai-ramai reunian dengan teman lama, atau perayaan ulang tahun dan semacamnya. Prasangka seputar selfi semacam itu justru menjadi salah ketika kita mecermati seluruh catatan dalam buku ini. Karena ternyata, dibalik sebuah foto selfie ada banyak kisah inspiratif yang layak untuk kita teladani.

Seperti penuturan Taufiq Firdaus Alghifari, tentang “Toga, perjuanganku Mengenakannya”, cerita ini tentang perjuangannya dalam meraih gelar sarjana yang dilalui dengan segala pait getirnya kehidupan.  Kisahnya bermula sejak tahun 2010 silam, pertama kali ia merasakan bangku kuliah, keterbatasan ekonomi yang dia miliki seakan tak meyakinkan dirinya bahwa saat itu sudah menjadi mahasiswa.

Namun demikian,  itu bukan penghalang baginya, dia rela tidak  makan demi mengalikan jatah makannhya untuk biaya kuliahnya, begitu dia lakoni selama kurang lebih 4 tahun selama menjadi mahasiswa. Hingga akhirnya, dia berhasil menyelesaikan kuliahnya, maka berfoto dengan toga, menjadi sejarah pentig dalam kidupan seorang Taufiq Firdaus Alghifari.

Aku sempat mendapatkan teguran dari teman-teman-teman pada tahun pertama perkuliahan karena melihat cara hidupku sebagai mahasiswa. Aku membatasi makan dalam sehari, dan kadang hanya dengan nasi plus kecap, sambel yang selalu kubeli tiap bulan dengan lauk-pauk gorengan. Ini bukan karena aku pelit pada diriku sendiri, tetapi sejatinya memang keuanganku pada awal-awal kuliah itu sangat tidak cukup (Hal. 42).

Kisah inspiratif lainnya dibalik sebuah foto selfie diceritakan oleh Ubaidillah, dia bertutur tentang kekokohan Menara masjid Baitur Rahman Banda Aceh yang ternyata menjadi saksi gemuruh bencana alam tsunami pada tahun 2004 silam. Melalui foto itu dia hendak mengajak umat manusia untuk tidak pernah melupakan tragedi kemanusiaan yang telah merenggut juaan jiwa. Termasuk tentang keagungan yang maha Kuasa dengan membuktikan kekokohan Rumah-Nya yang tak tersentuh oleh tsunami. Maka menara yang dijadikan backgroun selfienya itu menjadi symbol keagungan Allah SWT.

Menara ini tetap kokoh. Dia pula saksi konflik dan tsunami aceh. Menyaksikan referendum Aceh pada tahun 1999. Menemani ketakutan kami  saat tsunami pada 2004 silam. Dan beragam kisah lain yang tidak bisa diucapkan olehnya (Hal. 139).

Seperti fajar pagi yang begitu indah, inspirasi dibalik foto selfie dalam buku ini seakan menghentakkan lamunan kita tentang persepsi miring seputar selfie itu sendiri. Ternyata, banyak kisah inspiratif yang sangat bernilai positif dari sebuah foto selfie, dan cerita-cerita yang dituang dalam buku ini menjadi saksi bahwa selfie juga bisa menjadi “Ilmu” bagi kehidupan manusia.


Kidung Hikmah Hadis Sahih Inspirasi Bulan Suci

Judul        : Al-Hikam Al-Nabawiyah
Penulis    :     Samih Abbas
Penerbit    : Zaman
Cetakan    : 1. 2016
Tebal        : 302 Halaman
ISBN        : 978-602-1687-91-8
Betapa banyak orang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga, dan banyak orang shalat hanya mendapatkan lelah dari shalatnya (HR. Al-Baihaqi dan ibn Khuzaimah)

Begitulah salah satu petikan hadis Nabi yang diulas dalam buku berjudul Al-hikam Al-Nabawiyah karya Samih Abbas. Buku ini menjadi bagian penting dari pergerakan umat islam utamanya dalam merefleksi substansi ibdah yang dilakukan selalma ini. Pesan penting yang tetuang dalam buku ini adalah resolusi kesempurnaan ibadah, agar ibadah tidak hanya menjadi simbol ritual keagamaan semata.

Ibadah puasa dan shalat menjadi salah satu contoh yang diulas dengan begitu mendalam, sehingga digambarkan betapa puasa hanya melahirkan lapar dan dahaga,  sedangkan shalat hanya melahirkan lelah dari shalat itu sendiri. Dengan demikian, ada roh ibadah yang tidk bisa ditangkap dari setiap ghirah pelaksanaan ibadah itu sendiri.

Buku ini hendak menyodorkan sesuatu yang lebih penting dari sekedar menjalankan ritual, yaitu substansi dari pelaksanaan ritualitas keagamaan itu sendiri. Apa dan bagiaman ritual itu bisa memiliki imlikasi ibadah yang nyata, itu yang menadi salah satu isi dari kidung-kidung hadis nabi yang diurai dalam buku terbitan Zaman ini. Termasuk juga di dalamnya adalah ajaran tentang bagaimana menjadi hamba yang baik, hamba yang benar dan hamba yang mendapat ridla dari sang Khaliq.

Ada sekitar 146 hadis yang dijabarkan dalam buku setebal 302 halaman ini, semuanya memuat untaian hikmah yang diharapkan menjadi spirit bagi penyempurnaan ibadah umat manusia, termasuk penghambaan yang total atas Tuhan yang maha kuasa. Buku ini membahas multi tema dalam kehidupan ini, hampir semua segmen kehidupan tercover dalam kumpulan hadis-hadis sahih ini.

Dari Fadhalah ibn Ubaid ra., ia mendengar Rasulullah saw bersabda, “beruntunglah orang yang mendapat hidayah Islam. Hidupnya cukup sesuai kebutuhan dan dia menerimanya dengan kanaah {HR. Ahmad dan At-Tirmidzi}.

Hidup sederhana adalah hidup yang cukup. Hadis ini mendorong kita untuk rida dan kanaah menerima kondisi sederhana. Hadis ini menjelaskan keutamaan seorang muslim yang menerima kehiduan dunianya demi mendapatkan surga abadi. Orang yang berada dalam keadaan ini,  maka dia telah mendapatkan ketenangan hidup di dunia, sekaligus mendapatkan masa depan akhirat yang baik yakni surga (Hal. 53).

Salah satu ajaran islam yang sangat penting untuk dipraktikkan umat manusia adalah kelapangan hati untuk menerima apa adanya, sesuatu yang jelas telah menjadi anugerah dari yang maha kuasa, sekecil dan sesederhana apa pun. Maka dalam uraian di atas, kemampuan manusia untuk bersifat kanaah, berani dan tegar mejalani apa yang dimilikinya merupakan hidayah yang diberikan-Nya kepada umat islam, meski tak banyak orang yang bisa mendapatkan itu semua.

Barangkali bukan  sesuatu yang mudah, bahkan dibilang sangat sulit. Apalagi di tengah derasnya godaan materialistik yang menggebu-gebu. Kanaah,  menerima apa adanya adalah sesuatu yang sangat berat untuk bisa dipraktikkan. Namun demikian bukanlah sesutau yang tidak mungkin selagi manusia mau untuk berusaha dan mengamalkannya. 

Seandainya jika seseorang memiliki satu lembah emas, dia tentu lebih senang jika memiliki dua lembah. Dan tidak da yang bisa menutup mulutnya kecuali tanah. Allah menerima tobat hamba yang bertobat {HR Muttafaq Alaih}. (Hal. 204).

Beribadah kepada Allah adalah sebuah keharusan bagi umat islam, godaan di sani sini adalah sebuah kenyataan. Maka manusia perlu untuk selalu menjernihkan hati dan pikiran bahwa sesungguhnya ibadah adalah jalan untuk menggapai ridlanya, agar manusia selalu termotivasi untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas ibadah itu sendiri. 

Buku ini menjadi inspirasi bulan Ramadan, karena kita tahu Ramadan adalah bulan ibadah, banyak ibadah yang pahalanya dllipatgandakan pada bulan tersebut. Kumpulan hadis yang dirangkum dalam buku ini menjadi solusi kesempurnaan ibadah utamanya dalam menjalani ritual bulan suci, kendati demikian, buku ini layak dibaca sepanjang masa



Kisah Inspiratif Ketokohan Khalifah Umar

Judul        : 150 Kisah Umar ibn Al-Khatthab
Penulis        : Ahmad Abdul Al-Thanthawi
Penerbit    : Mizania
Cetakan    : 1. 2016
Tebal        : 144 Halaman
ISBN        : 978-602-418-013-3
Bulan Ramadlan adalah salah satu bulan yang sangat diagungkan oleh segenap mahluk di alam raya ini, konon bulan ke-sembilan dalam hitungan kelnder  hijriyah ini tak hanya dimuliyakan oleh umat manusia, namun juga oleh seluruh mahluk di jagad ini.

Pelajaran beharga yang bisa kita petik dari bulan agung ini adalah syiar ke islaman yang nyaris menggemma di seluruh penjuru bumi. Manusia selalu mengiringi bulan penuh berkah ini dengan rangkaian kegiatan ubudiyah, baik yang bersifat ritual, termasuk yang bersifat sosial.

Salah satu model syiar keislaman yang kerap kita temukan selama bulan suci adalah kegiatan taushiyah ringan yang disampiakan di berbagai media dan tempat, seperti kuliah tujuhmenit (kultum), hikmah ramadan, termasuk kisah-kisah inspiratif perjalan tokoh-tokoh islam dari masa ke masa. Seperti kisah nabi, sahabat, termasuk khalifah.

Buku berjudul 15o kisah Umar ibn Al-Khaththab ini tampil mengurai sisi perjalanan seorang khalifah Umar dari berbagai deminsi kehidupannya, mulai dari masa mudanya, hingga masa-masa kepemimpinnaya sebagai khalfah. Semua diramu dengan menggunakan bahasa yang sangat dasar sehingga mudah dipahami.

Ratusan kisah kholifah Umar yang diulas dalam buku terbitan Mizania ini tentu sngat cocok untuk dijadikan refernsi mutiara hikmah selama bulan suci ini, selain mengupas sisi perjalan spiritualnya di bulan suci, ada bnyak kisah hikmah lainya yang sangat isnpiratif dan layak dijadikan rujukan keilmuan oleh masyarakat muslim saat ini.

Seperti kisah ketegasan umar kepada keluarganya, tentang aturan yang dibuat dan diberlakukan untuk umatnya, ternasuk unuk keluarganya. Kisah ini tentu sangat menarik, ditengah maraknya praktik kolusi di negeri ini yang nyaris mencabik martabat hukum itu sendiri. Namun Umar memiliki ketentuan lain dalam konteks hukum kala itu, di mana jika ada keluarganya yang berani melanngar aturan yang telah dibuat, maka hukumannya berlipat ganda dari hukuman yang berlaku untuk ummatnya.

Demi Allah, tidak ada seorang pun diantara kalian yang dibawa kepadaku karena telah melanggar larangan yang aku buat, melainkan aku akan melipatgandakan hukuman untuknya karena kedekatan hubungannya dengnaku. Maka, siapa di antara kalian ingin melanggar, silahkan. Dan barang siapa tidak akan mlanggar  pun silahkan (Hal. 79).

Umar adalah sosok tokoh muslim yang kita kenal sangat tegas dalam menjalankan amanah Allah, dia tidak segan-segan dalam menjalankan aturan, tanpa melihat siapa yang dia hadapi. Keluarganya pun diancam akan dihukum sekeras-kerasnya bila mana dketahui melanngar aturan yang telah dia buat. Karena baginya aturan berlaku untuk semua. Tidak ada kolusi dan nepotisme.

Sosok ketokohan Kalifah Umar ini layak untuk kita angkat kembali, khsusunya di momentum bulan suci ini. Terutama dalam konteks ketegasannya dalam mejalankan aturan tanpa pandang bulu. Buku ini sangat pas untuk dijadikan rujukan syiar selama bulan suci ini. Khsusunya ketika acara-acara tausiyah, di masjid, mushlla dan lain sebaginya.

Buku setebal 172 halaman ini secara detil membedah berbagai sisi sang kholifah. Kisah-kishanya dpat menggugah ingatan serta pengetahuan kita tentang sejarah kepemimpinan pada masa silam, sehingga dapat menjadi cerminan pada keiudpan saat ini. Kisah Umar dalam buku ini layak menjadi isnpirasi Ramadlan tahun ini. Selamat membaca.


Referensi Kisah Hikmah Inspirasi Ramadan

Judul        : 150 Kisah Abu Bakar Al-Shiddiq
Penulis        : Ahmad Abdul Al-Thanthawi
Penerbit    : Mizania
Cetakan    : 1. 2016
Tebal        : 161 Halaman
ISBN        : 978-602-418-011-9
Tidak terasa, bulan suci ramadlan kembali tiba. Umat islam di seluruh penjuru bumi tentu menyambutnya dengan hati gembira. Lantaran bulan yang satu ini diyakini menjadi bulan penuh hikmah, ampunan, serta bulan penuh rahmat.

Salah satu kegiatan unik dan bermakna di bulan suci adalah semarak syiar keislaman yang digemakan dari berbagai media, seperti masjid, mushalla, layar kaca, media eletronik termasuk surat kabar. Semua mengusung identitas syiar dan mengajak kebaikan untuk seluruh umat manusia.

Kuliah tujuh menit (kultum) misalnya, hampir disemua media kita menemukan segmen itu, termasuk kultum dan mutiara hikmah di masjid dan mushallah. Tema yang diusung pun beragam, mulai dari kisah perjalanan para nabi, sahabat dan lain sebagianya. Termssuk kisah perjalanan tokoh-tokoh muslim dari bebagai lintasan masa.

Salah satu referensi yang layak dijadikan rujukan untuk kegiatan syiar hikmah di bulan suci ini bisa kita petik dari buku berjudul 150 kisah Abu Bakar Al-Shiddiq. Buku ini secara detil mengulas berbagai sisi pejalanan kholifah Abu Bakar yang sangat inspiratif untuk menambah pengetahauan umat islam saat menjalankan ibadah puasa.

Kisah Abu bakar yang diurai dalam buku terbitan Mizania ini diambil dari berbagai sisi kehidupannya, mulai sejak menjadi sahabat Nabi, hingga menjadi kholifah, bahkan menjelang keprgiannya menghadap sang pencipta. Semua kisahnya sangat memukau dan menjadi penyejuk bagi setiap hati pembacanya.

Seperti kisah saat Abu Bakar menemui orang-orang yang telah membunuh anaknya sendiri. Ada sesuatu yang luar biasa yang dia tunjukkan kepada orang-orang, dan justru itu semua di luar nalar logika manusia biasa. Ketika Abu Bakar bertemu dengan pembunuh anaknya, reaksinya bukan malah membalas dendam atau minimal mengancamnya, malah dia berterimakasih kepada sang pembunuh tersebut.

Ketika mereka telah datang, Abu Bakar bertanya. “Apakah ada diantara kalian yang mengenal panah ini”?. Lalu Sa’id ibn Ubaid berkata, “Aku yang membuatnya dan melepaskannya”. Kemudian Abu Bakar berkata, “panah inilah yang telah membunuh Abdullah, anakku. Segala puji bagi Allah yang memuliakannya dengan tanganmu (dengan mati syahid) dan tidak menghinakanmu dengan tangannya (kau mati dalam keadaan kafir) dan Allah member kekuasaan pada kalian berdua (Hal. 76).

Kisah lainnya adalah seputar kedermawanan Khalifah Abu Bakar, di mana dia selalu memberikan sesutu yang berharga kepada orang-orang yang membuthkan. Harta yang diberikan Abu Bakar jelas merupakan harta pribadinya. Tidak pernah Abu Bakar memberikan seuatu di luar harta yang memang miliknya sendiri. Kecuali kegiatan yang memang bersifat kenegaraan.

Abu Bakar membeli kuda, senjata dan unta untuk dipergunakan di jalan Allah SWT. Dia pun setiap tahun membelikan beberapa potong pakaian yang didatangkan dari desa, lalau dibagikannya kepada para janda penduduk kota Madinah pada musim dingin. Jumlah harta Abu Bakar mencapai 200 dirham yang kemudian dia bagikan di jalan kebaikan (Hal. 136).

Umar ibn Al-Khaththab pernah mengurusi seorang perempuan tua renta dan buta yang tinggal di pinggiran kota Madinah. Dia memberinya minum dan membantu keperluan lainnya. Pada hari berikutnya, dia mendapati seseorang telah mendahuluinya, dan telah mengurusi keperluan perempuan tua dan buta itu. Karea penasaran, akhirnya Umar mencari tahu siapa orang itu dengan mendatanginya lebih awal, teryata orang itu adalah Abu Bakar, yang sat itu menjabat sebagai kholifah (Hal. 137-138).

Tiga kisah ketokohan Abu Bakar di atas hanya sebagian dari ratusan kisah lainnya yang kesemuanya sarat dengan hikmah. Buku ini mengurai sepenuhnya kisah perjalanan kholifah pertama tersebut. Dalam buku ini pula dijabarkan beberapa peristiwa penting perjalanan islam dalam masa kepemimpian sang Abu Bakar.

Bulan suci Ramadhan tahun ini akan semakin terasa keistimewaanya  jika dilengkapi dengan bacaaan yang penuh hikmah ini. Buku ini layak menjadi rujukan syiar, terutama dalam momentum bulan suci ramadlan tahun ini. Buku kisah Abu Bakar ini mengungkap keistimewaan kholifah pertama umat islam serta pergulatannya dalam menyebarkan Islam di tengah tengah masyarakat jahiliyah.


dimuat di harian Duta Masyarakat

Siraman Rohani Inspirasi Bulan Suci

Judul        : Bila Doa Tal Terjawab
Penulis        : KH. Zainuddin, MZ
Penyunting    : Cecep Romli
Penerbit    : Noura Book
Cetakan    : 1. April 2016
Tebal        : 290 Halaman
ISBN        : 978-602-385-083-9
Peresensi    : Ahmad Wiyono
Bulan ramadan identik dengan bulan suci, umat islam meyakininya sebagai saah satu bulan yang penuh dengan sejuta keistimewaan. Lantaran di dalamnya sarat dengan sejuta hikmah, ampunan serta kasih sayang-Nya.

Salah satu karakteristik bulan suci ramadlan adalah ghirah dakwah dan syiar keislaman yang terus menggemma sepanjang waktu. Bisa kita lihat bagaimana media eletronik dan televisi hampir sepanjang hari menyajikan program dakwah yang bertemakan bulan suci atau pun syiar keislaman lainnya. Termasuk juga surat kabar dan sosial media yang juga tak luput menjadi media syiar tersebut.

Buku berjudul Ngaji Bareng KH. Zainuddin MZ, Bila Doa Tak terjawab ini merupakan kumpulan mauidzah hasanah atau ceramah keagaaman yang oernah disampaikan oleh dai kondang itu dalam berbagai kesempatan. Di dalamnya mengupas sekitar tujuh tema keagamaan yang rupanya sangat pas untuk dijadikan referensi dakwah di bulan suci ini.

Selain berisi kajian keislaman yang mendalam, buku ini juga dilengkapi dengan beberapa kisah-kisah inspiratif para tokoh-tokoh muslim dari berbagai generasi, sehingga keberadaan kisah yang diurai dalam buku terbitan Noura Book ini sangat layak untuk dikonsumsi masyarakat muslim utamanya dalam momentum bulan suci seperti saat sekarang ini. Di mana kita sering mendapatkan muiara hikmah di bulan suci ini yang isinya sepuar kisah para nabi, sahabat atau tokoh muslim lainnya.

Seperti kisah Nabi Adam as, kisah perjuangan Nabi Musa as menghadapi Fir’aun, dan kisah-kisah lainnya. Dalam buku ini diulas secara detil kisah-kisah perjalanan utusan Allah tersebut. Tak hanya bernilai sejarah, namun hikmah dari perjalanan perjuangaan para nabi itulah yang dkupas mendalam, sehingga semua kisah itu bisa memberikan pengetahuan dan pelAjaran kepada siapapun yang membacanya.
Buku ini dibagi dalam dua bagian utama, di mana masing-masing bagian memiliki tema-tema tersendiri. Namun demikian secara umum tema yang diusung adalah seputar keislaman dan keimanan. Keislaman dan keimanan tersebut dirangkum dari beberapa nash dan dalil sekaligus dari kisah dan perjalanan tokoh-tokoh muslim ternama. Itulah sebabnya, buku ini sekali lagi sanat layak menjadi referensi hikmah bulan suci. Baik untuk kepentingan konsumi pribadi lebih-lebih untuk ditrasformasikan kepada khalayak publik.

Bulan Suci Momentum Bersihkan Hati
Manusia tentu memiliki sifat baik dan buruk, kedua sifat itu secara natural diproses oleh hati. maka hati yang bersih cenderung akan  berbuah kebaikan, sebaliknya hati yang kotor akan berdanpak kejelekan. nah, kondisi pada posisi yang kedua ini disebut-sebut akibat terjadi penyakit  rohani. Di mana secara kejiwaaan manusia memiliki problem yang muaranya adalah pada aspek keimanan.

Ada banyak jenis penyakit rohani yang kerap melanda manusia, seperti dengki, iri hati, tidak iklas terhadap apa yang telah diberikan Allah kepadanya, tidak sabar terhadap segala ujian yang diberikan Allah kepadanya. Termasuk di dalamnya adalah malas dalam berusaha dan beribadah kepada Allah. Semua itu merupakan bagian dari penyakit rohani yang sangat berbahaya terhadap  kualitas keislaman seseorang.
Malas berusaha, malas beribadah, adalah penyakit rohani yang ditiupakn iblis ke dalam sanubari kita. Makin tinggi nilai iman, makin berat bisikan kemalasan itu. Namun, kalau kita bentengi dengan kesadaran bahwa malas kita hari ini akan membawa penyesalan, bukan besok, bukan lusa, bukan minggu depan, bukan bulan dpan, . barangkali tahun depan, lima atau sepuluh tahun yang akan datang, bahkan pada masa depan yang paling depan di alam kubur, di alam akhirat (Hal. 77).

Penyakit rohani lainnya yang diulas dalam buku ini adalah lahirnya ketakutan akan kematian, padahal mati adalah sebuah keniscayaan. Sifat ini tentu merupakan imlikasi dari mengkaratnya sifat-sifat tidak baik yang dilakukan oleh manusia. Sehingga dia sama sekali tidak memiliki persiapan untuk keluar dari kehidupan dunia menuju kehiduan akhirat.

Hadirnya buku ihi diharapkan mampu menjadi penyejuk jiwa manusia, terutama dalam bulan suci Ramadan ini bisa dijadikan salah satu referensi untuk kembali membasuh jiwa kita sehingga bisa terhindar dari berbagai penyakit rohani yang menggangu ksucian hati manusia. Buku ini tak hanya isnpiratif, tapi juga solutif.


Dimuat di harian Kabar Madura

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons